[At-Tafkir] Berpikir Memahami Teks-Teks

[At-Tafkir] Berpikir Memahami Teks-Teks

Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Telah diterangkan pada tulisan sebelumnya tentang sepuluh macam proses berpikir atau sepuluh contoh proses berpikir. Itu cukup untuk memberikan gambaran tentang proses berpikir. Semuanya, selain mencakup proses berpikir mulai dari dasar, proses berpikir pada diri seseorang, proses berpikir melalui pengindraan, dan proses berpikir melalui pendengaran, juga mencakup proses berpikir untuk memahami berbagai teks, yaitu proses berpikir tentang apa yang dibaca.

Namun, proses berpikir tentang teks yang dibaca membutuhkan pembahasan khusus dan perhatian tersendiri karena membaca saja tidak akan mewujudkan proses berpikir. Oleh karenanya, haruslah diketahui cara melangsungkan proses berpikir pada berbagai teks ketika seseorang membaca teks.

Ini karena membaca dan menulis merupakan sarana berpikir, bukan berpikir itu sendiri. Betapa banyak orang yang membaca suatu teks, tetapi mereka tidak memikirkannya. Juga betapa banyak orang yang membaca dan berpikir, tetapi proses berpikirnya tidak lurus dan tidak bisa memahami pemikiran yang diungkapkan oleh kalimat yang ada.

Dari sini, merupakan kesalahan kalau seseorang menyangka bahwa mempelajari cara membaca dan menulis akan dapat mendidik manusia atau membangkitkan umat. Oleh karenanya, adalah salah jika ada perhatian untuk menghilangkan buta tulis dan buta huruf, dengan tujuan untuk mendidik umat.

Juga suatu kesalahan mengerahkan segenap kemampuan untuk menghapuskan buta tulis dan buta huruf karena ingin membangkitkan suatu bangsa atau umat. Hal ini dikarenakan membaca dan menulis tidak akan memberikan apa-apa kepada akal.

Membaca dan menulis juga tidak akan membangkitkan dorongan apa pun terhadap jiwa dan akal untuk melakukan proses berpikir. Ini karena proses berpikir diwujudkan oleh fakta dan informasi, sedangkan bacaan bukanlah suatu fakta yang bisa dijadikan berpikir, juga bukan informasi yang bisa digunakan untuk menafsirkan fakta. Dengan demikian, bacaan tidak ada nilainya dalam berpikir.

Bacaan hanyalah ungkapan dari pemikiran. Dengan hanya membaca, tidak akan terwujud pemikiran dalam benak dan tidak akan dapat membangkitkan proses berpikir.

Bacaan hanya ungkapan pemikiran. Jika seorang pembaca bisa memahami ungkapan tersebut, maka pada dirinya akan terdapat pemikiran karena kemampuannya yang baik dalam memahami ungkapan, bukan karena aktivitas membacanya. Jika ia tidak mampu memahami bacaan dengan baik, maka pada dirinya tidak akan terwujud pemikiran, meskipun ia telah membacanya selama berjam-jam atau bahkan bertahun-tahun. Oleh karena itu, harus ada pembahasan mengenai proses berpikir tentang berbagai teks dan bagaimana cara memahami teks.

Teks tertulis yang paling penting ada empat macam, yaitu teks sastra, teks pemikiran, teks hukum, dan teks politik. Berpikir tentang masing-masing teks tersebut, yakni memahaminya, berbeda satu sama lain, meskipun seluruhnya berlangsung berdasarkan satu metode, yaitu metode rasional.

Di sini tidak disebutkan teks-teks ilmiah (an-nushush al-‘ilmiah, scientific texts) karena teks tersebut boleh dikatakan telah menjadi teks yang khusus bagi para pakar ilmu eksperimental dan nyaris tidak diperhatikan oleh yang lainnya. Sedangkan, keempat teks tersebut senantiasa disampaikan kepada seluruh manusia dan setiap orang dimungkinkan memahaminya, jika sarana-sarana untuk memahaminya mudah didapatkan. [MNews/Rgl]

Sumber: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berpikir (At-Tafkir)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *