[Kabar] Aktivis Muslimah Memberikan Tiga Catatan Seputar Film Barbie

[Kabar] Aktivis Muslimah Memberikan Tiga Catatan Seputar Film Barbie

Muslimah News, INTERNASIONAL — Film Barbie yang dirilis secara global pada Juli 2023 meraih prestasi gemilang dalam seminggu penayangannya di bioskop.

Film yang disutradai oleh Grete Gerwig itu merajai box office internasional dengan pendapatan sekitar 500 juta dolar AS atau setara Rp7,54 triliun.

Tiga Catatan

Aktivis muslimah Iffah Ainur Rochmah memberikan tiga catatan seputar film Barbie ini. “Setidaknya saya mencatat ada tiga hal sebagai poin penting untuk kita sadari sebagai seorang muslimah,” tuturnya dalam acara bertema “Barbie Syndrome & Feminisme, Mendobrak Standar Baku Citra Perempuan Cantik?”, Jumat (28-7-2023).

Pertama, sebutnya, munculnya sindrom Barbie, yaitu pandangan bahwa kesuksesan dan kecantikan perempuan diwujudkan dalam sosok Barbie. “Ini adalah pemikiran dan nilai buatan sistem barat yang banyak memunculkan problem,” tukasnya.

Di dunia barat, lanjutnya, sindrom Barbie ini menjangkiti banyak perempuan dan membuat perempuan tersebut melakukan hal-hal konyol dan tidak masuk akal. Ia mencontohkan, ada orang yang tidak mau makan makanan bernutrisi karena khawatir kelebihan berat badan sehingga tidak secantik Barbie.

“Nah, sindrom Barbie ini memang menimbulkan persoalan, dan persoalan ini sesungguhnya adalah persoalan yang lazim terjadi pada mereka-mereka yang mengadopsi pemikiran, nilai, dan sistem buatan manusia. Semua sistem buatan manusia selalu akan menampakkan cacat,” kritiknya.

Saat banyak penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa sindrom Barbie ini berbahaya, ucapnya, mereka mengambil pemikiran buatan manusia lainnya sebagai antitesa, seperti yang tecermin dalam film Barbie ini.

“Film Barbie ini seolah-olah menghadirkan gambaran feminis, di mana di dalam film tersebut konon disebut bahwa sosok Barbie itu tidak hanya cantik secara fisik tapi juga memiliki banyak keahlian-keahlian,”cetusnya.

Menurutnya, Barbie dalam film tersebut dicitrakan bukan sebagai seorang perempuan yang lemah yang hanya beraktivitas di sektor domestik,  tetapi bisa menjadi seorang pilot, menjadi seorang yang sangat penting di perusahaan, menjadi seorang presiden. “Barbie dalam film ini adalah Barbie yang punya jati diri berbeda dengan Barbie yang sebelumnya,” simpulnya.

Perlawanan sindrom Barbie dengan menancapkan ide feminis, dinilai oleh Iffah sebagai bentuk eksploitasi perempuan dalam bentuk lain. “Ini menegaskan bahwa pemikiran, nilai, dan sistem buatan manusia senantiasa mengandung cacat dan tidak mampu menjadi solusi,” tandasnya.

Bukan Solusi

Catatan kedua, menurut Iffah, feminisme sebagai antitesis atau simbol perlawanan terhadap sindrom Barbie bukan jalan keluar bagi masyarakat barat atau solusi problem perempuan di dunia barat.

“Feminisme adalah ide yang lahir dari pemberontakan terhadap tata kehidupan sosial dan politik di dunia barat. Feminisme, sebuah konsepsi yang menjadi semacam balas dendam atas ketidakadilan perlakuan dunia barat terhadap kaum perempuan atau terhadap mereka-mereka yang dianggap memiliki posisi marginal, terdiskriminasi. Mereka memiliki cita-cita fifty-fifty planet yang perannya diisi laki-laki 50%, perempuan 50%,” bebernya.

Ide fifty-fifty planet ini menurut Iffah merupakan ide yang bertentangan dengan fitrah manusia, dan bukan solusi bagi persoalan perempuan.

“Konsepsi ini tidak lahir dari pemahaman yang utuh dan objektif terhadap persoalan manusia, tapi hanya ingin melepaskan kaum perempuan dari kondisi tertindas, dari kondisi tidak mendapatkan kesempatan, dan memberikan kebebasan kepada perempuan untuk memiliki semua yang bisa dimiliki oleh laki-laki, bahkan termasuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan secara fitrah,” urainya.

Iffah menilai, nilai kebebasan yang dituntut feminisme itu terbukti melahirkan banyak sekali penyimpangan-penyimpangan perilaku yang menghasilkan problem-problem baru.

“Ini tidak hanya mengena kepada mereka yang beragama Islam, bertentangan dengan syariat Islam, tapi kerusakan-kerusakan itu niscaya juga mengena kepada masyarakat di dunia barat. Betapa banyak kaum perempuan di Barat yang menjalani kehidupan berdasarkan feminisme atau keadilan gender mereka justru tidak mendapatkan kebahagiaan,” ulasnya.

Sistem Allah

Dalam pandangan Iffah, sistem yang bisa memberikan hak-hak perempuan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki, hanyalah sistem dari Allah.

“Sindrom Barbie hanya satu di antara banyak sekali problem yang lahir dari pemikiran salah dan konsepsi rusak buatan manusia. Sementara itu, Islam memberikan penjelasan kaum perempuan akan memperoleh kebaikan-kebaikan,” bandingnya.

Islam, lanjutnya, tidak mengekang kaum perempuan, Islam juga tidak memberikan kebebasan kepada perempuan sehingga bebas melakukan apa saja yang bisa merusak dirinya sendiri.

“Islam yang bersumber dari Allah Swt. mendudukkan manusia secara adil karena Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi manusia termasuk bagi perempuan,” tegasnya.

 Iffah menjelaskan bahwa Allah memberikan tanggung jawab kepada perempuan untuk menjadi Ibu, menjadi sosok yang melahirkan generasi penerus peradaban Islam. Oleh karena itu, jelasnya, kaum perempuan hari ini harus menampilkan jati dirinya sebagai sosok manusia-manusia yang punya kekuatan berdasarkan ketakwaan, dan memilih peran berdasarkan ketundukannya kepada Allah.

“Ketaatan dan ketundukan itu tidak menunjukkan kelemahan perempuan, justru menunjukkan kemampuan perempuan untuk mengambil yang baik dan membuang yang buruk,” tukasnya.

Dengan itu, Iffah yakin, perempuan bisa mengendalikan hawa nafsunya, bisa menundukkan keliaran berpikirnya untuk taat kepada aturan Allah sehingga tercipta harmonisasi antara laki-laki dan perempuan.

“Islam mewajibkan negara untuk menempatkan kaum perempuan sebagai kehormatan yang harus dijaga. Kita merindukan hadirnya kembali peradaban Islam, hadirnya kembali Khilafah ala manhaj nubuwwah sehingga tidak ada kebingungan di tengah manusia untuk mencari idola sampai-sampai mereka harus memilih apakah akan mengidolakan Barbie versi konvensional ataukah Barbie versi 2023,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *