Penulis: M. R. Kurnia
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Nabi saw. bersabda, umat Islam itu laksana satu tubuh. Satu bagian mengokohkan bagian tubuh lainnya. Setiap tubuh mempunyai darah yang menyebabkan seseorang menjadi sehat, apalagi darah yang bersih dan baik. Apabila seseorang kekurangan darah, atau bahkan kehabisan darah, ia akan menjadi lemas, tidak dapat bangkit dan beraktivitas secara normal. Kehidupannya kemudian menjadi beban bagi orang lain. Itulah sunatullah yang telah ditetapkan Allah bagi manusia.
Umat Islam sekarang dalam keadaan menderita, sakit, dan lemah. Realitas kekinian menunjukkan bahwa tubuh tersebut kini tengah dilanda sakit kronis. Hampir setiap anggota tubuh merasakan gejala penyakit tersebut. Tubuh umat Islam sampai saat ini masih terkoyak-koyak, jalannya pun terseok-seok.
Fakta menunjukkan, bagian tubuh umat paling Barat di Aljazair sejak awal 90-an diporak-porandakan. Front Pembebasan Islam (FIS) yang hendak menerapkan syariat Islam dan telah meraih dukungan suara 86% pada pemilu tahap pertama, dibumihanguskan oleh pihak militer dukungan Prancis. lronisnya, FIS yang didukung rakyat itu berubah menjadi partai yang dilarang eksistensinya oleh pemerintah Aljazair.
Kaum muslim di lrak terus didera embargo Amerika Serikat atas nama PBB. Bahkan pasca-Perang Teluk II kemarin, bayi, anak-anak, dan kaum perempuan Irak terancam kehidupannya. Bahaya hilangnya generasi (lost of generation) menanti di hadapan mereka.
Belum lagi di Iran. Sejak pemerintahan Rafsanjani, kaum muslim Iran diajak untuk sedikit demi sedikit membebek kepada gembong ideologi kapitalisme, Amerika. Lebih-lebih pada masa kekuasaan Khatami yang berkuasa sampai hari ini. Kelompok yang berpegang kepada aturan AIlah Swt.—yang mereka sebut sebagai kelompok konservatif—kian dipinggirkan.
Sementara itu, sekularisme dan sekularisasi di Turki tampak makin nyata. Bahkan pemerintah Turki merengek agar negara dan kaum muslim di sana diakui sebagai bagian dari Uni Eropa. Belum lagi di Indonesia, Pattani, Moro di Filipina, Bangladesh, Pakistan, India, dan bangsa lainnya. Semua umat Islam yang berjumlah 1,2 miliar itu tidak berdaya menghadapi satu musuh yang kecil sekalipun, seperti Israel. Di mana-mana, kaum muslim memiliki masalah. Belum lagi problematik internal kaum muslim.
Nabi pernah mengatakan kepada para sahabat,
“Bersegeralah kalian melakukan amal saleh. Sebab akan datang fitnah-fitnah Iaksana malam yang kelam. Seseorang beriman pada pagi hari, tetapi menjadi kafir pada sore harinya. Beriman pada sore hari, tetapi kafir pada pagi keesokan harinya.” (HR Bukhari).
Pada saat ini, fitnah-fitnah itu mudah dilihat. Bahkan sinyalemen Rasulullah bahwa suatu ketika umat Islam akan seperti halnya hidangan yang diperebutkan musuh-musuhnya dari berbagai penjuru sudah menemukan bukti-buktinya. Banyak sekali problematik yang dihadapi oleh kaum muslim saat ini. Bukan hanya kuantitasnya yang banyak, ragam dan kualitasnya pun makin menggunung. Di antara problematik yang kini tengah dihadapi kaum muslim adalah:
Satu, nasionalisme di didang politik. Kesatuan pemerintahan Islam (Khilafah) terakhir mulai goyah setelah dirasuki paham nasionalisme (M. Ali Juraisyah, Asalibul Ghazwil Fikri Lil ‘Alamil Islamiy, 1977). Dan memang sejak awal nasionalisme diyakini dapat memecah belah bangsa. “Sebelum saya datang ke Hijaz, saya benar-benar yakin bahwa gerakan nasionalisme Arab akan menghancurleburkan Negara Ottoman (Khilafah Turki Utsmaniy),” demikian penuturan agen intelijen Inggris T.E. Lawrence (Shabir Ahmed, The Roots of Nationalism in the Muslim World). Hal ini benar-benar terjadi. Khususnya setelah perjanjian Sykes-Picot yang menentukan batas-batas teritorial kebangsaan.
Kaum muslim dahulunya hanya memiliki satu kepemimpinan dalam Daulah Khilafah Islamiah. Lalu dipecah oleh kafir imperialis menjadi dunia Arab dan dunia Islam non-Arab. Dunia Arab kemudian dipecah menjadi 23 negara, sedangkan dunia Islam dikerat-kerat menjadi belasan negara kecil-kecil. Negara yang kecil-kecil itu pun kini tengah dipotong-potong lagi. Contoh saja, Melayu dipecah menjadi Indonesia dan Malaysia. Malaysia pun kemudian dipecah menjadi Malaysia dan Singapura. Indonesia sendiri kini tengah menghadapi pemecahbelahan. Timor Timur sudah lepas. Setelah melakukan aksi tuntutan untuk melepaskan diri, kini kita pun dihadapkan pada masalah Papua.
Sementara itu, telah terjadi demonstrasi pada siang hari tanggal 28-06-2000 ketika sebagian orang menyuarakan tuntutan Maluku merdeka. Gema Aceh merdeka bahkan bergema sebelumnya. Sementara itu, dari daerah-daerah lain pun terdengar desas-desus serupa. Menghadapi fenomena demikian, pemerintah terkesan membiarkan. Mereka terjebak dalam slogan imperialisme yang diikutinya yaitu jargon hak asasi manusia (HAM).
Umat Islam ibarat tubuh yang satu, demikian salah satu wasiat Nabi saw.. Namun, tubuh itu sekarang telah dipotong-potong. Jari-jari, sebelah kaki, tangan, sebagian telinga, dan bagian anggota tubuh lainnya telah dipaksa dipisahkan oleh kafir penjajah modern. Makin banyak sekat-sekat nasionalisme untuk memisahkan kaum muslim dengan sesama saudaranya di belahan bumi lainnya. [MNews/Rgl].
Bersambung ke bagian 2/5
Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam
