Menjaga Kewarasan Keluarga Muslim di Tengah Cengkeraman Kapitalisme

Menjaga Kewarasan Keluarga Muslim di Tengah Cengkeraman Kapitalisme

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, KELUARGA – Menyaksikan fenomena keluarga-keluarga muslim kini begitu mengiris hati. Betapa tidak, kerapuhan keluarga muslim tergambar jelas pada fakta yang terjadi saat ini. Tingkat kekerasan tinggi dan angka perceraian meningkat. Belum lagi fenomena-fenomena “ajaib” yang tidak masuk akal, seperti, ibu atau ayah yang tega membunuh anak-anaknya, kasus ayah yang melecehkan, bahkan menghamili anak kandungnya, istri yang membunuh suami atau sebaliknya, dan berbagai kasus menyedihkan lainnya.

Demikian pula yang terjadi pada generasi muda. Fenomena generasi stroberi dan mental illness yang mencuat akhir-akhir ini menggambarkan rapuhnya mental generasi hari ini. Hal ini sejalan dengan tingkah generasi muda yang seolah di luar nalar, seperti melakukan aksi-aksi berbahaya hanya demi konten, bunuh diri karena hal yang sederhana, melakukan tindakan kriminal, terjerumus pada narkoba, juga pergaulan bebas, dan lain sebagainya.

Kapitalisme dan Sekularisme Biang Masalah

Kapitalisme rusak dan merusak. Itulah sebutan yang tepat untuk sistem yang sedang mendominasi kehidupan manusia. Kapitalisme, ideologi yang menuhankan materi. Standar baik dan buruk adalah materi dan manfaat. Kapitalisme pun telah merampas dan merusak nilai-nilai kemanusiaan sehingga orang tega melakukan perbuatan yang tidak selayaknya diperbuat oleh orang yang nalurinya masih terjaga.

Orang-orang yang seharusnya melindungi, malah melakukan kejahatan, bahkan sangat frontal. Ibu yang seharusnya penuh kasih sayang pada anak-anaknya malah menyakiti, bahkan membunuh anaknya. Demikian halnya seorang ayah yang seharusnya menjadi barikade terdepan menjaga dan melindungi anak dan keluarga, justru merusak masa depan anak dengan memperkosanya, bahkan hingga hamil dan ada pula yang membunuhnya.  Sebaliknya, seorang anak tega membentak ayahnya. Ada juga anak yang memperkarakan ayah dan ibunya, padahal seorang muslim tidak selayaknya berbuat demikian.

Naluri seorang ayah atau ibu seolah telah lenyap begitu saja, demikian halnya anak. Seolah kasih sayang kepada orang tua lenyap, padahal naluri melestarikan keturunan (gharizah nau’) telah Allah ciptakan pada manusia sejak ia lahir. Seharusnya, setiap manusia terus menjaga eksistensinya sesuai tuntunan syarak.

Kapitalisme juga telah merusak sendi-sendi kehidupan manusia, menyebabkan porak-porandanya bangunan keluarga. Pernikahan adalah ikatan suci yang seharusnya dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang. Seharusnya pernikahan dijaga agar langgeng sampai maut memisahkan, ternyata hancur berantakan dan banyak berujung pada perceraian.

Bagaimanapun juga, situasi ini memang harus dihadapi oleh keluarga muslim, bahkan harus disikapi dengan benar sesuai tuntunan syariat Islam. Jangan sampai keluarga muslim terbawa arus tipu daya sistem sekuler kapitalisme yang tampak menggiurkan, padahal mengandung racun berbisa. Dibutuhkan kewarasan keluarga muslim untuk menghadapi berbagai jebakan sistem sekuler kapitalisme ini agar tidak menjadi korbannya.

Bagaimana Menjaga Kewarasan Keluarga Muslim dari Jebakan Kapitalisme?

Setiap keluarga muslim tentu sangat menginginkan kehidupan keluarganya selalu on the track, berjalan sesuai ketetapan Allah dan tidak tergerus kehidupan yang rusak. Walaupun memang bukan perkara mudah, tetapi ada beberapa upaya yang kita dan keluarga bisa lakukan agar kewarasan tetap terjaga, di antaranya:

1. Membentengi Keluarga dengan Akidah Islam

Islam mengajarkan agar menjadikan akidah Islam sebagai benteng pelindung pemikiran keluarga kita dari pemikiran-pemikiran kufur yang bertentangan dengan Islam, seperti demokrasi, sekularisme, liberalisme, dan sebagainya. Dengan demikian, akan terwujud iman yang kuat dalam diri anggota keluarga muslim. Iman yang akan melindungi keluarga kita dari berbagai budaya dan gaya hidup kufur yang rusak dan merusak, yang disodorkan sistem sekuler kapitalisme.

Keimanan yang kuat ini akan terwujud dengan meyakini dan memahami bahwa Allah adalah Al-Khalik, sekaligus Al-Mudabbir. Artinya, memahami bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan membuat aturan untuk manusia. Sebaliknya, manusia berkewajiban taat dan melaksanakan semua aturan-Nya. Oleh sebab itu, setiap anggota keluarga tidak boleh mengambil hukum-hukum yang bukan berasal dari Allah Taala.

Dengan iman yang kuat, setiap anggota keluarga akan memahami tujuan hidupnya, yaitu untuk beribadah kepada Allah Taala. Anggota keluarga tidak mudah terbujuk oleh segala sesuatu yang dilarang Allah, sehingga Allah rida kepada mereka (QS Adzariyat: 56 dan QS Al-Bayyinah: 8) dan di akhirat mendapat kebahagiaan sejati, yaitu masuk surga bersama-sama (QS Az-Zukhruf: 70—71).

2. Menjadikan Takwa sebagai Landasan Berkeluarga

Setiap keluarga harus menjadikan takwa sebagai landasan membangun keluarga sehingga penyelesaian seluruh persoalan yang terjadi dalam keluarga tersebut dikembalikan kepada Islam semata. Dengan ketakwaan kepada Allah Swt., keluarga akan tetap kukuh sekalipun berbagai gangguan berusaha meruntuhkan dan memalingkan dari tujuan berkeluarga sebagaimana yang ditentukan syariat Islam.

Ketakwaan merupakan benteng yang akan melindungi keluarga dari jebakan sistem kapitalisme yang merusak sehingga solusi setiap permasalahan tidak akan diambil selain dari ketentuan Islam. Semua tawaran solusi yang bertentangan dengan Islam pasti akan dilawan dan ditinggalkan, sekalipun dipenuhi iming-iming menggiurkan. Allah Swt. berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya dipermudah urusannya.” (QS At–Thalaq: 4).

Landasan takwa juga akan menjaga visi dan misi keluarga muslim. Sebabnya, takwalah yang akan menjaga idrak shilah billah (hubungan dengan Allah Swt., Sang Khalik) sehingga keluarga fokus mengejar rida Allah Swt. pada setiap langkahnya.

3. Menjadikan Seluruh Anggota Keluarga Terikat Hukum Syariat

Keluarga muslim akan terjaga jika setiap anggota keluarga menjadikan syariat Islam, halal dan haram sebagai standar berbuat dan menilai sesuatu karena di sanalah letak keridaan Allah. Baik atau buruk suatu perbuatan harus ditimbang sesuai ketentuan syariat, bukan karena suka atau tidak suka berdasarkan hawa nafsu.

Allah Swt., Sang Pencipta manusia yang paling mengetahui mana yang baik atau buruk bagi manusia. Sebagaimana firman-Nya, “Bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagi kalian dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal sesuatu itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. “ (QS Al-Baqarah: 216).

4. Bersandar pada Allah, Menguatkan Idrak Shilah Billah

Di tengah sistem rusak ini, hendaklah kita selalu memiliki hati dan jiwa yang tenteram, serta terjaga kewarasan kita. Mendekat selalu kepada Allah Taala agar mampu mengarahkan kecenderungan-kecenderungan kita kepada tuntunan Allah dan bisa berpikir benar.

Banyak hal yang bisa kita lakukan, di antaranya, banyak berzikir, berdoa, sedekah, berpuasa sunah, salat sunah, serta amalan sunah lainnya. Lebih baik lagi jika disempurnakan pada setiap sepertiga malam, dalam tahajud, kita curhatkan seluruh permasalahan hanya kepada-Nya. Kita akan mendapatkan pahala besar dari Allah, juga mendapatkan ketenangan.

5. Menghadiri Majelis Ilmu sehingga Paham Islam Kafah

Pemikiran dan pemahaman yang lahir dari sistem kapitalisme terus disebarkan di tengah-tengah umat dengan bahasa yang indah, padahal itu semua racun berbalut madu. Di sinilah pentingnya setiap anggota keluarga membina diri dengan pemahaman Islam yang lurus dan tsaqafah Islam. Ketika setiap keluarga muslim memahami Islam dengan benar, maka akan mampu membedakan pemikiran yang benar dan yang salah sehingga tidak mudah terjebak pada perbuatan dan tingkah laku menyimpang.

Langkah yang paling mudah untuk mewujudkan ini semua adalah dengan istikamah menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas Islam kafah, memahami Islam kafah, lalu mendakwahkannya ke tengah umat. Ini semua akan menjadi benteng kuat agar tetap waras dan teguh di jalan syariat-Nya.

6. Menjadikan Dakwah sebagai Bagian Penting bagi Kehidupan Keluarga

Untuk mewujudkan suasana takwa di dalam keluarga, mengondisikan agar semua anggota senantiasa terikat aturan Allah, dan berjalannya semua fungsi keluarga, maka perlu menjadikan dakwah atau amar makruf nahi mungkar sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari seluruh anggota keluarga. Mereka senantiasa mengajak dalam hal kebaikan dan mencegah kejahatan. Mereka pun berlomba dalam kebaikan dan mengokohkan satu dengan lainnya.

Anggota keluarga saling mendukung sebagai sebuah tim dakwah terkecil dan saling memberi nasihat. Memadukan antara tugas dalam keluarga dengan dakwah akan terasa berat jika tidak saling mendukung dan membantu. Oleh karenanya, setiap anggota keluarga harus terus saling menguatkan agar aktivitas dakwah berjalan baik. Di samping itu, saling meringankan pekerjaan di antara anggota keluarga. Ketika harus keluar rumah untuk berdakwah, maka pengelolaan rumah tangga/keluarga tidak terlalaikan. Allah Swt. berfirman, “Saling bantulah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketakwaan dan jangan saling tolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al-Maidah: 2).

7. Peduli terhadap Permasalahan Umat

Tidak bisa dimungkiri bahwa permasalahan kompleks yang dihadapi keluarga-keluarga muslim di negeri ini kini adalah buah dari penerapan sistem sekuler kapitalisme. Semua ini akan berakhir jika syariat Islam diterapkan secara kafah dalam naungan Khilafah Islamiah. Oleh karena itu, kewarasan setiap keluarga muslim akan tercapai dengan menerapkan Islam kafah di muka bumi dalam naungan Khilafah.

Demikianlah, beberapa upaya yang bisa dilakukan keluarga muslim untuk menjaga kewarasannya agar tidak tergoda dan terjebak oleh racun-racun kapitalisme yang bisa menjauhkan dari Islam, bahkan menggelincirkan ke dalam kubangan dosa. Naudzubillaahi min dzalika. Hanya saja, kewarasan ini hanya akan terwujud secara hakiki dan tetap terjaga pada kaum muslimin jika aturan Allah seluruhnya tegak di dunia ini dalam bingkai Khilafah.

Oleh karenanya, keluarga muslim harus bersatu padu, bergandengan tangan, dan melangkah bersama, berjuang demi tegaknya kembali Khilafah Islamiah. Institusi yang telah terbukti selama belasan abad lamanya mampu menjaga umat Islam, bahkan umat manusia, dalam kesejahteraan dan keberkahan, serta terhindar dari malapetaka. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

One thought on “Menjaga Kewarasan Keluarga Muslim di Tengah Cengkeraman Kapitalisme”

  1. MasyaAllah, menjaga kewarasan keluarga Muslim dari Cengkraman Kapitalis hari ini harus benar benar kita wujudkan, yaitu dengan mengaji dan mengkaji agar Sistem kufur segera lenyap dan berganti dengan sistem yang datang dari yang Maha mengatur,Al – Khaliq Al- mudabbir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *