Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, OPINI — Masyarakat dalam sistem sekuler sedang sakit. Indikasi masyarakat sakit ini bisa kita lihat dari perilaku sumbu pendek sebagai solusi menyelesaikan masalah. Contohnya, terjadi bentrokan dua kelompok massa di Tawansiswa, Kemantren Umbulharjo, Yogyakarta, pada Ahad malam (4-6-2023).
Melansir Kompas (4-6-2023), bentrokan tersebut pecah berawal dari keributan di Parangtritis, Kalurahan Kretek, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Ahad (28-5-2023) pekan lalu. Saat itu, seorang warga yang juga merupakan anggota perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dikeroyok supporter bola lantaran ia menegur para suporter yang membunyikan musik cukup keras pada tengah malam. Ahad sore (4-6-2023) sekitar pukul 17.00 WIB, di Jalan Kenari, datang ratusan orang yang disebut untuk menindaklanjuti permasalahan di Parangtritis.
Saat ini, dua kelompok yang terlibat bentrokan tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf pada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Keduanya sepakat saling berdamai dan menyudahi permasalahan.
Cermin Masyarakat “Sakit“
Aksi bentrokan yang melibatkan banyak massa kerap terjadi dalam masyarakat sekuler hari ini. Terkadang pemicunya sepele. Hanya karena emosi sesaat, masalah makin besar dan fatal. Mengapa demikian?
Pertama, sistem sekuler meniscayakan perilaku sumbu pendek, gampang marah, mudah tersulut emosi, dan baperan. Berapa banyak nyawa melayang hanya karena emosi sesaat sehingga seseorang bisa gelap mata hingga melakukan pembunuhan? Tawuran antarpelajar, bentrokan antarsuporter, pertikaian warga, hingga perang sarung yang saat ini marak di kalangan pelajar, telah menyebabkan cukup banyak korban berjatuhan, bahkan hingga meregang nyawa.
Kedua, kuatnya ikatan fanatisme golongan (asabiah). Pembelaan berlebihan terhadap kelompok sering kali menjadi pemantik keributan antarkelompok. Bahkan, ada yang rela mati demi membela dan mempertahankan kelompoknya meski pihaknya bersalah. Kecintaan berlebihan kepada kelompok ini bisa mematikan kejernihan berpikir mengenai pada siapa yang harus dibela dan disalahkan. Ketika terprovokasi, mereka mudah terpancing tanpa berpikir dampak buruknya jika terjadi kericuhan atau pertikaian.
Inilah cermin masyarakat “sakit” di sistem sekuler kapitalistik. Semua masalah seakan-akan terselesaikan dengan adu kekuatan, unjuk ketangkasan, dan duel maut antarkelompok dengan membawa senjata tajam.
Jika masyarakat sudah terpola dengan gaya hidup semacam ini, bagaimana nasib generasi masa depan? Generasi tentu akan mengalami krisis teladan, degradasi moral, dan minus role model. Lalu, bagaimana Islam membangun masyarakat yang sehat dari aspek kepribadian dan keteladanan?
Islam Membangun Kepribadian Mulia
Membangun masyarakat Islam yang berkepribadian mulia harus menyeluruh dan dilakukan sejak usia dini. Sebagaimana Rasulullah saw. membangun masyarakat Madinah yang khas, beliau saw. terlebih dahulu menyiapkan generasi sahabat yang berkarakter mulia dan memiliki keimanan yang kuat.
Begini mekanisme Islam membentuk masyarakat Islam.
Pertama, penanaman akidah Islam dalam pendidikan keluarga. Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Orang tua harus mengenalkan dan mengajarkan anak untuk membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Anak juga dibiasakan melaksanakan kewajibannya kepada Allah Swt., seperti salat, berpuasa, berinfak, dan sebagainya. Sosok Abdullah bin Zubair, misalnya, dikenal sebagai ksatria pemberani. Hal ini tidak lepas dari didikan orang tuanya, Zubair bin al-Awwam dan Asma’ binti Abu Bakar.
Kedua, penerapan sistem sosial pergaulan Islam berdasarkan syariat Islam. Di antara aturan pergaulan sosial yang akan berlaku bagi masyarakat ketika sistem Islam ditegakkan ialah larangan berkhalwat (berduaan dengan nonmahram), ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), pacaran, zina, tabaruj, dan sebagainya.
Segala pintu kemaksiatan akan ditutup rapat agar terbentuk masyarakat yang bersih dari kemungkaran dan keburukan. Semua itu dilakukan dalam rangka mewujudkan kehidupan generasi yang saleh dan salihah.
Ketiga, negara menjalankan fungsinya sebagai pelaksana syariat secara kafah. Negara menerapkan sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam agar pendidikan keluarga muslim dapat berjalan sinergis dan berkelanjutan. Negara juga akan menegakkan sistem sanksi yang tegas. Setiap bentuk kemaksiatan akan diberikan sanksi sesuai pandangan Islam.
Melalui kebijakan politik ekonomi Islam, negara akan melarang peredaran miras, narkoba, pornografi, tontonan yang merusak, serta apa saja yang berpotensi merusak generasi, termasuk pemikiran asing, seperti liberalisme, pluralisme, sekularisme, hedonisme, dan derivatnya.
Dengan ketiga komponen di atas, yaitu keluarga, masyarakat, dan negara yang melaksanakan syariat secara komprehensif, akan terbentuk kehidupan masyarakat bertakwa dan terbiasa berdakwah, yakni beramar makruf nahi mungkar. Ikatan yang mengikat di antara masyarakat adalah ikatan akidah Islam yang kukuh.
Dengan begitu, yang tampak dari kekhasan masyarakat Islam adalah suasana keimanan yang kuat, ukhuah Islamiah, saling menyayangi antarsaudara seiman, serta menghormati nonmuslim (zimi) yang berada dalam perlindungan Khilafah.
Generasi pun akan disibukkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan aktivitas sia-sia, seperti tawuran, bentrokan, hedonisme, maupun fanatisme buta. Islam melarang asabiah suku dan bangsa menjadi pengikat antarmanusia. Hanya Islam satu-satunya ikatan sahih yang mampu membangun dan mewujudkan generasi dan masyarakat berkepribadian mulia.
Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada asabiah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena asabiah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena asabiah.” (HR Abu Dawud No. 4456). [MNews/Gz]
