[Kabar] Aktivis: Mampukah Kemenangan Erdogan Mempersatukan Umat Islam?

[Kabar] Aktivis: Mampukah Kemenangan Erdogan Mempersatukan Umat Islam?

Muslimah News, INTERNASIONAL — Recep Tayyip Erdogan menang dalam pilpres Turki putaran kedua yang diselenggarakan pada Ahad (28-5-2023). Hasil resmi menunjukkan, Erdogan meraup 52,1% suara dalam pilpres Turki putaran kedua, sedangkan lawannya, Kemal Kilicdaroglu 47,9% suara. Dengan ini, ia berhasil memperpanjang kekuasaannya di Turki hingga 2028.

Dalam pidato kemenangan di Ankara, Erdogan berjanji untuk meninggalkan semua perselisihan dan bersatu di bawah nilai-nilai dan impian nasional.

Berdasarkan pemberitaan berbagai media, kemenangan Erdogan tidak hanya disambut rakyat Turki, tetapi banyak umat Islam dunia yang turut bergembira, sebagaimana di Gaza, termasuk juga umat Islam di Indonesia. Sosok Erdogan dinilai memperjuangkan kepentingan umat Islam dan menghilangkan sekularisme sedikit demi sedikit di Turki.

Mempersatukan Umat?

Meskipun sebagian umat Islam berharap kemenangan Erdogan ini bisa mempersatukan umat Islam, aktivis muslimah, Arini Retnaningsih, justru mempertanyakannya.

“Mampukah Erdogan benar-benar mewujudkan persatuan dan memperjuangkan kepentingan umat Islam? Dari apa yang disampaikan Erdogan, jelas bahwa ia hanya mengupayakan persatuan nasional Turki, bukan persatuan umat Islam keseluruhan. Sementara itu, persatuan yang seharusnya kita dukung adalah persatuan umat Islam karena hakikatnya, umat Islam adalah satu tubuh,” ungkapnya kepada MNews, Rabu (31-5-2023).

Ia mengutip hadis Rasulullah saw. riwayat Imam Bukhari dan Muslim sebagai sandarannya. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.”

Selain itu, lanjutnya, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam bersatu sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Anfal ayat 73.

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ.

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.”

Persatuan Turki saja, ungkapnya, adalah persatuan berdasarkan ashobiyah. “Persatuan seperti ini tidak akan mampu bertahan lama sebagaimana persatuan-persatuan lain yang didasarkan pada kepentingan dan manfaat. Ketika kepentingan hilang, maka persatuan juga memudar,” ulasnya.

Oleh karena itu, ucapnya, semestinya umat Islam kembali pada persatuan hakiki, yaitu persatuan yang didasarkan pada ikatan akidah Islam.

“Dalam sejarah emasnya, umat Islam ketika bersatu telah tercatat sebagai umat yang kuat dan disegani. Secara global, umat bersatu atas kepemimpinan yang satu, pemikiran yang satu, perasaan yang satu, dan aturan yang satu dalam naungan Khilafah Islamiah. Inilah yang mampu mengantarkan umat menjadi umat terbaik, khairu ummah sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 110,” bebernya.

Persatuan hakiki yang mengantarkan pada khairu ummah seperti ini, sambungnya, tidak mungkin dapat diwujudkan oleh Erdogan yang sudah menegaskan hanya memperjuangkan persatuan nasional Turki.

“Bahkan, tanda kegagalannya sudah mulai tampak dengan tuduhan-tuduhannya bahwa pihak oposisi telah bekerja sama dengan kelompok teroris. Kalau di Turki sendiri gagal, bagaimana kita berharap Erdogan akan mampu menyatukan dunia Islam?” tanyanya.

Kepentingan Sesaat

Arini justru menilai, yang diperjuangkan Erdogan hanya kepentingan sesaat. “Kalau dikatakan bahwa Erdogan memperjuangkan kepentingan umat, pada faktanya tampak bahwa kepentingan ini adalah kepentingan sesaat. Justru Erdogan berjuang bagaimana Turki bisa masuk ke dalam NATO, yang kita tahu merupakan organisasi bentukan Amerika Serikat (AS) dan dimanfaatkan AS untuk kepentingannya,” kritiknya.

Ia mengingatkan umat Islam agar jangan sampai tertipu oleh euforia kemenangan Erdogan. “Jangan sampai umat Islam puas hanya dengan perjuangan parsial, semisal pembelaan terhadap Palestina, tetapi mendukung konsep two state yang merestui pencaplokan sebagian wilayah Palestina,” ujarnya.

Ia menegaskan, yang kita cari dan kita harapkan hanyalah pemimpin yang mampu mempersatukan seluruh umat Islam di dunia dan menerapkan Islam kafah untuk mengantarkan manusia pada rahmatan lil’alamin.

 Khilafah

Arini juga berharap umat Islam sadar, Khilafah adalah kunci persatuan umat Islam sedunia. Khilafah pula yang akan menegakkan syariat Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, yang tentu akan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

“Penting bagi muslim mana pun untuk terus menyuarakan persatuan umat Islam sedunia. Namun persatuan umat Islam sedunia tidak akan pernah bisa terwujud, kecuali dalam satu kepemimpinan Khilafah Islamiah,” jelasnya.

Ketika Islam diemban dan dijadikan sebagai kepemimpinan berpikir umat manusia, lanjutnya, maka umat manusia bisa disatukan dengan ikatan ideologi Islam, meski tidak memeluk Islam.

“Uniknya, meski diikat dengan ikatan ideologi Islam, tetapi mereka tetap diberi kebebasan memeluk agama mereka dan sedikit pun tidak akan diusik. Bahkan, meski mereka bukan muslim, hak dasar mereka dengan Muslim pun sama. Sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan dan keamanan, semuanya dijamin oleh negara Khilafah, tanpa melihat agama mereka,” jelasnya.

Selain itu, Arini juga menjelaskan bahwa akidah Islam adalah satu-satunya pemikiran yang dibangun dengan akal, sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati.

“Inilah yang menjadi alasan, mengapa Islam telah berhasil mewujudkan persatuan di seluruh wilayah negara Khilafah, yang meliputi tiga benua; Asia, Afrika, dan Eropa, meski suku, ras dan agamanya berbeda-beda. Spanyol adalah contohnya. Penganut Islam, Kristen dan Yahudi hidup berdampingan dalam ikatan ideologi Islam lebih dari 800 tahun,” paparnya.

Oleh karena itu, simpulnya, dijadikannya ideologi Islam sebagai ikatan dan kepemimpinan berpikir bagi umat manusia di sebuah wilayah, dan seluruh dunia, adalah jaminan terwujudnya persatuan yang hakiki dan kuat di antara mereka.

“Ini karena selain akidahnya yang luar biasa, standar dan pandangan hidupnya juga khas, yaitu halal haram, bukan manfaat dan kepentingan,” ucapnya.

Ia menerangkan, inilah yang mampu menjadikan Islam sebagai perekat yang sangat kuat di antara umat manusia, meski agama, suku, dan rasnya berbeda. “Bahkan, pada saat yang sama, perbedaan tersebut ditolerir dan diberi ruang oleh Islam,” urainya.

Ia menegaskan, inilah yang menjadi rahasia, mengapa persatuan bangsa-bangsa yang hidup di bawah naungan Khilafah, yang diikat dengan ideologi Islam bisa bertahan hingga lebih dari sepuluh abad. “Sesuatu yang belum pernah bisa diwujudkan oleh kapitalisme maupun sosialisme,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *