Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Khalifah Harun ar-Rasyid wafat pada Jumadilakhir 193 H pada usia 48 tahun. Penyakitnya kambuh dalam perjalanan menuju Khurasan guna menghadapi pemberontakan Rafi’ bin Al-Laits. Sakit tersebut mengantarkan Harun ar-Rasyid kembali kepada Rabb-Nya saat sedang di Kota Thus. Masa pemerintahannya berlangsung selama 23 tahun dengan meninggalkan kegemilangan dan kesejahteraan bagi rakyat Kekhalifahan Bani Abbasiyah.
Pesan Terakhir Khalifah untuk Wali Khurasan
Setelah mendapatkan pengaduan tentang kesewenang-wenangan Wali Khurasan, Ali bin Isa, terhadap rakyat, Khalifah Harun ar-Rasyid kemudian menggantinya dengan Hartsamah bin A’yun, sorang komandan militer yang pemberani.
Kemudian Khalifah Harun ar-Rasyid berpesan kepada Hartsamah, “Inilah pesan yang disampaikan Harun ar-Rasyid, Amirulmukminin, kepada Hartsamah bin A’yun ketika mengangkatnya sebagi wali benteng Khurasan dan daerah sekitarnya, serta pemungut kharaj, memerintahkan kepadanya agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan patuh kepada-Nya, menjaga perintah Allah dan selalu merasa diawasi-Nya. Hendaknya menjadikan Kitabullah sebagai petunjuk dalam semua urusan perjuangan di jalannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, tidak melakukan perkara-perkara yang tidak jelas, juga agar memiliki pemahaman yang mendalam terhadap agama Allah dan mendalami kitab suci.”
Khalifah juga memerintahkan Hartsamah untuk mengonfirmasi berkaitan dengan tidak amanahnya wali sebelumnya, Ali bin Isa, bersama putra, sekretaris, dan pejabatnya. Hartsamah juga diminta untuk bersikap tegas kepada mereka serta menyita semua harta benda yang bukan hak mereka, seperti kharaj yang seharusnya dibayarkan ke baitulmal umat Islam.
Di akhir pesannya, Khalifah Harun ar-Rasyid menyampaikan, “Oleh karena itu, wahai Abu Hatim, kerjakanlah apa yang kupesankan kepadamu karena sesungguhnya aku lebih mengutamakan Allah dan agamaku atas hawa nafsu dan kehendak pribadiku. Hendaknya kamu juga demikian dengan tugas dan tanggung jawabmu. Hendaklah segala urusan disandarkan kepada-Nya. Perhitungkan dan perhatikanlah para pejabat daerah yang kamu lewati dengan segenap harta benda yang kamu bawa yang membuat mereka merasa curiga dan ketakutan terhadap perkara-perkara yang kamu lakukan. Realisasikanlah harapan-harapan sederhana penduduk benteng Khurasan, berikanlah keamanan, dan ampuni kesalahan mereka. Setelah itu lakukan tindakan dan kebijakan yang membuat Allah, pemimpin, dan orang yang melimpahkan tugas dan tanggung jawab kepadamu—dengan izin Allah—meridaimu. Inilah pesan dan suratku yang kutulis sendiri. Aku bersaksi kepada Allah dan para malaikat-Nya, penjaga Arsy dan penduduk langit, dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
Sesampainya di Marwu, Hartsamah menemui Ali bin Isa dan menyampaikan surat Khalifah Harun ar-Rasyid kepadanya. Setelah selesai membaca surat tersebut, Hartsamah menangkap Ali bin Isa, putranya, sekretaris, dan para pejabatnya. Setelah itu Hartsamah pergi ke Masjid Agung untuk berpidato sebagai Wali Khurasan yang baru dan merealisasikan harapan-harapan rakyat khurasan.
Hartsamah menyita seluruh harta Ali bin Isa untuk dilaporkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid. Para ahli sejarah memperkirakan harta benda Ali bin Isa yang disita sangat banyak karena dibawa sekitar 1.500 unta.
Wafat dalam Tugas Melindungi Rakyat dari Perpecahan sebab Pemberontakan
Hartsamah bin A’yun sangat memperhatikan pergerakan Rafi’ bin al-Laits. Akan tetapi, pengaruh dan kekuasaan Rafi’ bin al-Laits makin melebar di wilayah Transoxania. Hal ini memaksa Hartsamah melaporkan dan meminta Khalifah Harun ar-Rasyid untuk memimpin perang secara langsung membasmi pemberontakan Rafi’ ini.
Khalifah Harun ar-Rasyid keluar dari Baghdad pada Syakban 193 H menuju Khurasan. Khalifah menyerahkan jalannya pemerintahan Baghdad kepada putranya Muhammad al-Amin. Harun ar-Rasyid sendiri didampingi putranya, Abdullah al-Makmun. Khalifah terus bergerak bersama pasukannya hingga mencapai Kota Thus.
Di sanalah penyakitnya kambuh hingga menemui kematiannya pada Jumadilakhir 193 H. Jenazahnya disalatkan oleh putranya yang lain bernama Shaleh karena Abdullah al-Makmun ketika itu telah bergerak ke Marwu, yang merupakan ibu kota Khurasan. Khalifah Harun ar-Rasyid dimakamkan di kota Thus.
Khalifah Harun ar-Rasyid memiliki dua belas anak laki-laki dan empat anak perempuan. Harun ar-Rasyid menikah dengan enam istri dan empat di antaranya meninggal dunia ketika khalifah masih hidup. [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Muhammad al-Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar.
