Menyibak Tabir Pemberdayaan Pemuda dalam Politik Praktis

Menyibak Tabir Pemberdayaan Pemuda dalam Politik Praktis

Penulis: Asy-Syifa Ummu Siddiq

Muslimah News, OPINI — Pemuda memiliki kemampuan yang lebih dari yang lainnya. Itu adalah fakta yang tidak bisa dielakkan. Peran pemuda memang sangat diharapkan dalam membangun bangsa. Akan tetapi, bagaimana jika mereka terjebak dalam politik praktis?

Pemberdayaan Pemuda

Presiden Jokowi telah melantik Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) baru pada 3-4-2023. Ia berhasil mendapat kepercayaan pada usia yang cukup muda, yaitu 32 tahun. Politikus muda Partai Golongan Karya (Golkar) itu sebelumnya menjadi tim ahli Menko Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto (Ketum Partai Golkar).

Sosok yang juga alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini juga sempat menduduki Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) periode 2017—2022. Pada masa itu, ia meraih predikat 30 Under 30 oleh Forbes Indonesia pada 2020, sebuah predikat yang disematkan untuk 30 pemuda berpengaruh di Indonesia pada umur di bawah 30 tahun. Tidak hanya itu, ia pernah aktif di Bendum BEM FH UI, HMI Komisariat Hukum UI, juga Sekretaris Jenderal Gerakan Pelajar Mahasiswa Pembaharuan (GPMP).

Di samping itu, Menpora muda ini juga pernah menjadi Chef de Mission kontingen Indonesia ke Youth Olympic 2018 Argentina dan menjadi pengurus Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) DKI Jakarta. Kemudian, pada 2021 lalu, ia bekerja sama dengan Raffi Ahmad membentuk RANS Sport sekaligus menjabat sebagai Chairman RANS Nusantara FC dan bagian dari RANS PIK Basketball. (Situs Kemenpora, 3-4-2023).

Terpilihnya pemuda untuk menjalankan tugas Menpora tentu tidak main-main. Presiden Jokowi sendiri telah memberikan tiga tugas khusus untuk menteri baru itu. Pertama, menyiapkan atlet di cabang olahraga yang berpotensi meraih medali di SEA Games dan ASIAN games. Kedua, memasifkan liga-liga pertandingan olahraga segala level. Ketiga, memajukan ekosistem industri olahraga.

Namun demikian, Dito sendiri menyampaikan bahwa dirinya juga memiliki misi menyukseskan ajang ANOC World Beach Games 2023 di Bali pada 5—12 Agustus 2023. Hal ini perlu perhatian khusus karena tim Israel ikut ambil bagian sebagai peserta. Ia menyampaikan jangan sampai hal yang sama terjadi seperti Piala Dunia U-20 kemarin. Menurutnya, olahraga harus dipisahkan dengan politik. (CNN Indonesia, 4-4-23).

Pembajakan Potensi

Dari peristiwa ini, kita dapat memahami bahwa pemuda memang sangat diharapkan bagi kemajuan bangsa. Keaktifan pemuda dalam gerakan kepemudaan semestinya menjadikan mereka lebih peduli kondisi rakyat. Mereka, sebagai agent of change, diharapkan peka dengan masalah rakyat saat ini. Mereka perlu menjadi garda terdepan dalam melindungi rakyat dari kebijakan yang menyayat.

Namun, harapan itu sepertinya pupus manakala pemuda justru disibukkan untuk mencari pengakuan diri dan aktif di segala bidang untuk memenuhi naluri eksistensi diri. Bahkan, segala prestasinya dipersembahkan sekadar untuk memperoleh pengakuan di dunia. Mereka tidak lagi peduli dengan perubahan besar untuk rakyat dan malah dengan senang hati dibelokkan untuk mengikuti kegiatan politik praktis dalam kancah demokrasi.

Inilah “keberhasilan” nyata dari kapitalisme dalam membajak potensi pemuda. Desain Barat berhasil menjadikan pemuda muslim memiliki profil sekuler kapitalistik, dibajak untuk kepentingan industri kapitalisme. Kalaupun mereka adalah para aktivis, mereka dididik untuk bersikap sekuler, mendukung demokrasi, dan semua yang bertentangan dengan Islam.

Sebagai contoh, mengutamakan perhelatan internasional daripada kondisi saudara Palestina yang dijajah Israel dengan dalih olahraga berbeda dengan politik. Ini jelas memperlihatkan bahwa pemuda telah teracuni dengan pemikiran sekuler dan materialistis.

Lingkaran Kepentingan

Terpilihnya pemuda dalam jajaran tangan kanan presiden juga memperlihatkan sesuatu yang baru. Menjelang tahun politik 2024, seluruh partai politik mulai bergerak untuk mengamankan kedudukannya. Mereka bisa berkoalisi dengan partai lainnya meskipun dahulu pernah berseberangan. Tidak terkecuali partai yang terkenal dengan simbol kuning yang pernah berkuasa selama puluhan tahun.

Tidak menutup kemungkinan juga jika mereka masih ingin meraih tampuk kekuasaan. Mereka perlu orang-orang hebat yang dapat meraih dukungan rakyat. Tidak salah bagi mereka jika mulai saat ini melakukan kuda-kuda dengan menggunakan anak muda sebagai harapan baru.

Majunya pemuda menjadi politikus partai, sekaligus menduduki tempat strategis di kenegaraan, bisa mengamankan kursi mereka di pemilu mendatang. Di sinilah terlihat ada lingkaran kepentingan di antara partai-partai tersebut.

Pemuda Ideal

Sebagai pemuda muslim, seyogianya memiliki idealisme tinggi. Mereka memegang teguh prinsip Islam. Pemuda dalam Islam dicontohkan oleh Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khaththab, Mush’ab bin Umair, dsb. Para pemuda pada zaman Rasul saw. ini menjadi pembela Islam hingga akhir hayatnya. Mereka senantiasa terikat dengan aturan Islam dan teguh memperjuangkan penerapan Islam.

Harapannya, pemuda saat ini dapat meneladan mereka. Jangan justru terjebak dengan kapitalisme, sekularisme, materialisme, hedonisme, demokrasi, dan pemikiran Barat lainnya. Jangan pula mau menjadi perpanjangan tangan Barat untuk menghancurkan Islam. Pemuda seperti inilah yang ditunggu rakyat.

Oleh karenanya, umat Islam harus mewaspadai bahwa Barat telah membidik pemuda agar sibuk dengan urusan dunia serta mementingkan eksistensi diri sendiri saja. Terpilihnya pemuda berprestasi menurut Barat, tidak akan dapat mengubah nasib rakyat. Ini karena pemuda tersebut telah dididik dengan pendidikan ala Barat. Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *