Penulis: M. R. Kurnia, dkk.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Tugas Siapa Itu?
Cerita ini adalah tentang empat orang yang bernama Semua Orang, Seseorang, Siapa Saja, dan Tidak Seorang Pun. Ada tugas penting untuk dikerjakan dan semua orang diminta melakukannya. Semua Orang yakin bahwa Seseorang akan melakukannya. Siapa Saja bisa, tetapi Tidak Seorang Pun yang melakukannya.
Seseorang menjadi marah tentang itu, sebab ini tugas Semua Orang. Semua Orang menganggap bahwa Siapa Saja dapat melakukannya, tetapi Tidak Seorang Pun yang menyadari bahwa semua orang tidak akan melakukannya. Akhirnya, Semua Orang menyalahkan Seseorang ketika Tidak Seorang Pun melakukan apa yang bisa dilakukan oleh Siapa Saja. Tugas siapakah, itu?
Kisah di atas tentu saja bukanlah dimaksudkan sekadar dongeng. Dalam perspektif organisasi, kisah tersebut sedikit banyak telah memberikan gambaran tentang hakikat pentingnya organisasi yang tertata apik dengan kejelasan landasan, fungsi, dan kedudukannya, serta hubungan yang kuat dan saling menunjang di antara anggotanya. Bila tidak, maka seperti ditampakkan kisah tersebut, hanya akan membawa kisah sedih disorientasi, disfungsi, dan bahkan disorganisasi.
Atas dasar itu, kisah tersebut kiranya lebih tepat bila disebut semacam “muhasabah manajemen” yang relevan dan dampaknya akan selalu up to date bagi perubahan, perbaikan, dan bahkan penyempurnaan kinerja manajemen suatu organisasi. Terlebih lagi suatu organisasi yang telah nyata-nyata mengidentikan diri sebagai wahana dakwah. Termasuk di dalamnya partai politik Islam.
Sesuai judulnya, dengan awalan kisah manajemen di atas, tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan keahlian manajemen strategis berikut aplikasinya dalam kehidupan organisasi partai politik Islam. Tulisan ini juga berangkat dari sejumlah pemahaman umum bahwa sebuah partai politik yang berideologikan Islam tentu telah memenuhi asumsi berikut:
Pertama, kesadaran berpartai. Umumnya seluruh SDM yang terlibat di dalamnya dapat dipastikan telah memiliki setidaknya dua dari tiga jenis kesadaran berpartai, yakni kesadaran ideologis dan sekaligus kesadaran intelektual. Sedangkan yang ketiga yakni kesadaran manajerial dapat dikatakan belum sepenuhnya dimiliki. Sementara itu, kinerja ideal sebuah partai sesungguhnya dimulai dari sinergi ketiganya.
Semua tipe kesadaran berpartai memiliki korelasi positif dengan keempat aspek organisasi. Ini menandakan perlunya sinergi dari ketiga tipe kesadaran yang dengannya organisasi partai politik akan cepat mewujud seperti yang diharapkan. Sementara itu, di sisi lain keempat aspek mendasar ini juga memiliki kaitan positif di hampir semua aspek tahapan dalam model manajemen strategis. Ini juga berarti bahwa penggunaan model manajemen strategis sebagai kerangka alur berpikir bagai memotret bangunan tubuh sebuah organisasi partai politik menemukan relevansinya.
Kedua, kesadaran manajerial. Penerapan kaidah-kaidah manajemen sebagai sebuah alat sangat bisa dilakukan dalam bidang kehidupan apa saja. Kata kuncinya adalah butuh atau tidak sehingga persoalannya kembali bermuara pada konsekuensi atas kesadaran manajerial. Bila kesadaran itu tidak ada, maka dapat dipastikan berjalannya roda partai akan dikendalikan secara intuitif, berorientasi pada pendekatan personal, dan pada akhirnya cenderung tidak objektif. Sebaliknya, adanya kesadaran manajemen akan mendorong aplikasi manajemen secara objektif yaitu partai berjalan sebagai tim. [MNews/Rgl]
Sumber: M. R. Kurnia, dkk., Menjadi Pemikir dan Politisi Islam.
