Penulis: M. R. Kurnia, dkk.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. memerintahkan,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS Al-Baqarah: 153).
Ayat sebelumnya (ayat 151 dan 152) menjelaskan bahwa Allah telah mengutus rasul untuk membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan kita dari syirik dan berhala, mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah (berupa hukum-hukum yang dikandungnya), memerintahkan untuk berpegang teguh kepada akidah dan hukum-hukum, mengingat Allah dan dakwah Islam, serta bersyukur.
Sementara itu, ayat sesudahnya (ayat 154) menjelaskan bahwa orang-orang yang gugur fisabilillah hakikatnya hidup. Berdasarkan kedua hal ini teranglah bahwa dalam surah Al-Baqarah ayat 153 tadi, Allah Zat Yang Maha Perkasa memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa meminta pertolongan kepada Allah Swt. dengan sabar dan salat dalam mengemban dan mendakwahkan Islam serta berpegang teguh kepadanya.
Perbuatan Rasulullah saw. lebih menegaskan hal ini. Kita tahu, apabila beliau saw. sedang memiliki suatu permasalahan, segeralah beliau salat. Sejarah pun mencatat betapa kesabaran beliau dalam mengemban dakwah Islam. Jadi ayat ini menegaskan bahwa sabar dan salat merupakan suatu jalan pertolongan. Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.
Orang yang salatnya khusyuk tahu bahwa salat memberikan daya kekuatan kepada seorang mukmin dalam menghadapi kezaliman para pengembannya, serta memberinya keteguhan dan ketegaran dalam memegang kebenaran.
Sementara itu, dalam ayat tadi sabar disebut lebih dahulu sebelum kata salat. Hal ini menunjukkan betapa urgennya sabar. Konsekuensinya, seorang muslim yang memahami hal ini akan senang salat dan senang bersikap sabar. Sebab dengan melakukan keduanya berarti terdapat pertolongan dalam menghadapi berbagai kesulitan, termasuk kesulitan dalam perjuangan menegakkan Islam.
Sikap datar atau biasa-biasa saja dalam melakukan salat hanyalah berarti menjauhkan pertolongan dari Allah Zat Yang Maha Gagah. Sama halnya dengan itu, orang yang tidak senang bersikap sabar dalam mengungguli kesuksesan perjuangan.
Sebaliknya, saat ia menemukan kesulitan apa pun, segeralah ia meninggikan kualitas salat wajibnya dan meningkatkan kuantitas dan kualitas salat sunahnya. Betapa senang ia melakukannya. Hatinya rindu untuk melakukan salat, salat, dan salat lagi. Kegembiraan saat ia menunaikan salat, jauh melebihi kegembiraan apa pun, termasuk kegembiraan saat menjadi pengantin. Kata Nabi,
“Telah dijadikan kesenanganku (quratu aini) ada dalam salat.” (HR Ahmad dan An-Nasai).
Bersamaan dengan itu, ia yakin salat merupakan jalan pertolongan.
Sabar, sebagaimana dalam surah Al-Baqarah ayat 153 tadi juga merupakan jalan pertolongan dari Allah Swt.. Seorang mukmin bukan hanya segera meningkatkan kuantitas salat sunah ketika ia menghadapi kesulitan, tetapi ia juga menambah kesabarannya.
Saat seorang mukmin menghadapi halangan apa pun, ia tidak menyerah, sebaliknya ia bersabar dengan penuh kegembiraan dan harapan akan datangnya pertolongan. Di dalam kesabarannya terkandung kegembiraan, harapan, keteguhan, dan kedekatan dengan Allah Swt. serta keyakinan akan datangnya pertolongan dari Zat Yang Maha Kuasa.
Atas dasar kenyataan bahwa sabar itu merupakan jalan pertolongan bagi pengemban dakwah dan mukmin lainnya, maka sikap abai terhadap perjuangan hanya karena adanya kesulitan yang dihadapi merupakan sikap tidak rasional. Dengan makin menjauh dari perjuangan, dengan kian meninggalkan sabar dalam perjuangan, makin jauh pertolongan datang pada dirinya.
Bila hal ini berlaku secara kolektif, akibatnya pun akan dirasakan secara kolektif juga. Ringkasnya, sabar merupakan jalan pertolongan, juga sabar diperintahkan Allah Swt. untuk dilakukan dalam perjuangan, oleh sebab itu, sikap tidak sabar harus dibuang jauh-jauh dari diri seorang pengemban dakwah. Kalau dapat, buang hingga ke ruang angkasa.
Nyatalah, sabar merupakan keniscayaan dalam perjuangan. Kesulitan yang dihadapi bukan malah menyurutkan api perjuangan, melainkan justru secara syar’i harus menjadi pengukuhnya dengan menjadikan sabar sebagai jalan datangnya pertolongan Allah Swt..
Satu hal yang penting dicamkan, sabar dalam perjuangan bukan berarti mengarah kepada kebatilan. Sabar dalam perjuangan, justru tegar dalam memegang kebenaran serta terus menapaki jalan perjuangan untuk mengembalikan kejayaan Islam dan kaum muslim. [MNews/Rgl]
