[Dunia Remaja] Hidup Kok Ogah Ribet

[Dunia Remaja] Hidup Kok Ogah Ribet

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Kebayang enggak Sob, gimana jadinya kalo internet hilang dari bumi? Padahal, hari ini seluruh aktivitas manusia sangat lekat dengan internet. Apa pun yang kita butuhkan bisa kita dapatkan dengan sentuhan jempol saja. Skin care habis langsung gerakan jempol untuk check out. Kamu bingung, tanya Om Google, saking pinternya Om Google pasti langsung ngasih feedback. Enggak bakalan kayak doi kalau lagi ngambek ditanya diem saja. Sifat instan, efisien, fleksibel memang jadi ciri-ciri yang sangat dekat dengan Gen Z.

Internet dan teknologi memang seperti mata uang, di satu sisi kehadirannya memudahkan kita dan membuat lebih mandiri, di sisi lain kita jadi menginginkan semua hal dengan instan. Dari urusan menyelesaikan pendidikan sampai urusan belajar agama. Hayo siapa yang nyelesain tugas yang deadline-nya besok, tetapi baru dikerjain selepas subuh? Sudahlah gitu nanyanya ke Om Google lagi. Masa iya pemuda yang menyandang status agent of change ngerjain tugas pake sistem kebut semalam?

Enggak berhenti sampai situ saja, kita jadi tahu A sampai Z tentang agama dari kanal sosmed dengan begitu mudahnya. Walaupun kadang kita masih pilih-pilih mana pendapat yang cocok buat kita, upsss.

Karakter instan yang melekat pada diri kita sebenarnya berperan besar dalam pembentukan mental. Generasi hari ini terbiasa mencari informasi yang lebih sederhana. Daripada membaca buku, kita lebih percaya membaca berita yang sudah disederhanakan di IG dengan judul yang nendang. Ditambah lagi kita jarang memvalidasi apakah berita yang kita baca benar-benar bisa dipercaya sumbernya alias valid. Makin mudah mengakses informasi, sebanding juga makin banyaknya kita terkena hoaks, sebab siapa pun bisa mengunggah informasi, siapa pun bisa mengomentarinya.

Sadarilah Sob, jika setiap hari kita mengonsumsi informasi yang tidak valid, efek yang ditimbulkan buka hanya sehari dua hari, melainkan akan menjadi gambaran siapa diri kita. Ini karena infromasi yang kita konsumsi akan menjadi pemikiran, pemikiran akan membentuk pemahaman, pemahaman digunakan sebagai kompas untuk melakukan aktivitas, aktivitas yang dilakukan terus menerus akan menjadi habits (kebiasaan).

Kebayang enggak seandainya setiap hari beramal dengan pemahaman yang salah? Bisa jadi amalan kita enggak diterima Allah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi, yaitu beramal dengan cara yang benar. Beramal dengan benar tidak bisa instan, butuh belajar. Ngeri banget enggak tuh kalau amalan kita enggak diterima karena syaratnya belum lengkap? Oleh karenanya, satu hal yang harus menjadi perhatian adalah karakter instan tidak boleh dilekatkan pada setiap kesempatan. Ini karena semua butuh proses, bahkan untuk memasak mie instan sekalipun juga butuh proses.

Hadirnya kita di dunia ini juga melewati proses yang panjang, butuh sembilan bulan di dalam kandungan sampai detik teman-teman lahir di dunia. Kemudian terus tumbuh berproses, dari bayi merah yang mungil, tumbuh menjadi anak kecil yang lucu, sampai saatnya menginjak usia balig adalah proses yang Allah siapkan sebelum akhirnya Allah berikan kewajiban untuk mengemban dua visi, beribadah dan menjadi pemimpin bumi (ingat memimpin bumi ya, bukan cuma memimpin diri sendiri).

Sejak saat mencapai balig, Allah catat semua amal perbuatan kita. Rasulullah bersabda,

“Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak-anak sampai ia balig, dan dari orang yang gila sampai ia sadar (berakal).” (HR Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa anak-anak, orang gila, dan orang yang tidur tidaklah dibebani dengan perintah dan larangan (dalam agama). Ini adalah bagian dari bentuk rahmat dan kasih sayang Allah terhadap mereka.

Jika Sobat sudah balig, wajib untuk menaati apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang sehingga tidak bisa beramal seenaknya sendiri. Ini karena setiap perbuatan kita ada hukumnya.

Hai Sob, sudah berapa tahun melewati fase balig, tetapi masih gini-gini aja? Alasan ogah ribet tidak bisa dijadikan dalih untuk tidak belajar agama Islam. Ulama-ulama terdahulu mampu produktif menuliskan 40 lembar tulisan setiap hari (padahal zaman dahulu akses ilmu tidak semudah hari ini). Lah kok kita kajian sepekan sekali saja ogah-ogahan. Jangan heran jika kita kesulitan mengemban dua tugas yang sudah Allah tetapkan di dunia ini karena kita nggak mau belajar Islam. Akibatnya, kerusakan terus terjadi karena tidak menggunakan manual book instruction dari Pencipta bumi. Sebagai contoh, hari ini teknologi makin maju, tetapi moral bangsa juga makin rusak.

Agar kerusakan tidak makin menjadi-jadi, sudah saatnya kita menggunakan Islam yang mengatur seluruh kehidupan kita, termasuk karakteristik keinstanan kita. Tidak ada ceritanya pemuda yang terdistraksi dari visi hidupnya karena waktunya habis 10 jam di depan sosial media. Tidak ada orang yang salah fokus menggunakan internet sehingga terkena penyakit mental dan depresi.

Sobat, sadarilah bahwa Gen Z adalah cucunya para pemimpin. Enggak percaya? Coba lihat bio instagram teman-teman sobat sekalian, baru membuat komunitas kecil, sudah dituliskan founder komunitas A, ini menunjukkan bahwa karakter instan gen z tidak selamanya buruk, hanya saja karakter ini perlu dikelola dengan Islam. Ini karena jika tidak, kita akan senantiasa dieksploitasi oleh teknologi dan peradaban yang menaunginya.

Hari ini potensi pemuda yang penuh energi itu hanya disalurkan untuk joget-joget di depan tiktok, nongkrong di trotoar atau menyanyikan lagu patah hati. Padahal, masa muda adalah masa yang paling berat pertanggungjawabannya.

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR Tirmidzi)

Sedangkan dengan Islam, pemuda diaruskan untuk mencita-citakan kewajiban karena saking sulitnya menjalankan kewajiban sampai harus dicita-citakan. Tidak heran mereka mendapatkan predikat umat terbaik. Muhammad al-Fatih, misalnya, karena beliau mengerti menaklukkan Konstantinopel tidaklah mudah, beliau mencita-citakan hal tersebut dan mengarahkan potensinya untuk dibina dengan Islam, dan dengan izin Allah, Konstantinopel takluk di tangan Muhammad al-Fatih.

Siapkah teman-teman untuk menjadi bagian dari pemuda yang mencita-citakan kewajiban yang Allah firmankan di dalam Al-Qur’an? Mengingat banyaknya kewajiban yang belum bisa terterapkan sehingga perlu diperjuangkan. Oleh karenanya, selamat belajar, selamat berjuang, dan tetap semangat mencita-citakan kewajiban! [MNews]

Sumber: Buletin Taman Surga Edisi 207

Share

2 thoughts on “[Dunia Remaja] Hidup Kok Ogah Ribet”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *