[Kabar] Arum Harjanti Prihatin Pendidikan Menjadi Hal Mewah di Tengah Krisis Sri Lanka

[Kabar] Arum Harjanti Prihatin Pendidikan Menjadi Hal Mewah di Tengah Krisis Sri Lanka

Muslimah News, INTERNASIONAL — Melansir BBC (05-01-2023) pendidikan menjadi hal mewah di tengah krisis Sri Lanka. Ibu dari Malki, Priyanthika, harus menghentikan sementara pendidikan anak-anaknya supaya mereka bisa mencari uang dengan menjual kembang api. Harga pangan di Sri Lanka mencapai rekor termahalnya ketika level inflasi mencapai hampir 95%.

Pada hari-hari tertentu, tidak ada seorang pun di keluarga Malki yang makan. Meskipun sekolah di Sri Lanka gratis, mereka tidak menyediakan makanan. Ditambah ongkos untuk seragam dan transportasi, pendidikan telah menjadi kemewahan yang tidak lagi mampu dibeli Priyanthika.

Prakrama Weerasinghe, seorang kepala sekolah di Sekolah Menengah Kotahena Pusat Kolombo menyaksikan kesulitan ekonomi yang dialami para siswa setiap hari. Banyak orang tua tidak mampu memberangkatkan anak-anak mereka ke sekolah setiap hari karena krisis ekonomi.

“Ketika hari sekolah dimulai, ketika kami mengadakan upacara pagi, anak-anak sering pingsan karena kelaparan,” ujarnya. Pemerintah berkata mereka sudah mulai mendistribusikan beras ke sekolah-sekolah namun beberapa sekolah yang dihubungi oleh BBC mengatakan mereka belum menerima bantuan. Weerasinghe mengatakan kehadiran siswa sempat turun sampai 40% sehingga ia terpaksa meminta para guru untuk membawa makanan tambahan supaya siswa terus kembali ke kelas.

Joseph Stalin, Sekretaris Jenderal Serikat Guru Ceylon meyakini pemerintah pura-pura tidak tahu tentang semakin banyaknya keluarga yang berhenti menyekolahkan anak karena alasan biaya. “Guru-guru kami adalah yang melihat kotak-kotak makan siang yang kosong,” katanya. “Korban sebenarnya dari krisis ekonomi ini adalah anak-anak. Mereka (pemerintah) tidak mencari jawaban atas masalah ini. Ini sudah diamati dan diidentifikasi oleh UNICEF dan lainnya, tapi tidak pemerintah Sri Lanka.”

UNICEF mengatakan warga Sri Lanka akan semakin sulit mencari makan selama bulan-bulan mendatang, dengan inflasi harga barang-barang pokok seperti beres terus melumpuhkan ekonomi keluarga. Lembaga PBB itu memperkirakan lebih banyak anak di seluruh negeri akan terpaksa berhenti sekolah.

Memprihatinkan

Kondisi ini pun menuai keprihatinan pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti.

“Sungguh memprihatinkan nasib anak-anak di Sri Lanka. Krisis ekonomi berkepanjangan membuat anak-anak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan, bahkan pendidikan menjadi satu kemewahan untuk mereka,” ungkapnya kepada MNews, Ahad (07-01-2023)

Ia menerangkan, kelaparan yang melanda anak-anak sekolah membuat nasib mereka makin menyedihkan.

“Betul, pemerintah Sri Lanka sudah memberikan bantuan subsidi makanan. Demikian pula lembaga-lembaga amal telah memberikan bantuan. Namun faktanya, persoalan belum terselesaikan. Apalagi, bantuan dunia pun hanya sekedar sebagai wujud kemanusiaan, bukan untuk menyelesaikan persoalan,” jelasnya.

Bahkan, lanjutnya, secara fakta tidak akan ada satu negara pun yang memang berniat membantu Sri Lanka keluar dari krisis hingga tuntas.

“Masing-masing negara memiliki egoisme untuk menjaga negaranya sendiri. Persaudaraan sesama umat manusia hanya omong kosong ketika tidak ada manfaat yang didapat. Banyak negara berdiam diri meski memiliki kekayaan berlimpah. Bahkan, ada banyak makanan yang terus terbuang, padahal di belahan lain banyak anak-anak sudah berbulan-bulan mengalami kelaparan. Inilah prinsip kehidupan yang diterapkan dalan hubungan antar negara saat ini, dalam model negara bangsa,” urainya.

Persoalan

Arum menegaskan, sejatinya persoalan ini tidak akan pernah terselesaikan selama pengurusan persoalan rakyat tidak ada perubahan.

“Faktanya pengaturan urusan rakyat di Sri Lanka saat ini menggunakan sistem kapitalisme. Bahkan, krisis ekonomi yang terjadi adalah juga karena penerapan sistem kapitalisme tidak hanya di Sri Lanka, tetapi di seluruh dunia,” ucapnya.

Ia menguraikan, sulitnya kehidupan di Sri Lanka memang dipengaruhi berbagai macam faktor, mulai dari melonjaknya inflasi, neraca perdagangan yang tidak seimbang, jebakan utang hingga politik dinasti dan perang Ukraina-Rusia.

“Semua itu sebenarnya merupakan konsekuensi dari satu hal, yaitu penerapan sistem kapitalisme, khususnya dalam bidang ekonomi dan politik, baik di dalam negeri Sri Lanka maupun di negara-negara lainnya. Semua berkelindan dalam naungan sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme ini jugalah yang membuat tidak ada bantuan tulus ikhlas negara mana pun untuk menyelesaikan persoalan di Sri Lanka secara tuntas.  Dunia, bahkan tega membiarkan anak-anak yang tidak berdosa itu hidup dalam kesulitan demi kesulitan,” kritiknya.

Penerapan Sistem Islam

Menurut Arum, krisis pendidikan dan kelaparan di Sri Lanka niscaya tidak akan terjadi jika sistem Islam diterapkan secara keseluruhan. “Termasuk dalam sistem ekonomi dan politik, Islam mewajibkan umat Islam disatukan dalam Khilafah Islamiah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Khilafah Islamiah akan menghilangkan sekat antar negara dan egoisme kebangsaan seperti yang terjadi saat ini.

“Pengurusan umat akan dilakukan oleh khalifah yang memiliki kapabilitas dan integritas. Seorang muslim yang bertakwa kepada Allah, bukan karena keturunan atau dinasti tertentu yang memahami bahwa jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” urainya.

Dengan demikian, imbuhnya, semua warga negara, muslim maupun kafir–yang disebut ahlu dzimmah-akan berada dalam perlindungan dan jaminan Khilafah.

“Melalui sistem ekonomi Islam, khalifah akan mengelola kekayaan alam yang ada di negeri-negeri muslim dan hasilnya untuk mewujudkan kesejahteraan semua rakyat yang menjadi warga negara Khilafah. Layanan pendidikan akan didapatkan dengan gratis. Demikian halnya jaminan atas kebutuhan pokok, seperti makanan,” tuturnya.

Arum menekankan, dengan pengelolaan keuangan sesuai dengan sistem ekonomi Islam, Khilafah akan menjadi negara yang kaya yang mampu membiayai semua pembangunan infrastruktur negara tanpa utang kepada negara lain. “Kalaupun terpaksa utang, maka Khilafah tidak akan masuk terjerumus dalam jebakan hutang ribawi karena Islam mengharamkan riba,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia menandaskan, anak-anak Sri Lanka tidak akan mengalami kesulitan dalam mengakses layanan pendidikan dan ketersediaan pangan jika mereka hidup dalam naungan Khilafah Islamiah. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *