Muslimah News, NASIONAL — Mencermati fakta kerusakan generasi saat ini, pendidik Dwi Hendriyanti, S.Pd. menilainya sebagai akibat adanya kegagalan pendidikan di sekolah.
“Proses pendidikan di sekolah belum mampu mewujudkan pemuda muslim yang taat syariat. Ini sangat sulit, atau bisa jadi malah tidak mungkin. Bahkan dapat disimpulkan, fakta kerusakan generasi saat ini karena ada kegagalan pendidikan di sekolah,” ungkapnya.
Ia menggambarkan kerusakan generasi muda ini adalah tidak takut lagi kepada Allah, serta jauh dari nilai dan norma agama. “Realitas ini tentu memprihatinkan dan menimbulkan keresahan dalam diri para guru karena sebenarnya ini bagian dari tanggung jawab sebagai guru,” ujarnya.
Kemudian, lanjutnya, apakah kami, sebagai guru, tidak berusaha untuk mengubah? Kami berusaha mengubahnya supaya anak-anak didik tidak terjerumus dalam kerusakan tadi.
“Namun, meskipun kami melakukan berbagai upaya, kerusakan-kerusakan itu ternyata makin hari makin bertambah dan makin kompleks. Artinya, yang kami upayakan belum menuai hasil. Kalaupun kami ingin mengupayakan lebih lagi, tantangannya tidak mudah karena akan berbenturan dengan regulasi atau kebijakan,” cetusnya.
Tiga Penyebab
Dwi memaparkan ada tiga faktor penyebab sulitnya mewujudkan generasi taat syariat ini, yaitu kurikulum, peran guru, dan lingkungan.
“Pertama, kurikulum. Kurikulum bisa menjadikan generasi itu rusak karena kurikulum menjadi ruh yang berpengaruh terhadap performa individu, generasi, dan berpengaruh terhadap performa bangsa. Nah, kita lihat kurikulum saat ini yang senantiasa berubah ternyata tidak memiliki standar baku, tetapi sesuai keinginan pembuat kurikulum. Hanya saja, basisnya sama, yakni sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan. Kemudian yang menjadi tuntutan kurikulum ini tidak lain kepada hal-hal bersifat materi, menghasilkan produk, dan ketika lulus sekolah bisa bersaing di dunia kerja, tetapi miskin nilai dan moral agama,” paparnya.
Ia menambahkan, kurikulum yang menganut sekularisme ini, contohnya tampak pada moderasi beragama yang diklaim mampu membentuk generasi yang cerdas, religius, dan humanis.
“Faktanya, yang terjadi sebaliknya. Cerdasnya tidak menjadikan agama sebagai landasan berpikirnya. Religius dan humanis juga faktanya mereka jauh dari unsur-unsur ketuhanan,” jelasnya.
Belum lagi, imbuhnya, nilai-nilai liberal yang include dalam mata pelajaran, seperti Kurikulum Merdeka yang platformnya Merdeka Belajar.
“Dari kata-katanya saja sudah tersirat ada unsur liberal. Anak didik diberikan kebebasan menentukan minat dan bakatnya tanpa mempertimbangkan hukum syarak, halal haram. Jelas kurikulum ini belum mampu menyelesaikan masalah kerusakan generasi,” bebernya.
Kedua, sebutnya, peran guru. “Saat ini mulai terbaca adanya disorientasi mendidik. Guru menganggap ketika mengajar, yang penting selesai dan pulang. Ada juga yang menganggap, mengajar yang penting tercukupi 24 jam, atau yang penting selesai menyampaikan materi pelajaran sekian waktu,” ucapnya.
Sedangkan, imbuhnya, untuk menyampaikan pemahaman agama, memang mungkin ada yang memberikan, tetapi yang kurang memberikan pemahaman agama juga banyak. “Belum lagi, guru disibukkan dengan berbagai administrasi yang sangat menguras energi. Ini tentunya transfer behaviour (perilaku) menjadi tidak ada,” kritiknya.
Ketiga, ujarnya, lingkungan. “Bisa jadi anak-anak di lingkungan keluarga sudah diberikan bekal pemahaman agama yang baik, kemudian diproteksi oleh keluarga dengan berbagai aturan yang kita anggap sudah sesuai dengan Islam. Faktanya, ketika mereka terjun ke lingkungan yang ternyata rusak, mereka bisa terpengaruh atau terwarnai. Artinya, lingkungan tidak bisa menjamin seorang anak itu saleh dan salihah, meskipun di keluarganya sudah diberikan pemahaman agama yang baik,” jelasnya.
Pendidikan sebagai Penguat Moral
Dwi menerangkan, seharusnya proses pendidikan ini menjadi penguatan moral, memberikan pemahaman agama sebagai acuan menjadikan generasi yang berperilaku dan berakhlak mulia.
“Di sini tentu saja yang memiliki peran besar adalah guru. Ketika guru menginginkan anak didiknya berakhlak mulia, maka guru tersebut harus paham Islam. Guru tidak bisa mencukupkan diri dari ilmu yang diperoleh saat di perguruan tinggi karena dasarnya pun sekuler,” katanya.
Untuk itu, ia menekankan, upaya yang seharusnya dilakukan adalah ikut dalam pembinaan Islam, mengkaji Islam, dan mengupayakan sungguh-sungguh berada dalam wadah kajian Islam.
“Hasil pembinaan inilah yang akan ditularkan kepada peserta didik supaya paham agama. Namun, agama di sini bukan sekadar secara ritual, melainkan harus dipahami sebagai aturan rujukan dalam berperilaku bagi generasi,” tegasnya.
Kemudian, lanjutnya, memfasilitasi anak didik dalam komunitas yang di dalamnya mengkaji Islam dengan pemahaman yang benar.
“Ini bukan hanya tugas guru agama karena tidak ada lagi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu lain dalam membentuk manusia seutuhnya. Bahkan, kita perlu menyadari ketika bisa menyelamatkan generasi, maka akan menjadi kemuliaan pula bagi seorang guru,” tandasnya. [MNews/Ruh]
