Muslimah News, NASIONAL — Intelektual muslimah sekaligus pakar administrasi publik Prof. Dr. Mas Roro Lilik Ekowanti, M.S. menegaskan visi yang harus dimiliki kaum muslim, khususnya pemuda adalah Islam rahmatan lil’alamin. Hanya saja, ia menyatakan, rahmatan lil’alamin itu ketika pemudanya menjadi pemimpin, bukan buruh.
Hal ini disampaikannya ketika mengulas kebijakan yang diterapkan di dunia pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi (PT), yang menurutnya mengalami kegagalan.
“Penyebabnya adalah kebijakan makro atau internasional. Sebagai intelektual harus memperhatikan bahwa kebijakan tersebut kemudian di-break down oleh negara-negara penganut politik demokrasi,” jelasnya.
Jadi, Prof. Mas Roro mengatakan, desain pendidikan tinggi sudah ada sejak Indonesia merdeka.
“Hanya saja, kalau dikatakan Kampus Merdeka, maka sebenarnya Indonesia baru belajar merdeka. Merdeka itu ketika yang diterapkan adalah Islam kafah. Barulah pemuda ini bisa dibangkitkan dan menjadi pemimpin,” cetusnya.
Ia menuturkan, sistem pendidikan tinggi merupakan kelanjutan dari sekolah, baik dasar maupun lanjutan. “Namun, yang di-setting hanya otak kiri, hanya mampu menjadi pengikut, sedangkan otak kanannya tidak. Para pemuda ini tidak mampu mengambil keputusan sebagai bagian umat Islam, tidak mampu berpikir kritis dan membuka mindset-nya,” kritiknya.
Prof. Mas Roro mengingatkan, bagi yang sedang menempuh pendidikan tinggi harus berhati-hati karena sedang terperangkap dalam neokolonialisme melalui kapitalisme dan liberalisme, termasuk yang terbaru adalah moderasi.
“Jadi, di PT ini tantangannya luar biasa. Para dosennya juga disibukkan dengan administrasi dan standarisasi yang juga dibuat mereka [Barat],” tukasnya.
Pengaruh Politik Ekonomi
Selain itu, ia mengungkapkan, kebijakan sistem pendidikan tinggi tidak lepas dari pengaruh politik ekonomi.
“Negeri ini menerapkan politik demokrasi sehingga yang dituntut oleh para neokolonial adalah sistem ekonomi yang mendukung sistem politiknya tersebut, yaitu kapitalisme. Sedangkan, kapitalisme didesain untuk menciptakan buruh atau tenaga kerja di perusahan, baik level nasional maupun multinasional. Kalau yang paling rendah disebut pabrik,” urainya.
Oleh karenanya, ia mengingatkan, jangan berbangga kuliah di PT ternama, tetapi mindset-nya segera lulus dan langsung bekerja atau menjadi buruh. “Tidak ada yang mindset-nya ingin menjadi pemimpin. Bahkan, karakteristiknya lulusannya pun sangat individualistis, tidak memikirkan umat. Nilai yang dibangun sangat rendah,” sesalnya.
Apalagi, ia menerangkan, negara ini menganut kapitalisme dengan industrialisasi yang dikenal dengan R4.0, maka dibutuhkanlah tenaga kerja murah.
“Jika lulus dan diterima di perusahaan multinasional dengan gaji tinggi sekalipun, tetap saja menjadi pegawai yang diperintah. Ini sangat menyakitkan dan mestinya menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan yang akan datang,” sarannya.
Rekomendasi
Prof. Mas Roro mengutarakan, ada rekomendasi penting terkait kebijakan ini. “Ibaratnya ada kapal besar yang jika kita masuk ke dalamnya bisa selamat dunia akhirat, yakni saat melaksanakan Islam kafah. Kapal besar ini merupakan organisasi besar dunia yang menggunakan Islam, versusnya non-Islam,” ucapnya..
Untuk itu, ia menekankan, umat Islam harus bangkit. “Jangan mengadopsi ilmu-ilmu dari Barat yang tanpa kita tahu, justru digunakan untuk menjajah,” ujarnya mengingatkan.
Ia pun meminta para intelektual harus menggunakan pendekatan komparasi. “Kalau hanya mengambil dan langsung diturunkan ke generasi berikutnya, maka kapal besar yang mengikuti panduan Rasulullah ini tidak dapat berjalan karena kapal besar ini punya visi, yakni Islam rahmatan lil’alamin,” ucapnya.
Ia mengingatkan, kalau hari ini kita dipimpin oleh orang yang tidak menggunakan Islam, ya seperti ini kondisinya, akses pendidikan sulit dan mahal.
“Oleh karenanya, visi generasi Islam ini adalah pertama, menjadi khalifah, pemimpin di bumi, tidak boleh main-main, dan bukan menjadi buruh, tenaga kerja seberapa pun digajinya. Kedua, melakukan amar makruf nahi munkar. Nilai-nilai ini harus ditanamkan secara sadar. Selain itu, bangkitnya Islam juga membutuhkan sebuah negara yang disebut Khilafah,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
