Muslimah News, NASIONAL — Sebagai bentuk kepedulian terhadap pemuda, khususnya pemuda muslim, aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti mengingatkan pentingnya menyelamatkan generasi muda, calon pemimpin peradaban, yang saat ini terjauhkan dari Islam.
“Generasi muda adalah kekuatan (quwwatunaa), 80% dari umat ini adalah pemuda, mereka detak jantung kita dan harta berharga kita,” jelasnya.
Ia pun mengutip penjelasan syekh Mustofa al-Ghulayaini bahwa sesungguhnya di tangan pemudalah urusan umat dan di kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat.
“Pernyataan tersebut benar adanya karena pada awal dakwah Islam yang banyak mendukung Rasulullah adalah pemuda, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Mush’ab bin ‘Umair, Asma binti Abu Bakar, Fathimah binti Khatthab, dan Nusaibah binti Ka’ab,” ujarnya.
Juga, imbuhnya, dalam tarikh umat berikutnya ada pemuda penakluk Muhammad ibn Al-Qasim, Qutayba bin Muslim, Muhammad al-Fatih—pemuda fenomenal penakluk Konstantinopel—.
“Selain itu, Islam melahirkan banyak ilmuwan muda masyhur spt Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibnu Firnas, dan lainnya. Benar-benar ditunjukkan bahwa di tangan dan kaki merekalah Islam memimpin dunia, tersebar luas hingga kita menjadi pemeluknya,” ungkapnya.
Tidak Terpaut pada Islam
Namun, Ratu Erma menyayangkan, mayoritas pemuda muslim saat ini, pikiran dan hati mereka tidak terpaut pada Islam.
“Sulit bagi kita menemukan sosok pemuda yang lengkap satu paket dalam dirinya adalah ulama-ilmuwan-pembela Islam. Yang kita dapati pemuda yang imannya lemah, malas ibadah, moral rendah, bodoh syariat bahkan menentangnya. Belum lagi, ilmu dan keterampilannya rendah, perilakunya aneh-aneh, banyak penyimpangan,” sesalnya seraya mengutip firman Allah dalam QS Al-Furqan ayat 44.
“Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu),” kutipnya.
Ia pun mengajukan pertanyaan mengapa demikian? Hanya satu jawabannya, yaitu hidup kita tidak diatur oleh syariat Islam.
“Yang mengatur kita adalah hukum-hukum kapitalisme sekuler, buatan akal manusia yang bertentangan dengan perintah Allah Swt.. Ini berlangsung sudah 100 tahun, empat generasi, sejak Khilafah Islam runtuh pada 1924 M, diganti negara republik Turki sekuler. Sejak saat itu, semua aturan umat Islam menggunakan hukum Barat dari Swiss,” jabarnya.
Ratu Erma menyebutkan, akhirnya kurikulum pendidikan diganti, undang-undang keluarga diubah, bahasa Arab diganti bahasa nasional, dan lainnya.
“Akibatnya mayoritas umat buta terhadap syariat kafah dan hidup dalam kesempitan karena berpaling dari hukum Allah Swt.,” ujarnya prihatin.
Selamatkan Generasi
Oleh sebab itu, Ratu Erma mengingatkan agar harta berharga tersebut diselamatkan, yakni generasi pelanjut kehidupan umat Islam. Lalu, ia menyitir firman Allah dalam QS An-Nisa ayat 4,
“Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
Menjelaskan ayat ini, Ratu Erma menyatakan, kita bertekad untuk tidak meninggalkan anak-anak dan pemuda dalam keadaan lemah sehingga kita takut akan nasib mereka di masa depan.
“Oleh karenanya, Allah memerintahkan kepada kita untuk takwa, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Kemudian mengatakan kebenaran dengan kuat dan lantang bahwa aturan sekuler buatan manusia adalah penyebab rusaknya generasi. Sebaliknya, kita butuh Islam, butuh pemimpin, butuh Khilafah Islamiah. Juga kita bertekad untuk berjuang menyelamatkan mereka, peduli pada nasib generasi yang akan menjadi pemimpin umat dimasa depan,” tegasnya.
Ratu Erma berpesan, untuk bisa menjadi penyelamat, tentu kita harus menjadi bagian dari para pejuang agama Allah.
“Bersama kelompok dakwah Islam ideologis, menjadi seperti kumpulan sahabat yang membela dan menyebarkan syariat Islam, serta berdakwah untuk tegaknya Islam kaffah. Jangan sampai merasa malu di hadapan Allah karena tidak turut dalam memperjuangkan syariat-Nya tegak dimuka bumi,” tandasnya. [MNews/Ruh]
