Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.
Muslimah News, OPINI — Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia Prof. Komarudin Hidayat dalam acara yang digelar Mayo Institut bertema “Radikalisme, Adakah akarnya di Indonesia?” mengatakan, kalangan intelektual dan ilmuwan telah mengakui bahwa tidak ada korelasi utama antara terorisme dalam Islam.
Bahkan, ia menyebutkan penyebab utama adanya radikalisme terorisme adalah politik, ekonomi, hukum, dan sosial. Direktur Moya Institute Hery Sucipto membenarkannya dengan mengatakan bahwa ancaman radikalisme-terorisme tidak akan pernah hilang seiring dinamika politik global. (Antaranews, 23-12-2022)
Lantas mengapa malah ajaran Islam yang dituding sebagai agama yang melahirkan tindakan tersebut?
Segelintir Elite Berkuasa
Sebenarnya, pernyataan tokoh di atas sedang mengonfirmasi bahwa penyebab terjadinya tindakan radikalisme terorisme adalah segelintir elite berkuasa. Ini karena merekalah yang menyebabkan terjadinya berbagai persoalan krusial seperti ketimpangan ekonomi, kebodohan, dan ketakadilan hukum.
Ketimpangan ekonomi akibat dari buruknya pengurusan distribusi harta. Sistem ekonomi neoliberalisme yang menjadi dasar kebijakan penguasa hanya akan menjadikan harta berputar pada orang kaya saja. Para pemilik modal memiliki kekuasaan tidak terbatas sebab tidak ada batasan dalam kepemilikan. Mereka bisa menguasai SDA yang itu merupakan hajat hidup orang banyak.
Selain liberalisasi kepemilikan, sistem ekonomi kapitalisme pun memosisikan negara sebagai regulator saja sehingga yang mengurusi kebutuhan rakyat adalah swasta. Jika sudah swasta, maka orientasinya adalah revenue, bukan terpenuhinya seluruh kebutuhan rakyat. Misalnya, jika air dan listrik sudah dikuasai swasta, maka yang bisa mengakses hanyalah yang memiliki uang. Inilah mengapa sistem ini terus memperuncing ketimpangan ekonomi dan juga sosial.
Kebodohan pun lahir dari buruknya pengurusan sistem pendidikan. Sistem pendidikan vokasi link and match dengan industri, misalnya, hanya akan melahirkan individu-individu yang siap bekerja untuk perusahaan besar milik asing. Kurikulumnya pun sengaja didesain untuk menjadikan anak didik sebagai buruh murah. Akhirnya, mereka pintar secara teknis, tetapi bodoh dalam melihat berbagai persoalan, termasuk persoalan bangsa.
Sistem pendidikan sekuler kapitalisme pun telah nyata menciptakan kebodohan pada generasi. Pemudanya dijauhkan dari pendidikan agama dan didekatkan dengan kebebasan. Akhirnya, kenakalan remaja merajalela. Bisnis game online, bisnis poronografi, bahkan bisnis prostitusi telah berhasil menjaring pemuda sebagai pelaku di dalamnya. Inilah kebodohan yang dilakukan secara sistematis.
Begitu pun ketakadilan hukum, tajam ke bawah tumpul ke atas. Peradilan sekuler kapitalisme memang secara gamblang mempertontonkan ketakadilan hukum. Jaksa Pinangki, misalnya, yang hanya dipenjara 2 tahun, padahal telah korupsi miliaran rupiah dan merugikan negara triliunan rupiah. Bandingkan dengan kasus pencuri beras di Surabaya yang terancam 5 tahun penjara.
Hukum bukan hanya tajam ke bawah tapi juga runcing ke lawan dan tumpul ke kawan politik. Lihatlah bagaimana sulitnya kasus Sambo terusut tapi hanya alasan “sepele”, HRS dibui. Atau lihatlah ormas HT1 yang ikhlas membina umat dan menasihati penguasa, malah dipukul. Namun, pada saat yang sama, ormas yang sering melakukan kerusuhan malah seperti “dipelihara”.
Inilah seabrek persoalan yang dihasilkan dari buruknya pengurusan penguasa dalam sistem demokrasi. Penguasa sibuk menumpuk harta dan menjaga kekuasaan, tetapi rakyatnya terbengkalai. Tidak terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat dan zalimnya penguasa akan melahirkan anarkisme, radikalisme, bahkan terorisme.
Namun, mengapa yang dilabelisasi teroris radikal adalah umat Islam?
Tuduhan Keji
Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita analisis terkait penyebab Islam yang dituding. Pertama, karena penguasa butuh kambing hitam atas karut marutnya persoalan bangsa yang telah jelas dihasilkan dari buruknya pengurusan negara. Korupsi berjemaah yang dilakukan oleh hampir dari seluruh pejabat, misalnya, tidak boleh menjadi buah bibir masyarakat. Jadi, bukan sesuatu yang mustahil jika kasus-kasus “settingan” yang bahkan melibatkan nyawa manusia sengaja dihadirkan untuk menutupi megakorupsi.
Kedua, karena ajaran islam politik menjadikan umat makin mampu melihat akar persoalan bangsa. Mereka yang terbina dengan Islam kafah akan sangat paham cara seharusnya negara ini dikelola, karakter seorang pemimpin, kebijakan itu harus dibuat berdasarkan kemaslahatan umat, bukan pejabat atau korporat.
Akibatnya, Islam politik yang kerap melakukan kritik terhadap kebijakan penguasa harus dijadikan musuh bersama agar umat menjauhi para pengembannya dan tidak mau mengambil ajarannya. Padahal, semua itu adalah apa yang diberikan Allah Taala dan Rasul-Nya.
Misalnya, ajaran Khilafah yang terus dimonsterisasi. Jika umat paham sistem Khilafah adalah sistem terbaik bagi peradaban umat manusia, rakyat pun akan menuntut untuk mengganti sistem demokrasi kapitalisme ini dengan sistem Khilafah ala minhaj nubuwwah.
Ketiga, karena propaganda ini adalah agenda global yang sengaja diaruskan Barat pada dunia, terutama kepada negeri-negeri muslim. Radikalisme dan terorisme yang mengantarkan kepada islamofobia akut, kini diidap umat dunia, termasuk umat islamnya sendiri sehingga kucuran dana begitu deras mengalir pada program-program deradikalisasi.
Sebagai negara pengikut, Indonesia begitu getol menyelenggarakan deradikalisasi dan giat menstigmatisasi apa-apa yang terkait dengan islam. Misalnya, dengan menyebut pesantren sebagai sarang teroris, ulamanya disebut teroris, pengembannya disebut radikalis, sekolah berbasis Islam termasuk PAUD sebagai bibit terorisme, dan lainnya.
Mengapa kafir penjajah begitu menggebu mempropagandakan moderasi sebagai solusi atas paham radikalisme dan terorisme? Ini karena mereka memiliki kekhawatiran yang sangat besar terhadap adanya kebangkitan Islam. Walaupun mereka sangat paham bahwa menghadang kebangkitan Islam bagaikan menghalangi terbitnya matahari. Sungguh mustahil terjadi.
Dari sini bisa kita lihat, sejatinya radikalisme dan terorisme hanyalah alat gebuk elite berkuasa kepada para pengemban dakwah Islam politik. Juga sebagai mesin penghancur gerakan islam yang menginginkan kebangkitan islam.
Khatimah
Wahai kaum muslim, sejatinya musuh agamamu begitu takut akan tegaknya Khilafah. Ini karena mereka sangat paham bahwa sistem Khilafah adalah sistem terkuat yang pernah memimpin umat manusia di dunia. Selama 13 abad menguasai hampir 2/3 bagian dunia, peradaban Islam mampu menciptakan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya yang tidak pernah diberikan oleh peradaban mana pun. Jika tegak, hancurlah peradaban sampah mereka.
Oleh karena itu, wahai para pengemban dakwah syariat dan Khilafah, tidak ada waktu lagi untuk kita berleha-leha. Ini karena kerusakan akibat peradaban busuk ini makin besar. Harus segera diakhiri dengan tegaknya sistem islam, Khilafah Islamiah.
Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Lalu Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan yang zalim. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan Al-Bazzar). Wallahualam. [MNews]

Umat Islam harus Istiqomah dengan keislamannya