Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.
Muslimah News, OPINI — Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh pihak. Terlebih pada era Industri, perusahaan dianggap bertanggung jawab besar karena mereka sangat membutuhkan SDM yang berkualitas. Inilah yang menjadi pemikiran sistem hari ini, yakni menyerahkan perihal pendidikan kepada swasta.
Pendidikan Vokasi
Salah satu upayanya adalah melalui pelatihan atau pendidikan vokasi demi mengembangkan daya saing sektor industri dalam negeri. Pemerintah dan swasta terus menggenjot anak-anak yang tengah menempuh studi di sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan memperhatikan penyelarasan kurikulum, penyediaan praktisi industri, dan penguatan sarana prasarana untuk teaching factory.
PT Tera Data Indonesia Tbk., misalnya, melalui program corporate social responsibility (CSR) “Axioo Class Program”, mereka memberikan ratusan unit laptop Axioo dan spare parts-nya kepada perwakilan 200 SMK rintisan dan binaan Axioo terpilih 2022. Selain itu, ada bantuan berupa pelatihan guru, magang guru dan siswa, guru tamu, sertifikasi industri untuk guru dan lulusan, kelas industri, kurikulum industri, serta perekrutan lulusan senilai hampir Rp11,5 miliar. (Tribun News, 20-11-2022).
Bantuan ini merupakan bentuk dukungan terhadap program Kemendikbudristek, yakni program SMK Pusat Keunggulan Skema Pemadanan Dukungan yang memiliki semangat kolaborasi antara pendidikan vokasi dan industri. Program ini bertujuan menghasilkan lulusan yang terserap di dunia kerja atau menjadi wirausaha melalui kerja sama dengan sektor industri.
“Budak Korporat”
Nyatanya, euforia pendidikan vokasi hanya menghasilkan banyak “budak korporat”, julukan bagi orang yang rela mengabdikan hidupnya di perusahaan tempat ia bekerja. Baginya, bekerja di perusahaan besar merupakan dambaan dan kunci kesuksesan.
Tidak masalah jika matahari belum terbit, ia sudah pergi; dan saat sudah larut malam, ia baru pulang. Kesehariannya terus-terusan memikirkan pekerjaan demi status mapan dan memiliki kehidupan yang ia anggap layak. Impian “budak korporat” ini pun sebatas memiliki rumah dan mobil mewah, serta fasilitas hidup yang “wah”. Mereka berfokus pada kebahagiaan diri sendiri dan terus mengejar materi.
Itulah yang tengah menjerat anak-anak muda. Mereka tidak pernah punya ruang untuk memikirkan nasib bangsa yang tengah dijajah di segala bidang, termasuk ekonomi. Pemuda Indonesia diajak untuk terus menutup mata atas segala yang terjadi di masyarakat sekitar.
Limbah industri yang mencemari lingkungan, hilangnya mata pencarian bertani karena lahannya dialihfungsikan, rumah-rumah hilang akibat kena gusur atas nama pertumbuhan ekonomi, kemiskinan yang makin akut akibat barang-barang kebutuhan pokok terus naik, dan sebagainya.
Mereka juga dibuat tuli dan bisu terhadap ayah yang sulit mendapatkan pekerjaan, ibu membanting tulang “menafkahi” keluarga, kakak terjerat pergaulan bebas, ataupun adik yang mengalami gizi buruk. Padahal, semua ini terjadi akibat bercokolnya perusahaan-perusahaan besar milik asing yang terus menambang keuntungan di dalam negeri.
Anak bangsa juga dibuat buta terhadap permasalahan bangsa dan berfokus pada kehidupan pribadi saja. Mereka tidak sadar bahwa pengabdian terhadap korporasi multinasional itu sejatinya sedang mengukuhkan penjajahan terhadap negerinya sendiri. Padahal lagi, sulitnya mendapatkan rumah layak dan sejumlah fasilitas hidup adalah akibat negeri ini tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Seluruhnya dikuasai perusahaan asing, aseng, maupun asong (swasta lokal).
Ulah Kapitalisme
Lalu apa yang menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut tetap eksis? Jawabannya adalah ulah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang makin kuat mencengkeram negeri. Sistem inilah yang menjadi tiket masuk korporasi asing menguasai kekayaan negeri. Padahal, pemilik hakiki SDA yang melimpah itu adalah rakyat. Sudah seharusnya individu dilarang untuk memilikinya.
Namun, atas nama kebebasan kepemilikan yang menjadi spirit sistem ekonomi kapitalisme ini, seluruh kekayaan menjadi “sah” diambil alih oleh individu. Siapa saja yang memiliki kekuatan untuk memiliki, ialah berhak menguasai. Tidak peduli entah hal tersebut menzalimi pihak lainnya. Sementara itu, pemilik kekuatan adalah mereka yang bermodal besar. Inilah jalan atas terjajahnya di negeri ini oleh perusahaan multinasional.
Sistem ekonomi kapitalisme pun menjadikan pemerintahan tunduk pada korporasi. Ini karena pemilik modal sistem demokrasi memang mampu menyetir para politisi. Akhirnya, kebijakan pemerintah selalu saja pada pengusaha. Lihat saja UU Omnibus Law dan UU lainnya, kian hari makin terlihat keberpihakannya pada mereka.
Tidak heran jika seluruh urusan umat malah diserahkan pada swasta. Ini karena pemerintah hanya berperan sebagai regulator yang siap mengamankan aset swasta. Saking berkelindannya para pengusaha dan penguasa di negeri ini, rakyat sampai sulit membedakan mana pemimpin perusahaan dan mana pemimpin rakyatnya. Semuanya bekerja hanya untuk kepentingan sendiri, bukan untuk rakyat banyak.
Begitu pun dengan pendidikan vokasi, link and match dunia pendidikan dan dunia industri yang tengah dideraskan pemerintah sejatinya hanya untuk mengakomodasi keinginan korporasi untuk memiliki SDM murah, tetapi berkualitas. Kualitasnya pun sesuai dengan kebutuhan perusahaan, bukan negara. Artinya, dalam tata kelola sistem ekonomi kapitalisme, seluruh kendali ada di tangan korporasi, mulai dari arah politik hingga pendidikan.
Sementara itu, yang menjadikan korporasi berkuasa adalah peradaban kapitalisme. Inilah yang pada akhirnya menjadikan pemuda serupa sekrup-sekrup kapitalisme. Keahlian dan kepiawaian mereka hanya untuk makin memperkukuh kedigdayaan peradaban Barat.
Bukan Pihak Korporat, Melainkan Syariat
Potensi pemuda sungguh tengah dikerdilkan sistem sekarang. Padahal, pemuda adalah sosok yang mampu mengembalikan peradaban mulia, yaitu Islam. Dengan kekuatan akalnya, pemuda mampu melahirkan berbagai terobosan untuk menyelamatkan umat manusia. Kekuatan mata dan hatinya akan melahirkan kepekaan terhadap persoalan yang tengah menimpa umat.
Pendidikan dalam Islam akan mampu menjadikan pemuda sebagai garda terdepan dalam seluruh persoalan karena berbasiskan akidah Islam, bukan berbasis link and match dengan industri. Mereka akan terus dididik agar mampu memahami hakikat penciptaan, yaitu beribadah kepada Allah Taala. Terbentuklah kepribadian Islam yang kuat dan kukuh dalam diri para pemuda.
Mereka pun dipahamkan bahwa yang membimbing umat manusia adalah Al-Qur’an, sedangkan konsekuensi atas keimanannya pada Sang Pencipta adalah terikat seluruhnya dengan aturan Allah Taala. Jadilah mereka itu pemuda taat syariat, bukan “budak korporat”.
Dalam hidupnya, mereka akan terus berambisi untuk menolong umat, bukan memperkaya diri sendiri. Mereka akan mampu melihat bahwa kesengsaraan umat saat ini adalah akibat dunia tidak menerapkan syariat, termasuk dalam kehidupan bernegara. Dengan begitu, dalam kesehariannya, para pemuda akan terus berjuang mengembalikan kehidupan Islam agar seluruh persoalan umat dapat terselesaikan.
Jika para pemuda Islam telah paham tentang akar persoalan kehidupan, kemudian berambisi untuk mengembalikan kehidupan Islam, sejatinya ini merupakan kekuatan besar yang akan menggetarkan musuh. Tercatat dalam sejarah, para pemuda Islam telah menorehkan tinta emas atas kemenangannya melawan kafir penjajah. Sebut saja Khalifah Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel, membawa Islam pada kemenangan saat usianya yang masih belia.
Khatimah
Sungguh, “budak korporat” sengaja diciptakan Barat sebagai upaya mengukuhkan penjajahan Barat atas kaum muslim. Barat pun paham betul bahwa potensi pemuda muslim yang luar biasa harus dikerdilkan dengan menyuburkan wahn pada diri-diri umat.
Rasulullah saw. bersabda, “Hampir saja bangsa-bangsa memangsa kalian sebagaimana orang lapar menghadapi meja penuh hidangan.” Seseorang bertanya, “Apa saat itu kita sedikit?” Beliau menjawab, “Bahkan saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian dan Allah sungguh akan mencampakkan penyakit wahn dalam hatimu.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu wahn?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud).
Dengan demikian, butuh upaya sungguh-sungguh untuk menyelamatkan para pemuda agar bangun dari tidurnya, serta kembali berjuang dan berkarya untuk umat. [MNews/Gz]
