[Tarikh Khulafa] Yazid III dan Perpecahan Bani Umayyah

[Tarikh Khulafa] Yazid III dan Perpecahan Bani Umayyah

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Yazid bin Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam atau Yazid III memimpin kudeta terhadap Khalifah Al-Walid II, saudara sepupunya sendiri, hingga berujung terbunuhnya sang khalifah.

Sebelum Al-Walid II dibunuh, Yazid III sudah mengumumkan baiat bagi dirinya sendiri di sebuah perkampungan bernama Al-Mazzah. Masa pemerintahannya sangat pendek, hanya enam bulan. Lalu ia harus menghadap Sang Pencipta dengan meninggalkan Dinasti Umayyah dalam keadaan berpecah belah.

Membanggakan Silsilah Keturunan

Yazid III pernah bersyair, “Aku adalah putra Kisra, padahal ayahku Marwan. Kaisar adalah kakekku, juga kakekku Khagan.”

Silsilah keturunannya mengumpulkan darah Arab, Persia, Romawi, dan Turki. Kakeknya dari pihak ayah adalah Abdul Malik bin Marwan, seorang Arab tulen. Kakeknya dari pihak ibu adalah pangeran Persia, Fairuz bin Yezderged. Neneknya dari pihak ibu adalah putri Kaisar Romawi, Sedangkan ibu dari neneknya itu adalah putri Khagan (raja) Turki. Yazid III sangat membanggakan silsilah keturunannya ini.

Kudeta Berdarah dan Pembaiatan Yazid III

Saat memimpin revolusi berdarah atas kepemimpinan Khalifah Al-Walid II, Yazid III telah mengumumkan baiat bagi dirinya sendiri, kemudian ia bergerak ke Damaskus dan menguasainya.

Yazid III mengirim saudara sepupunya yang lain, Abdul Aziz bin Al-Hajjaj bin Abdul Malik untuk menyerang Khalifah Al-Walid II dengan pasukan yang terdiri dari orang-orang Yaman. Mereka pun menyerang dan membunuh sang Khalifah di Al-Bakhra.

Setelah Al-Walid II terbunuh, Yazid III pun dibaiat ulang di Damaskus. Dengan demikian, ia menjadi khalifah ke-12 dalam silsilah Dinasti Umayyah. Ia digelari Yazid An-Naqish (si Kurang) karena kebijakannya yang mengurangi gaji angkatan bersenjata yang sebelumnya dinaikkan oleh Al-Walid II.

Setelah pembaiatan, Yazid III menyampaikan pidato pertamanya di hadapan umat Islam dengan pidato yang sangat panjang, berisi bahwa pembunuhan terhadap Al-Walid II adalah legal karena ia melakukannya setelah beristikharah kepada Allah. Dalam pidatonya, Yazid III juga menyampaikan kebijakan pengelolaan harta Baitulmal seluruhnya untuk kesejahteraan warga negara.

Dengan pidato panjang itulah Yazid III memulai masa pemerintahannya yang pendek. Kudeta berdarah yang dilakukannya telah menjerumuskan Bani Umayyah ke dalam berbagai tragedi yang tidak semestinya mereka derita, serta membuat mereka sibuk menghadapi berbagai konflik berdarah antara mereka sendiri. Hal ini sangat melemahkan eksistensi dan menghancurkan kekuatan negara.

Di sisi lain, ternyata Yazid III tidak mampu memenuhi janji-janjinya kepada rakyat dan malah condong kepada kelompok Yaman yang telah membantunya merebut kekhalifahan. Ia pun harus mengucurkan banyak dana bagi mereka sehingga menyebabkan terkurasnya harta Baitulmal. Kondisi ini memaksanya mengurangi gaji angkatan bersenjata. Suku Mudhar juga makin menjauh dari Yazid III karena keberpihakannya kepada kelompok Yaman.

Perpecahan Pemerintahan Bani Umayyah

Tidak lama setelah Yazid III menduduki singgasana kekhalifahan, berbagai daerah di negeri Syam memberontak. Daerah yang menjadi pelopornya adalah Homs. Penduduk kota itu menolak pembaiatan Yazid III.

Untuk itu, mereka berkorespondensi dengan para petinggi angkatan bersenjata guna mengajak mereka menuntut balas atas pembunuhan Al-Walid II. Yazid bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah dan Abu Muhammad As-Sufyani pun bergabung dengan mereka.

Yazid III mengetahui pergerakan mereka sehingga segera mengadang mereka dengan dua pasukan. Kedua pasukan itu mengalahkan penduduk Homs dan membawa Yazid bin Khalid dan Abu Muhammad As-Sufyani untuk ditawan di Damaskus oleh Yazid III.

Mengetahui pemberontakan penduduk Palestina, penduduk Yordania pun memutuskan untuk memberontak juga. Mereka mencabut baiat dan ketaatan untuk Yazid III dengan mengangkat Muhammad bin Abdul Malik sebagai pemimpinnya.

Mengetahui pergerakan mereka, Yazid III mengirimkan saudara sepupunya, Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik dengan pasukan berjumlah besar yang terdiri atas penduduk Damaskus dan Homs yang loyal kepadanya. Sulaiman bin Hisyam berhasil mengalahkan pasukan Yordania dan membuat mereka kembali membaiat Yazid III.

—

Demikianlah, Yazid III harus memadamkan api pemberontakan yang membakar pemerintahannya di berbagai daerah di negeri Syam setelah ia menggulingkan Al-Walid II.

Setelah enam bulan memerintah, Yazid III meninggal dengan negeri Syam—benteng kokoh Dinasti Umayyah—dalam keadaan terbakar. Ia juga meninggalkan anak-anak dan keluarga besarnya dalam keadaan berpecah belah menjadi dua kelompok besar. Satu sama lain saling menyerang hingga melupakan berbagai bahaya yang mengancam negara. [MNews/Rgl]

Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Pustaka Al-Kautsar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *