Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA — Sobat muslimah, pada 28 Oktober kemarin, negeri ini kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-94. Peringatan ini merupakan momentum yang menunjukkan peran pemuda dalam memerdekakan bangsa dari penjajahan. Tahun ini, peringatan Hari Sumpah Pemuda mengusung tema “Bersama Bangun Bangsa”.
Di tengah keterpurukan bangsa dalam berbagai aspek, kehadiran para pemuda memang ditunggu-tunggu. Meski demikian, di tengah peringatan peristiwa bersejarah itu, sejumlah masalah pun melingkupi para pemuda.
Pemuda dalam Lingkaran Problematik
Masa muda merupakan fase ketika manusia berada di titik produktivitas yang tinggi. Semangat mereka membara dengan dukungan fisik yang tangguh. Kreativitas pemuda selalu mengundang decak kagum masyarakat. Sayangnya, potensi besar pemuda ini berkelindan dengan berbagai problem akut yang justru membajak potensi mereka.
Saat ini, pemuda masih lekat dengan kasus narkoba, perundungan, L687, pelecehan seksual, pergaulan bebas, dan lain-lain. Kasus HIV/AIDS di Indonesia bahkan tertinggi di kalangan generasi muda. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan, pada 2022, sebanyak 1.188 anak Indonesia usia 15—19 tahun positif HIV. Di sisi lain, penyakit mental menjadi teror baru bagi generasi muda. Tren bunuh diri dan gangguan mental dengan berbagai jenisnya kian meningkat. Meresahkan banget, ya, kan?
Dunia digital yang akrab dengan generasi muda ibarat dua sisi mata uang. Ada peluang, tetapi jebakannya pun banyak. Dunia maya yang menawarkan banyak kemudahan, tidak sedikit menjebak pemuda dalam berbagai masalah. Bejibun video tidak senonoh seliweran di dunia maya. Tanpa malu-malu, generasi harapan bangsa itu mengekspresikan diri dengan penuh kebebasan.
Sementara itu, krisis adab dan akhlak jadi masalah tersendiri. Alhasil, dalam keseharian, generasi muda kita lekat dengan sifat cuek, asosial, bahkan cenderung brutal. Makanya, tidak sedikit yang berpendapat bahwa krisis jati diri melanda para pemuda. Jika sudah seperti ini kondisinya, bagaimana bangsa ini bisa berharap para pemuda bangkit membangun bangsa?
Mengapa Terjadi?
Sobat muslimah, membahas setiap sisi kehidupan generasi muda tidak lepas dari arah pandang mengenai kehidupan, berikut sistem yang melingkupi manusia. Tindakan yang manusia lakukan pada dasarnya ditentukan oleh pandangannya mengenai kehidupan. Pemahamannya mengenai dari mana ia berasal, apa tujuannya di dunia ini, dan hendak kemana setelah kehidupan dunia, akan menuntun setiap tindakan manusia.
Dengan demikian, mendiagnosis masalah pemuda saat ini harus dimulai dari memahami apa yang menjadi landasan berpikir mereka. Setiap hendak melakukan tindakan, pasti akan ada berbagai pertimbangan berdasarkan pemikiran tadi. Jika kembali pada pembentukan pemikiran yang berdasarkan pada pemahaman mengenai dari mana manusia berasal, apa tujuan hidup di dunia, dan hendak kemana setelah kehidupan ini, niscaya tidak akan ada manusia yang berbuat dengan mengandalkan perasaan saja.
Di sisi lain, kondisi pemuda saat ini juga tidak lepas dari arus budaya Barat yang terus menerornya. Budaya tersebut menyusup di ruang-ruang privat generasi melalui tontonan yang berubah jadi tuntunan. Dunia maya menjadi ruang bebas yang menawarkan hal itu. Karakter dunia maya yang mudah membuat remaja mudah menyerap dan mentransfer apa pun yang mereka dapati di ruang digital.
Alhasil, pembajakan potensi pemuda kian leluasa. Alih-alih memikirkan bangsa, pemuda kita kian cuek dan tenggelam dalam sifat individualisnya. Jikapun ada suara sosok milenial yang muncul menyuarakan masalah bangsa, suara mereka tersandera dalam euforia politik ala sekularisme.
Perspektif Islam
Krisis jati diri yang pemuda alami saat ini, salah satunya karena mereka tidak memiliki paradigma berpikir yang khas. Khas karena tuntunannya menyentuh tataran akhirat, bukan hanya dunia. Jika pemuda mampu memecahkan tiga pertanyaan mendasar di atas, niscaya dalam berbuat mereka memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Mereka pun akan menjadi sosok pemuda tangguh yang dapat menjadi pembangun peradaban. Mengapa? Sebab pemuda menjalani hidup dengan prinsip yang khas.
Pemuda tidak akan mudah terombang-ambing menjalani hidup. Banyak, lo, sahabat Rasulullah yang sejak usia remajanya sudah disegani karena memiliki prinsip hidup yang khas. Sebut saja Ali bin Abu Thalib. Pada usia yang masih belia, beliau mempertaruhkan nyawanya untuk menggantikan Rasulullah saat kaum Quraisy mengepung rumah Rasulullah ketika hendak berhijrah ke Madinah.
Ada pula Mush’ab bin Umair. Kecintaannya terhadap Islam membuatnya rela menanggalkan segala popularitas dan kemewahan dunia yang ia miliki, untuk memperjuangkan Islam. Ada pula Muhammad al-Fatih yang pada usia mudanya menjadi penakluk Konstantinopel. Kisah Shalahuddin al-Ayyubi juga menjadi sejarah perjuangan pemuda yang tidak terlupakan sisi heroiknya.
Cita-cita membangun peradaban bertemu dengan mentalitas keimanan pada diri pemuda adalah kekuatan besar dan tiada bandingannya. Ini karena, pemahaman akan tujuan hidup semata untuk beribadah kepada Allah, telah menuntun mereka untuk melakukan perbuatan berlandaskan rida Allah. Prinsip ini membuat pemuda mampu melejitkan potensinya untuk membangun peradaban yang kukuh. Inilah yang tercatat dalam peradaban Islam.
Oleh karena itu, menjadikan Islam sebagai landasan cita-cita akan membuat spirit perjuangan pemuda lebih bermakna. So, para pemuda, umat menunggu masa produktif kita, Sobat. Umat saat ini menunggu para pemuda untuk mengoptimalkan amal terbaik. Catat, masa muda adalah masa untuk memberikan yang terbaik untuk Islam. Bagaimana? Are you ready? Allahu Akbar! [MNews/Rgl]
