Yazid bin Abdul Malik (101—105 H)

Yazid bin Abdul Malik (101—105 H)

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam dibaiat sebagai khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz wafat pada Rajab 101 H. Yazid II ini dilahirkan di Damaskus dan sebelum menjabat sebagai khalifah, ia banyak bergaul dengan para ulama. Hanya saja setelah menduduki kursi kekuasaan, para penasihatnya yang tidak hanif membiarkan penyimpangan yang dilakukan Yazid II sebagai kepala negara.

Salah Memilih Penasihat

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ketika menjabat sebagai khalifah, Yazid II bertekad untuk meneladani sikap dan perjalanan hidup Umar bin Abdul Aziz. Namun, para penasihatnya yang buruk tidak membiarkan itu terjadi. Mereka membuatnya memandang baik kezaliman.”

Hal senada juga disampaikan oleh Harmalah, “Dari Ibnu Wahb dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ia bercerita, Ketika Yazid II menjabat sebagai khalifah, ia berkata kepada dirinya sendiri, ‘Berjalanlah sesuai perjalanan hidup Umar.’ Namun, hal ini dilakukan Yazid II hanya selama empat puluh hari. Setelah itu, ia mengundang empat puluh orang penasihat yang menyampaikan kepadanya bahwa para khalifah tidak akan dihisab dan diazab.”

Pernyataan ini dipertegas dengan kisah Umar bin Hubairah, Wali Irak yang diangkat oleh Yazid II ketika ia memanggil Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, dan Hasan al-Bashri. Kepada mereka Umar bin Hubairah berkata, “Yazid bin Abdul Malik adalah khalifah Allah yang diangkat atas para hamba-Nya, ia mengambil baiat mereka untuk loyal kepadanya dan mengharuskan kita untuk mendengar dan patuh pada perintahnya. Ia telah mengangkatku sebagaimana yang telah kalian lihat. Ia mengirimkan surat kepadaku berisi perintah yang harus kulaksanakan. Akupun mengikuti perintahnya itu. Bagaimana menurut pendapat kalian?”

Ibnu Sirin dan Asy-Sya’bi mengutarakan jawaban yang mengandung taqiyah (tidak terus terang). Lantas Umar bin Hubairah berkata, “Bagaimana pendapatmu wahai Hasan?”

Nasihat Ulama untuk Penguasa

Hasan al-Bashri menjawab, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah terhadap Allah di jalan Yazid dan jangan takut kepada Yazid di jalan Allah, karena Allah akan melindungimu dari Yazid, sedangkan ia tidak dapat melindungimu dari Allah. Aku khawatir kalau-kalau Allah mengutus malaikat-Nya kepadamu lalu menurunkanmu dari singgasanamu, lalu mengeluarkanmu dari luasnya istanamu menuju sempitnya lubang kuburmu, lantas tidak ada yang dapat menyelamatkanmu kecuali amalmu. Wahai Ibnu Hubairah, engkau kuperingatkan jangan sampai mendurhakai Allah, kecuali Allah menjadikan kekuasaan ini sebagai penolong bagi agama Allah dan para hamba-Nya. Maka, jangan sampai engkau meninggalkan agama Allah dan hamba-hamba-Nya dengan kekuasaan Allah itu karena tiada ketaatan pada mahluk dalam mendurhakai Sang Khalik.”

Ulama Mencegah Kezaliman Penguasa

Tanggung jawab ulama sangatlah besar. Apabila mereka saleh, maka mereka dapat memperbaiki para umara (pemimpin). Apabila para umara saleh, maka urusan rakyat menjadi baik.

Andaikan pada setiap waktu dan tempat ada ulama sekelas Hasan al-Bashri yang berani menghadapi penguasa dengan nasihat yang tulus dan menyampaikan kebenaran, tentulah tidak ada penguasa yang berbuat zalim terhadap rakyatnya. Ini karena keberadaan ulama yang saleh seperti itu akan mendorong masyarakat menuntut hak-hak mereka dan membuat mereka tidak tunduk kepada kezaliman. Dalam kondisi seperti ini, para penguasa tidak mempunyai pilihan selain memperhatikan kebutuhan rakyat.

Tidak bisa dimungkiri, sangat besar pengaruh orang-orang di sekitar penguasa terhadap kepemimpinan mereka dalam mengelola negara. Penguasa adalah manusia biasa yang diperebutkan banyak kepentingan. Apabila ada orang yang senantiasa mengingatkan akan besarnya tugas dan tanggung jawab seorang khalifah serta membuatnya takut akan pertanyaan Allah kepadanya pada yaumulhisab mengenai urusan umat, maka penguasa itu akan berhati-hati dari bermaksiat dan berbuat zalim kepada siapa pun.

Negara Masih Kuat

Orang-orang yang berada di sekitar Yazid II kebanyakan bukan penasihat yang saleh sehingga khalifah tidak memiliki imunitas yang kuat untuk dapat menghalangi dirinya dari gemerlap godaan dunia. Akibatnya, ia tidak mampu bertahan menghadapinya, lantas menyerah pada hawa nafsu, hura-hura, dan kesenangan.

Meskipun perilaku Yazid II seperti itu, tetapi negara masih kuat. Dinasti Umayyah masih memiliki tokoh-tokoh seperti Maslamah bin Abdul Malik, Abbas bin Al-Walid, Marwan bin Muhammad, dan sebagainya. Tokoh-tokoh ini mampu menutupi kekurangan pemimpin mereka dengan ketangkasan dalam berperang, yakni jihad fisabilillah.

Maslamah bin Abdul Malik mampu menghalau pemberontakan Yazid bin Muhallab. Ini merupakan pemberontakan yang paling mengancam eksistensi negara. Ia juga mampu menumpas pemberontakan khawarij yang dipimpin Syaudzab.

Keberadaan para tokoh ini mampu menghalau berbagai bahaya yang mengancam eksistensi negara, baik pemberontakan di dalam negeri maupun serangan luar terhadap wilayah perbatasan negara. Akhirnya, hal ini mampu memperpanjang usia Dinasti Umayyah sampai seperempat abad kemudian atau lebih. [MNews/Rgl]

Sumber:

Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Pustaka Al-Kautsar

Foto sampul: Okezone

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *