[Kabar] Duka Korban Anak Tragedi Kanjuruhan Tidak Pantas Menjadi Prospek Bisnis

[Kabar] Duka Korban Anak Tragedi Kanjuruhan Tidak Pantas Menjadi Prospek Bisnis

Muslimah News, NASIONAL — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, bertemu dengan Presiden FIFA Gianni Infantino di Doha, Qatar, (5/10/2022).

“Organisasi sepak bola internasional itu juga siap memberikan dukungan maksimal, dengan pertimbangan potensi, popularitas, dan perkembangan sepak bola di Indonesia, serta dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang konstan, market yang besar, dan kondisi sosial politik yang stabil,” kata Erick melalui siaran pers.

Anak Aman

Di kesempatan berbeda, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra telah meminta Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan menemukan solusi agar anak-anak aman kala menyaksikan pertandingan sepak bola dan insiden maut di Malang tidak terulang.

Menurutnya, stadion harus memerhatikan kebutuhan keluarga yang menonton baik orang tua, anak dan bayi. Untuk itu, penting untuk menyediakan ruang khusus untuk ibu serta anak seperti ruang menyusui, kamar mandi bayi seperti tempat mengganti popok, serta ruang bermain anak yang bisa berfungsi juga dalam situasi darurat.

Arah pernyataan Presiden Jokowi tidak jauh berbeda. Presiden mengatakan, “Saya juga memerintahkan kepada Menteri PUPR untuk melakukan audit terhadap seluruh bangunan yang digunakan, baik dalam Liga 1, Liga 2, maupun Liga 3 untuk memperbaiki, baik itu pintu masuk, pintu gerbang, posisi duduk, pagar, dan lainnya sehingga keselamatan penonton, keselamatan suporter bisa kita utamakan.”

Tidak Pantas

Hal ini ditanggapi aktivis muslimah Endiyah Puji Tristanti, “Sangat tidak pantas, di tengah duka yang dialami keluarga korban anak tragedi Kanjuruhan, Menteri BUMN justru berbicara soal prospek bisnis sepak bola nasional,” ungkapnya kepada Mnews. Kamis (13/10/2022)

Lagi pula, sambungnya, siapa pihak yang bertanggungjawab atas insiden ini masih belum ditetapkan. Semua saling lempar tanggung jawab.

“Belum lagi,banyak yang mempertanyakan apakah kejadian ini murni kecelakaan, melihat begitu banyaknya korban meninggal maupun luka-luka. Terlebih, setelah pengakuan pihak Polri bahwa gas air mata yang digunakan kadaluarsa, di tengah kecaman publik atas penggunaan gas air mata di area semi-indoor. Sepertinya tanggungjawab hukum bukan perkara penting,” sesalnya.

Peluang Bisnis?

Endiyah pun mempertanyakan sebenarnya standarisasi stadion sepakbola ini karena pertimbangan faktor keselamatan publik atau faktor peluang bisnis olahraga?

“Bukankah anggota Executive Committee (Exco) PSSI, Hasani Abdulgani mengetahui masih banyak stadion yang belum memenuhi standar FIFA. Lalu mengapa tetap digunakan menggelar pertandingan sepak bola yang dihadiri ribuan penonton. Ini aneh jika harus menunggu jatuh korban baru bicara standarisasi,” kritiknya.

Endiyah menilai, ujung-ujungnya butuh investor untuk transformasi sepakbola Indonesia. Hal ini lanjutnya bisa dilihat dari pernyataan Hasani. “Saat ini sepak bola masih pakai izin keramaian, bukan izin industri. Izin keramaian tidak ada kepastian bagi investor. Ini membuat tidak ada klub atau investor yang mau membuat atau mengelola stadion,” ucap Endiyah menirukan kata Hasani.

No Free Lunch

Menurut Endiyah, dari sini penting untuk turut ditelaah. “Pasca-insiden, perwakilan FIFA tidak memberikan sanksi kepada PSSI. Justru Niko Nhouvannasak, pejabat FIFA Development Project Coordinator, (10/10) bertandang ke Indonesia untuk melakukan pendampingan dan memberikan dukungan kepada PSSI. Selain itu, Presiden FIFA Gianni Infantino dijadwalkan ke Indonesia dan bertemu Presiden RI Joko Widodo pada 18 Oktober mendatang dalam rangka mengawal transformasi sepak bola Indonesia,” terangnya memaparkan fakta.

Padahal, lanjutnya, semua tahu sekalipun FIFA adalah asosiasi nirlaba tetapi dalam setiap penyelenggaraan event sepakbola dunia, FIFA selalu meraup keuntungan yang menggiurkan.

“FIFA meraup US$4,8 miliar pendapatan dari Piala Dunia 2014 dan US$2,6 miliar laba untuk asosiasi itu. Di Piala Dunia 2018 Rusia ternyata menyumbang pemasukan fantastis mencapai 6,1 miliar USD atau setara Rp87 triliun kepada FIFA selaku penyelenggara,” bebernya sembari mengatakan, “Wow bukan!”

Ia menilai, no free lunch adalah rumus baku semua asosiasi kapitalis global. Eksploitatif berorientasi profit selalu menyertai setiap langkah mereka.

“Pemerintah Indonesia harus berhati-hati, bukan malah bangga dilirik FIFA. Keselamatan penonton diutamakan, sepertinya itu hanyalah dalih. Lebih tepat semata demi cuan, bukan kemanusiaan,” kritiknya.

Endiyah menyesalkan, jika duka korban anak tragedi Kanjuruhan dieksploitasi sedemikian hingga hanya untuk kepentingan industri bisnis olahraga nasional maupun internasional.

“Ini soal mindset kepemimpinan level negara. Tanggung jawab pemimpin terhadap masyarakat seharusnya dalam kerangka mengurusi pemenuhan hajat rakyat sebaik mungkin. Penjagaan terhadap jiwa/nyawa mutlak menjadi perhatian utama seorang kepala negara,” tegasnya.

Ia mengutip hadis Rasulullah saw., “Imam adalah penggembala dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusan (kemaslahatan) rakyatnya.”

“Presiden sebagai kepala negara harus visioner dan independen, tidak boleh bergantung pada dikte asosiasi internasional, termasuk dalam bidang olahraga,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *