Muslimah News, NASIONAL— Menanggapi kebahagiaan sebagian kalangan karena Indonesia mampu meraih kenaikan skor hasil Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2025, pengamat pendidikan dan generasi Yusriana menilai, ada kegagalan cara padang sekuler dalam menilai keberhasilan pendidikan. “Ini menunjukkan bahwa ada kegagalan cara pandang sekuler kapitalistik di mana negara terjebak pada pencapaian angka dan pemujaan indikator internasional. Skor naik dianggap berhasil padahal persoalan substansi pendidikan belum berubah,” tuturnya kepada MNews, Rabu (14-10-2026).
Ia menjelaskan, anak-anak Indonesia meraih kenaikan skor dibanding tahun 2022 lalu, khususnya pada skor literasi membaca dan sains. Pada keduanya, sambungnya, masing-masing terdapat kenaikan sebanyak 6 poin, dari semula 359 menjadi 365 untuk literasi membaca dan 383 ke 389 pada literasi sains.
”PISA, terangnya, adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang diikuti oleh lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Studi ini diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD),” jelasnya.
Menurutnya, skor PISA tidak bisa menggambarkan apakah lingkungan belajar sudah aman dan mampu membentuk karakter. “Buktinya di balik kenaikan angka skor, kasus bullying masih merajalela di banyak sekolah. Ini menegaskan bahwa sekolah dengan sistem sekuler hanya menjadi arena transfer pengetahuan yang kering bukan pembentukan akhlak,” kritiknya.
Miskin Empati
Ia mengatakan, saat akidah tercabut dari kurikulum akan lahir generasi yang pintar secara kognitif, tetapi miskin empati; unggul numerasi, tetapi lemah menghormati teman. Di sisi lain, lanjutnya, beban administrasi guru tidak masuk akal. “Ini menjadi bukti abainya negara pada peran hakiki guru. Guru terpaksa menjadi tukang input data dan operator aplikasi demi mengejar target kurikulum yang berubah-ubah. Energi guru habis untuk kertas, bukan untuk membimbing jiwa dan mencegah kekerasan di lingkungan sekolah,” sesalnya.
Ia membeberkan, pendidikan sekuler melahirkan kurikulum yang padat dan berganti-ganti sehingga menambah beban kognitif. “Anak dipaksa menghafal banyak materi demi mengejar asesmen, bukan untuk memahami ilmu secara mendalam. Jadi, jelas menjadikan skor sebagai tolok ukur keberhasilan adalah cara pandang yang terlalu sempit. Anak bukan angka, guru juga bukan mesin administrasi, dan sekolah bukan pabrik pencetak nilai,” jelasnya.
Dalam pandngannya, problem pendidikan tidak lahir dari ruang kelas semata, melainkan dari arah sistem secara keseluruhan. “Jika orientasi pendidikan hanya pada kebutuhan pasar dan indikator internasional, maka pendidikan akan kehilangan tujuan dasarnya, yaitu membentuk manusia seutuhnya,” simpulnya.
Butuh Visi Mendasar
Menurut Yusriana, dibutuhkan visi yang lebih mendasar dari pada sekadar skor, yaitu sistem yang menjadikan akidah Islam sebagai asas dan pembentukan insan bertakwa sebagai tujuannya. “Islam menjadikan pendidikan sebagai proses pembentukan kepribadian Islam. Negara bertanggung jawab menyediakan sistem pendidikan yang membentuk generasi beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu menyelesaikan persoalan kehidupan. Inilah jalan keluar hakiki untuk krisis mutu pendidikan yang tidak pernah akan ditemukan dalam sistem pendidikan sekuler kapitalis,” yakinnya.
Ia menguraikan solusi yang ditawarkan Islam. Pertama, ujarnya, menggeser orientasi pendidikan dari sekadar mengejar skor dan indikator internasional yang semu menuju generasi kualitas secara utuh.
”Kedua, kurikulum dirancang agar sesuai dengan tahap perkembangan anak, tidak membebani secara berlebihan, dan memberi ruang pemahaman yang mendalam,” ucapnya.
Ketiga, ungkapnya, memuliakan guru dan membebaskan dari belenggu administrasi. Keempat, sambungnya mewujudkan sekolah aman tanpa bullying dan kondusif bagi pembentukan akhlak.
”Kelima menyatukan ilmu dan takwa. Peradaban Islam tidak memisahkan agama dan sains. Tidak heran di masa peradaban Islam lahir al-Khawarizmi yang ahli matematika sekaligus ahli fikih. Ibnu Sina seorang dokter sekaligus hafiz,” ucapnya.
Keenam, urainya, negara dalam Islam hadir sebagai ra’in yaitu sebagai penjamin pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat. “Khalifah membangun kutab secara gratis di setiap desa yang dibiayai oleh baitulmal. Pendidikan tidak dijadikan sebagai komoditas, melainkan untuk kemaslahatan umat,” jelasnya.
Ia menegaskan, hanya dengan sistem pendidikan Islam kafah di bawah naungan negara yang berlaku sebagai raa’in yang bisa melahirkan generasi emas, beriman, berilmu, berakhlak, berkepribadian Islam, dan menjadi problem solver hakiki.
”Dengan pendidikan Islam, akan terwujud manusia yang tahu siapa dirinya, memahami untuk apa dia hidup, mampu membaca dunia, mempunyai keterampilan untuk mengubah dunia, serta siap mengambil amanah yang paling sesuai dengan potensinya,” pungkasnya. [MNews/Irianti]
