Muslimah News, NASIONAL — Menyoroti Surat Edaran tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan yang dikeluarkan Kementerian Agama, praktisi dan pemerhati pendidikan Citra Amalia, M.Pd. menilai, pembatasan gawai saja tidak cukup. “Membatasi gawai saja tidak cukup, siswa butuh pemahaman, bukan sekadar larangan,” tuturnya kepada MNews, Kamis (8-10-2026).
Ia beralasan, persoalan sebenarnya bukan sekadar apakah gawai berada di tangan siswa atau tidak, tetapi bagaimana siswa memandang gawai, belajar, waktu, dan tujuan hidupnya. “Jika siswa hanya memahami bahwa menggunakan gawai di sekolah adalah sesuatu yang dilarang, tanpa mendapatkan pemahaman tentang diri mereka dan tujuan hidupnya, mengapa mereka perlu fokus, mengapa waktu belajar harus dijaga, dan mengapa gawai bukanlah pusat kehidupan, maka aturan tersebut berpotensi hanya melahirkan kepatuhan selama ada pengawasan dan akan muncul celah diwaktu lain,” kritiknya.
Ketika pengawasan berkurang, lanjutnya, gawai bisa kembali menjadi pusat. Ini karena, ucapnya, ketika kesadaran tidak dibangun dan sistem tidak mendukung, aturan akan menjadi formalitas belaka.
Diajak Berpikir
Ia mengatakan, pelajar perlu diajak berpikir dan memahami bahwa fokus dalam belajar bukan sekadar tuntutan sekolah. ”Belajar adalah proses mendapatkan ilmu, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan. Waktu yang dimiliki pun sangat berharga. Ketika sebagian besar waktu habis untuk scrolling, bermain gim, mengikuti tren, atau berpindah dari satu konten ke konten lainnya, ada kesempatan belajar dan berkembang yang ikut hilang,” ulasnya.
Karena itu, menurutnya, persoalan gawai tidak cukup diselesaikan dengan kalimat larangan, tetapi disertai penjelasan. ”Siswa perlu memahami bahwa HP hanyalah alat dan teknologi, bukan tujuan hidup,” imbuhnya.
Ia mengulas, gawai dapat digunakan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, dan berkarya. ”Namun, ketika penggunaannya membuat seseorang kehilangan fokus, melalaikan kewajiban, membuang waktu, atau mengakses sesuatu yang merusak, maka kemampuan mengendalikan diri menjadi sangat penting,” jelasnya.
Tidak Berdiri Sendiri
Ia tidak menampik, perlunya sekolah membuat tata tertib agar proses pendidikan berjalan tertib dan kondusif. ”Namun, aturan tidak dapat berdiri sendiri. Jika pembatasan gawai hanya menjadi kebijakan administratif tanpa disertai pendidikan yang membangun kesadaran, maka tujuan hanya bisa diraih separuh. Siswa mungkin memahami bahwa HP tidak boleh digunakan selama pelajaran. Tetapi belum tentu memahami mengapa saya harus melakukan ini dan mengapa harus fokus dalam belajar meski tidak ada yang mengawasi,” bebernya.
Jika kesadaran akan adanya pengawasan atas perilaku tidak terbentuk, ia khawatir sebagian siswa justru berusaha mencari celah ketika aturan diterapkan. ”Mereka belum memiliki alasan internal yang cukup kuat untuk membatasi sesuatu yang tidak baik bagi dirinya,” terangnya.
Ia berpesan, jangan sampai pendidikan hanya menghasilkan anak yang tahu cara menghindaripelanggaran, tetapi tidak memahami alasan sebuah perilaku harus dihindari.
Menanamkan Akidah
Citra lalu membandingkannya dengan sistem Islam. “Islam tidak hanya membangun manusia dengan larangan dan perintah, tetapi menanamkan akidah yang menjadi dasar ketaatan,” jelasnya.
Ia mengutip QS Al-Isra ayat 36, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.”
”Ayat ini mengajarkan bahwa apa yang dilihat, didengar, dan dilakukan manusia bukan sesuatu yang bebas dari pertanggungjawaban,” tandasnya.
Prinsip ini dinilai sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini. “Apa yang dilihat melalui layar perlu dipertanggungjawabkan. Apa yang didengar dan dibaca juga perlu dipertanggungjawabkan. Bahkan bagaimana seseorang menggunakan waktunya pun tidak terlepas dari pertanggungjawaban kepada Allah Swt.” ulasnya.
Dengan pemahaman seperti ini, sambungnya, siswa tidak hanya belajar menggunakan gawai secara terbatas karena aturan sekolah, tetapi juga belajar mengendalikan dirinya karena sadar bahwa Allah selalu melihatnya.
”Ketika guru tidak melihat, Allah tetap melihat. Ketika orang tua tidak mengetahui, Allah tetap mengetahui. Ketika tidak ada pengawasan, ia tetap memiliki kesadaran untuk memilih apa yang bermanfaat dan meninggalkan apa yang merusak. Inilah kontrol diri yang sesungguhnya,” yakinnya.
Bagian dari Sistem
Karena itu, ia menilai, pembatasan gawai perlu menjadi bagian dari sistem pendidikan yang lebih menyeluruh. ”Sekolah perlu membangun budaya belajar yang membuat siswa memahami nilai ilmu dan pentingnya fokus. Guru perlu menjelaskan tujuan aturan, bukan hanya menyampaikan larangan. Orang tua perlu membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang sehat di rumah. Dan lingkungan sosial hingga negara juga perlu mendukung pembentukan generasi masa depan,” urainya.
Anak, ucapnya, tidak cukup diminta meletakkan HP di sekolah, tetapi setelah pulang ia berada dalam lingkungan yang terus mendorong konsumsi konten hiburan dan kesenangan instan tanpa batas.
“Di sinilah sistem pendidikan dan lingkungan harus berjalan bersama. Aturan sekolah perlu didukung pembinaan di rumah. Pembinaan di rumah perlu didukung lingkungan masyarakat. Dan kebijakan negara juga perlu menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu mengendalikan diri,” ujarnya.
Karena itu, lanjutnya, pembatasan gawai dapat menjadi salah satu langkah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. “Namun, ia harus berjalan bersama seperangkat aturan pendidikan lainnya serta sistem kehidupan yang mendukung,” tandasnya.
Menurutnya, tugas pendidikan bukan hanya memastikan siswa mengikuti aturan selama berada di sekolah, tetapi membentuk mereka agar mampu mengambil keputusan yang benar ketika berada di luar sekolah.
“Dan ketika aturan, pendidikan, keluarga, lingkungan, serta sistem kehidupan berjalan dalam arah yang sama, pembatasan gawai tidak berhenti menjadi larangan semata dan akan menjadi bagian dari proses membentuk generasi yang mampu memilih, mampu mengendalikan diri, dan memahami bahwa hidup tidak seharusnya dikendalikan oleh layer,” pungkasnya. [MNews/Irianti]
