[Kabar] Melemahkan Entitas Zion*s, Pengamat: Butuh Langkah Riil, Bukan Sekadar Walkout

[Kabar] Melemahkan Entitas Zion*s, Pengamat: Butuh Langkah Riil, Bukan Sekadar Walkout

Muslimah News, INTERNASIONAL — Pengamat hubungan internasional Hasbi Aswar, Ph.D. menegaskan bahwa melemahkan entitas Zion*s membutuhkan langkah riil, seperti embargo ekonomi dan pemutusan hubungan diplomatik, bukan sekadar walkout.

“Itu adalah langkah-langkah riil, bukan sekadar, misalnya, walkout. Walkout itu bukti protes, tetapi mungkin dalam bahasa agama itu tuh selemah-lemahnya iman,” ungkapnya kepada MNews, Selasa (13-06-26).

Ia menyampaikan, negara-negara Islam dapat melakukan embargo ekonomi dan boikot terhadap entitas Zion*s, meski tidak menjalin hubungan diplomatik.

“Kalau memang dunia Islam banyak yang tidak menjalin hubungan diplomatik secara formal, setidaknya bisa embargo secara ekonomi karena banyak yang tidak punya hubungan diplomatik, tetapi punya hubungan ekonomi, diembargo, diboikot dan seterusnya,” ujarnya.

Namun, ujarnya, perlu dipertanyakan apakah sikap sejumlah pihak tersebut murni didasari kepedulian terhadap Palestina atau karena kemarahan terhadap entitas Zion*s yang terus melakukan genosida di Gaza hingga memicu keterlibatan Houthi, Hizbullah, dan akhirnya Iran.

Ia menyatakan, keterlibatan Iran dalam peperangan saat ini menimbulkan dampak yang tidak hanya terbatas pada tingkat regional, tetapi juga internasional, terutama dalam bidang ekonomi.

“Jadi, minyak menjadi mahal, kan negara-negara Teluk jadi susah mengekspor minyak karena tertahan di Selat Hormuz. Wajar, ketika mereka marah terhadap entitas Zion*s,” sebutnya.

Ia menilai, kemarahan sejumlah pihak tersebut tampaknya tidak sepenuhnya didasari isu Palestina, tetapi bisa jadi karena tindakan entitas Zion*s mengganggu kelancaran bisnis dan aliran minyak.

Dukungan Nyata

Hasbi menekankan, negara-negara muslim seharusnya mengambil sikap tegas sejak awal terjadinya perang dan genosida di Palestina.

“Nah kita mau husnuzan (berbaik sangka) kan, ya gimana 1.400 yang meninggal sejak tahun kemarin. Kalau memang mereka semangat membela Palestina, harusnya sejak awal perang terjadi, genosida terjadi, dunia Islam, negara-negara muslim sudah mengambil sikap tegas,” terangnya.

Yang dibutuhkan sekarang ini untuk membela Palestina, sebutnya, tidak cukup diwujudkan melalui aksi simbolis, tetapi harus berupa tindakan nyata seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dalam mendukung Zion*s.

“Dari sejak genosida terjadi itu kan sampai tahun 2025, saya pernah baca data, 1.000 penerbangan itu bolak-balik dari AS menuju entitas Zion*s, bahkan termasuk dari Eropa. Itu untuk mengirimkan bantuan-bantuan tempur, itu namanya aksi nyata itu begitu. Dukungan nyata ya begitu,” bebernya.

Ia menilai, negara-negara muslim yang seharusnya bersaudara dan saling merasakan penderitaan satu sama lain justru kalah kompak dibandingkan orang kafir.

“Kok lebih berani orang kafir untuk lebih kompak daripada orang muslim. Ini yang menurut saya sangat menyedihkan ya, kita di dunia Islam,” ucapnya.

Perlu Bersatu

Hasbi pun menegaskan, negara-negara muslim perlu bersatu karena memiliki kekuatan militer, sumber daya alam, dan posisi geografis strategis yang dapat digunakan untuk menekan entitas Zion*s dan negara-negara pendukungnya.

Negara-negara muslim mampu menghadapi kekuatan besar, tambahnya, sebagaimana Iran mampu menghadapi entitas Zion*s dan AS.

“Kalau negeri-negeri muslim yang lain ikut terlibat, pasti saya kira akan lebih powerful (memiliki kekuatan besar) lagi ya,” tuturnya.

Menurutnya, salah satu kekuatan Iran adalah memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tekanan strategis.

“Itu terbukti membuat bukan hanya AS menjadi terpukul, bahkan dunia. Dengan penggunaan Selat Hormuz sebagai senjata, ini membuat akhirnya sekutu dan aliansi Amerika menjadi tidak kompak,” jelasnya.

Negara-negara Eropa dan NATO, ujarnya, tidak ikut terlibat dalam perang meskipun Presiden AS Donald Trump telah mendesak dan memarahi sekutunya tersebut.

Ia mencontohkan kelompok Houthi yang pernah mengganggu pelayaran di Laut Merah dengan memblokade dan melakukan sweeping terhadap kapal-kapal yang dinilai tidak berafiliasi dengan Israel. Tindakan tersebut, lanjutnya, diikuti serangan AS terhadap kelompok Houthi di Yaman pada 2024.

Jadi, ucapnya, kemenangan perang tidak selalu ditentukan oleh besarnya kekuatan militer atau status superpower, tetapi juga oleh strategi yang digunakan.

“Ternyata Iran punya strategi yang bisa menciptakan kesakitan, membuat Amerika terpukul, sampai hari pun tujuan-tujuan perang Amerika tidak tercapai di Iran, kan,” katanya.

Ia mencontohkan, Hamas di Gaza dan Taliban di Afganistan sebagai kelompok non-negara yang mampu memberikan perlawanan terhadap kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat.

“Coba kalau yang gerak ini adalah negara-negara muslim dengan tentara-tentara berikut segala macam kekuatan yang mereka miliki,” tegasnya.

Oleh karena itu, terangnya, kekuatan negara-negara muslim tidak hanya terletak pada militer, tetapi juga sumber daya alam dan keunggulan geografis yang dapat digunakan untuk menekan negara-negara pendukung entitas Zion*s.

“Pada 1973, pada saat perang Arab-Israel, negara-negara Arab sebagai penghasil minyak itu mengembargo Amerika dan Eropa dengan minyak. Itu kabarnya berhasil memaksa Presiden Amerika untuk menekan entitas Zion*s menghentikan perang,” ungkapnya.

Menurutnya, negara-negara muslim pernah menunjukkan sikap tegas terhadap entitas Zion*s, tetapi setelah Perjanjian Camp David dan Oslo, langkah serupa tidak lagi terlihat hingga konflik Iran-entitas Zion*s kembali melibatkan kekuatan antarnegara.

Ia menyayangkan sejumlah negara muslim bukan maju membela Iran, justru membela entitas Zion*s. “Itu yang menurut saya PR besar bagi kaum muslim sekarang,” pungkasnya. [MNews/Aisyah]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *