Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Judul buku: Kunci-kunci Kebangkitan
Penulis: Najah Sabatin
Penerjemah dan penyadur: Dr. Tb. Chaeru Nughraha, M.Hum.
Penerbit: Pustaka Ali
Cover: Soft cover
Isi: 150 halaman
Berat: 137 gram
Ukuran: 12,6 cm x 17,1 cm
—
Muslimah News, RESENSI BUKU — Buku ini adalah karya Ustazah Najah Sabatin, putri dari Syekh Sabatin, salah seorang pengemban dakwah senior yang pernah halqah (halakah) bersama Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahumullahu.
Berjudul asli Syarah Thariqul Iman, buku yang meski berukuran kecil ini sangat cukup untuk memberikan penjelasan komprehensif, mendalam, dan memberikan pencerahan terhadap pemikiran bagi siapa pun yang membacanya, khususnya dalam rangka melanjutkan kembali kehidupan Islam.
Pada setiap babnya, buku ini memuat penjelasan kosakata penting yang menjadi kunci untuk memahami setiap aspek penting dalam metode keimanan yang produktif.
—
Lazimnya, manusia selalu berusaha bangkit dalam kehidupannya, terkhusus ketika sedang dalam kondisi rendah/di bawah. Hanya saja, indikator kebangkitan itulah yang berbeda-beda di antara manusia. Ada indikator ekonomi, moralitas, pendidikan, serta perundang-undangan. Namun, realitas sepanjang kehidupan manusia, indikator-indikator tersebut tidak mampu membuat manusia mencapai kebangkitan hakiki.
Hal ini karena bangkitnya manusia haruslah dari pemikirannya. Inilah indikator dan landasan kebangkitan yang benar. Sebagai bukti, dahulu kabilah-kabilah Arab sebelum datangnya Islam, adalah kaum yang jahiliah dan terbelakang. Mereka menyembah berhala dan mempraktikkan perdukunan.
Namun, ketika Rasulullah saw. diutus ke tengah mereka, mereka kemudian meyakini akidah Islam dan menerapkan pemikirannya. Mereka pun serta-merta menjadi umat yang unik, bersatu, dan kuat, bahkan meraih derajat sebagai umat terbaik. Tidak heran, bangsa Arab saat itu menjadi pemimpin manusia di segala urusan kehidupan. Peradaban mereka menjadi pusat kebangkitan bagi manusia di seluruh dunia.
Semua ini tercatat dalam torehan tinta emas sejarah yang mustahil terbantah. Meski kini peradaban Islam telah runtuh, yakni pada 1924 di Turki, tetapi keruntuhannya sama sekali bukan karena Islam melainkan karena Islam ditinggalkan dan diganti dengan noktah-noktah aturan sekuler.
Sungguh keliru ketika pada masa yang katanya modern ini, negara-negara maju menggunakan indikator-indikator fisik untuk menampilkan kebangkitan mereka kendati di balik itu semua krisis dan patologi sosial juga sangat mengkhawatirkan. Ini menunjukkan kebangkitan mereka adalah kebangkitan semu yang pada suatu titik nantinya akan menemui kehancurannya karena tidak berpijak pada akidah sahih dari Allah Taala.
Pada titik ini, manusia (khususnya kaum muslim) harus mencari tahu cara menghasilkan kebangkitan yang benar. Hal ini tidak lain hanyalah dengan pemikiran asasi (mendasar), yakni pemikiran yang menyeluruh karena berkaitan dengan keberadaan (eksistensi) segala sesuatu. Bagi kaum beriman, keberadaan segala sesuatu ini (termasuk wujud Allah Taala) yang kita yakini ada di balik semua makhluk dan keteraturan alam semesta.
Pemikiran mendasar seperti inilah yang akan menghasilkan kebangkitan kuat dan menyeluruh. Pemikiran yang demikian pula yang membuat manusia senantiasa terjaga dan terpelihara dalam keberlangsungan sistem Islam, sejak masa Rasulullah saw. hingga Islam masih bisa kita nikmati sebagai akidah saat ini meski sekularisme juga begitu merongrong.
Inilah pentingnya melakukan perubahan pemikiran karena pemikiran akan mewujudkan persepsi (pemahaman). Persepsi yang selanjutnya akan memberikan pengaruh pada perilaku sehingga perilaku tersebut menjadi wujud ekspresi dari kebangkitan yang sahih itu.
Jelas sekali, perilaku yang tinggi menunjukkan adanya taraf berpikir yang tinggi, di sinilah terjadi kebangkitan. Sebaliknya, perilaku yang rendah tentu saja menunjukkan keterbelakangan. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]
Foto sampul: Dok. Alhazen Book Store
