Peresensi: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Judul buku: Sufi Pejuang Khilafah
Penulis: Muhammad Ayyubi
Pengantar: K.H. Hafidz Abdurrahman
Penerbit: Penerbit Quwwah
Kover: Soft cover
Isi: 136 halaman
Berat: 146 gram
Ukuran: 14,1 cm x 20,5 m
Muslimah News, RESENSI BUKU — Tasawuf sejatinya kajian nafsiah demi mencapai tingkatan zuhud di hadapan Allah. Namun, makna dan arah pandangnya kemudian dibelokkan untuk mengendurkan semangat umat Islam untuk kembali pada ajaran yang kafah. Sebagai informasi, munculnya para sufi pada akhir abad ke-2 Hijriah adalah sebuah kritik sosial terhadap kehidupan para penguasa dan masyarakat yang secara umum glamor dan berfoya-foya.
Spirit tasawuf dan para sufi adalah spirit perjuangan melawan kezaliman dan memperjuangkan syariat. Inilah yang coba dibajak melalui ide-ide absurd “Islam Nusantara”, seperti ide “Islam itu yang penting substansinya”, “yang penting hatinya berhijab”, “Allah tidak perlu dibela”, “jangan fanatik dengan Islam”, “kalimat Lâ ilâha illâllâh cukup dalam hati saja”, “yang penting saleh sosial”, dsb.
Akibatnya, istilah “tasawuf” digunakan untuk meredam semangat perjuangan Islam kafah. Padahal, ini sungguh menyesatkan. Lebih buruknya lagi, salah kaprah terhadap tasawuf dan sufi berdampak menjadi kehinaan umat Islam.
Semangat sufi dalam menjalankan syariat ini antara lain sebagaimana digambarkan oleh Ibnu Taimiyah tentang Syekh Abdul Qadir al-Jaelani. Ibnu Taimiyah berkata, “Syekh Abdul Qadir al-Jaelani dan orang-orang semisalnya (sufi) termasuk tokoh-tokoh terkemuka pada zamannya yang memperjuangkan syariat, baik perintah maupun larangan. Beliau bahkan senantiasa mendahulukan syariat daripada keinginan pribadi, senantiasa meninggalkan nafsu dan kepentingan pribadi.”
Pada kenyataannya, kehidupan para sufi tidak semata hanya berkutat di zawiah saja. Tidak jarang, para ulama sufi melakukan jihad dan perlawanan langsung kepada penguasa zalim dan penjajah.
Said bin Al-Musayyab, selain dikenal sebagai ahli hadis, beliau juga seorang yang zahid. Beliau pernah mengkritik Khalifah dengan menolak datang ke istana, bahkan menolak tawaran untuk menikahkan putrinya dengan putra Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Hanya saja, pada perkembangannya, ada beberapa pemikiran tasawuf falsafi yang perlu mendapatkan kritik.
—
Adalah seorang mujtahid mutlak dan ulama abad ini, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani. Beliau berasal dari Palestina dan terkenal sebagai mufakkirun siyasiyyun (pemikir dan politisi Islam).
Beliau mendirikan partai politik ideologis Hizb ut-Tahrir sebagai wadah perjuangannya dalam rangka melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah Islamiah berdasarkan minhaj kenabian.
Beberapa hasil ijtihad Syekh Taqiyuddin meluruskan pemikiran tasawuf falsafi yang terpengaruh pemikiran filsafat Yunani dan India yang menyimpang. Di antaranya tentang akal; ruh; manusia, alam semesta, dan kehidupan; kepribadian manusia; dan manusia itu sendiri.
Syekh Taqiyuddin juga berhasil memberikan gambaran bahwa manusia mempunyai potensi yang luar biasa. Namun, yang lebih dahsyat lagi adalah ketika manusia tersebut seorang muslim yang sanggup menggabungkan kekuatannya sebagai sosok manusia dengan kesadaran politik yang sempurna. Sosok muslim yang seperti inilah yang akan menjadikan umat Islam menjadi umat terbaik (khairu ummah) hingga tidak terkalahkan sepanjang sejarah.
—
Itulah sejarah yang pernah diukir oleh Shalahuddin al-Ayyubi maupun Muhammad al-Fatih, yakni sejarah heroisme (kepahlawanan). Sejarah yang mereguk kemenangan demi kemenangan. Sejarah yang lahir dari ketekunan, kesabaran, dan wujud dedikasi didikan para ulama, melalui halakah, kuttab, dan madrasah Islam yang luar biasa.
Hendaklah ini semua mengingatkan kita bahwa Allah Taala berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110) Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Lanjutkan saudara