[Kabar] Duta Kekayaan Intelektual Pelajar, Retno Sukmaningrum: Jungkir Baliknya Negeriku di HUT RI

[Kabar] Duta Kekayaan Intelektual Pelajar, Retno Sukmaningrum: Jungkir Baliknya Negeriku di HUT RI

Muslimah News, NASIONAL — Penghargaan Duta Kekayaan Intelektual Pelajar Kementerian Hukum dan HAM kepada penyanyi cilik yang membawakan dangdut koplo pada acara HUT RI ke-77 mendapat beragam respons. Sebagaimana diberitakan, lagu ini telah membuat banyak tamu undangan, termasuk pejabat yang hadir pada acara HUT RI tersebut, berjoget.

Menurut Menkumham Yasonna Laoly, hal ini karena video tersebut viral dan telah ditonton puluhan juta viewers.

Namun, pengamat kebijakan publik Retno Sukmaningrum, S.T., M.T. justru menilainya sebagai bentuk jungkir baliknya negeri.

“Belum hilang rasa kaget masyarakat melihat polah para petinggi negara berjoget ria diiringi lagu dangdut koplo pada peringatan HUT Kemerdekaan RI, kini penyanyinya mendapat surat pencatatan ciptaan seni pertunjukan sekaligus menjadi Duta Kekayaan Intelektual Pelajar dari Kemenkumham. Wow! Ini bukan “wow” kagum, tetapi “’wow” dengan jungkir baliknya tatanan nilai dan standar yang dipakai oleh rezim hari ini,” ungkapnya kepada MNews, Ahad (21/08/2022).

Ia menyayangkan nilai kepatutan dan kepantasan yang harusnya dijunjung oleh pejabat negara yang entah dihempas kemana. “Belum pernah dijumpai sepanjang umur bangsa ini, selepas upacara peringatan kemerdekaan RI, para pejabat berjoget dangdut ria. Presiden dan istrinya pun menikmatinya. Namun, yang demikian dianggap wajar adanya,” jelasnya.

Sikap Berbeda

Anehnya, lanjut Retno, sikap berbeda ditunjukkan pada saat petugas Paskibraka di Kabupaten Bekasi melakukan aksi joget paska melaksanakan tugasnya.

“Mereka mendapat kecaman dan hujatan telah menodai HUT RI. Sebenarnya apa bedanya apa yg mereka lakukan dengan perilaku petinggi negara. Justru inilah wujud peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kalau pemimpin tinggi bangsa saja kelakuannya demikian, apalagi anak bangsanya, bisa lebih brutal,” sindirnya.

Lebih miris lagi, ucapnya, bocah yang menyanyikan dangdut koplo pada HUT RI tersebut dinobatkan pula menjadi Duta Kekayaan Intelektual Pelajar.

“Pada saat para pendidik dan pemerhati anak meresahkan kondisi kanak-kanak yang saat ini lebih hapal lagu-lagu cinta dan orang dewasa, Menkumham malah menobatkan bocah pedangdut tersebut sebagai Duta Kekayaan Intelektual Pelajar. Alasannya pun sepele karena berani menyanyikan lagu berbahasa Jawa. Tidak tahukah Pak Menteri kalau lagu tersebut bertemakan cinta. Tidak pantas diperdengarkan, apalagi dinyanyikan bocah,” kritiknya.

Makna “Duta” Bergeser?

Padahal, Retno menyatakan, banyak anak negeri yang berprestasi dan membawa nama negeri di kancah internasional dalam bidang sains, matematika dan olah raga, tidak satu pun diangkat menjadi duta negeri.

“Apakah makna “duta” sudah sudah bergeser pengertiannya? Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), duta adalah orang yang mewakili suatu negara di negara lain untuk mengurus kepentingan negara yang diwakilinya, membantu dan melindungi warga negaranya yang tinggal di negara itu, dan sebagainya. Intinya duta adalah membawa nama baik bangsa di mata dunia. Namun kini, duta terkesan disematkan kepada siapa saja. Suka-suka pejabat yang menyematkan, sekadar latah,” katanya menyesalkan.

Bahkan parahnya, sambung Retno, duta juga diangkat bagi pelaku yang justru melakukan pelecehan.

“Penghina Pancasila diangkat menjadi Duta Pancasila. Pelaku narkoba menjadi Duta Anti Narkoba Bahkan, pelaku sodomi sempat diwacanakan sebagai Duta Edukasi Predator Seksual. Astaghfirullahal adziim,” kecamnya.

Masyarakat Kapitalisme

Retno mengungkapkan, inilah wujud “sakitnya” masyarakat kapitalisme.

“Masyarakat yang menjadikan akal sebagai standar kehidupan. Nilai dan standar kehidupan jungkir balik dibuatnya. Yang dulu hina, sekarang dipuja. Yang dulu saru, sekarang diseru. Yang bermanfaat menurut akal akan laku dalam masyarakat kapitalisme. Terbukti, sesuatu yang rusak dan merusak dinobatkan menjadi ukuran dinobatkannya sebagai duta negeri,” cetusnya.

Jika perilaku demikian dibiarkan, tegasnya, bukan lagi NKRI harga mati, tetapi negeri ini benar-benar di ambang kematian.

“Hanya satu cara selamatkan negeri. Jadikan standar Ilahi sebagai pondasi membangun negeri. Baik buruk, terpuji tercela hanya disandarkan pada pandangan Allah Swt.. Tidak akan berubah dengan berubahnya waktu dan tempat. Selamanya, yang mulia tetaplah mulia, dan yang hina, tetaplah hina,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Foto sampul: News

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *