[Kabar] Hasbi Aswar: Normalisasi dengan Israel Bukan untuk Kepentingan Palestina

[Kabar] Hasbi Aswar: Normalisasi dengan Israel Bukan untuk Kepentingan Palestina

Muslimah News, INTERNASIONAL — Terkait krisis Palestina, beberapa negeri Islam mengambil sikap melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Alasannya agar lebih mudah merangkul Israel untuk lebih bersifat manusiawi terhadap Palestina.

Namun, pengamat hubungan internasional Hasbi Aswar, Ph.D., menilai sebaliknya. Menurutnya normalisasi dengan Israel bukan untuk kepentingan Palestina.

“Normalisasi itu bukan untuk kepentingan Palestina, tetapi untuk kepentingan Israel dan Amerika,” jelasnya di Kabar Petang: Gaza Membara, Rabu (10/8/2022), melalui kanal Khilafah News.

Hasbi mengatakan, ada opini yang muncul bahwa kalau berteman dengan Israel akan bisa menjalin komunikasi intens dan bisa mencegah Israel berbuat sewenang-wenang terhadap Palestina.

“Opini itu muncul pada 2020, tetapi yang terjadi pada 2021 Israel sekitar dua minggu menggempur Gaza, ratusan orang meninggal. Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Turki tidak bisa melakukan apa-apa. Terus apa efektivitas dari normalisasi? Tidak ada sama sekali,” ujar Hasbi kesal.

Dengan normalisasi ini, Hasbi justru melihat Israel bisa mengadakan kerjasama ekonomi dengan negara-negara di Timur Tengah. “Israel tidak perlu lagi tergantung sama kepentingan ekonomi Amerika, karena sudah bekerjasama dengan Uni Emirat Arab dan lain-lain,” ucapnya.

Hasbi sepakat kalau normalisasi ini sebenarnya penghianatan terhadap Palestina, pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dan pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip sebagai muslim untuk saling membela satu sama lain.

Okupasi

Selain itu, tindakan Israel yang hingga saat ini terus memborbardir Palestina, dinilai Hasbi sebagai okupasi (pendudukan) sebuah wilayah terhadap wilayah lain.

“Israel adalah negara yang menjajah Palestina sejak 1940-an, diakui oleh PBB, bahkan sekarang sudah lebih dari 100 negara mengakui Israel,” papar Hasbi.

Secara de facto, lanjutnya, bahkan de jure—karena sudah diakui banyak negara—Israel mengontrol segala dinamika Palestina, termasuk identitas warga, mau keluar negeri harus izin, wilayah darat laut dan udara semua di bawah kedaulatan Israel.

“Oleh karena itu, kalau masyarakat Palestina berjuang memerdekakan diri dari Israel pasti akan dipukuli, diserang, dan ditembak. Peristiwa yang terjadi kemarin berapa puluh orang ditembak oleh Israel dan Israel membombadir Gaza itu kan cerita yang terjadi tidak setiap hari. Yang setiap hari terjadi adalah anak-anak mau berangkat sekolah ditembak—padahal mereka tidak salah apa-apa—, perampasan tanah, perampasan rumah,” tutur Hasbi.

Hasbi lalu menyimpulkan bahwa yang terjadi di Gaza ini hal yang sistemik, struktural, dan dibiarkan oleh masyarakat internasional.

Solusi

Hasbi menilai, usulan solusi two state untuk menyelesaikan krisis Palestina adalah solusi mustahil. “Kalau yang saya pahami, solusinya itu one state, dengan mengusir penjajah Israel karena problem Palestina adalah problem penjajahan, bahkan problem peradaban” tandasnya.

Peradaban global hari ini, terang Hasbi, mengajarkan mindset pragmatis, hanya memikirkan kepentingan negara sendiri, mementingkan kekayaan negara sendiri, dan keselamatan negara sendiri.

“Peradaban hari ini, membiarkan kesewenang-wenangan terjadi karena mereka memang tidak menjadikan moralitas dan tidak menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai hal yang penting, yang penting adalah kepentingan nasional. Ini peradaban rusak. Celakanya ini diadopsi oleh pemimpin-pemimpin kaum muslim” sesalnya.

Hasbi lalu memberikan solusi untuk bisa menyelesaikan masalah Palestina, yaitu kaum muslim harus merubah cara pandang sempit yang berorientasi materi dirubah menjadi cara pandang yang benar yang diajarkan Islam, berpihak kepada kaum muslim, dan melakukan amar makruf nahi munkar.

“Amar makruf nahi munkar itu tidak selalu dibatasi objeknya hanya umat Islam, tetapi seluruh dunia. Nah, ini yang harus ada dalam benak para pemimpin kaum muslim,” tukasnya.

Ketika pemimpin-pemimpin kaum muslim loyalitasnya sudah kepada Islam, nilai Hasbi, maka secara otomatis umat akan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Barat.

“Setelah tidak tergantung lagi pada Barat, kemudian mengembangkan militer sendiri, dan mengembangkan perekonomian sendiri, pada saat itu kekuatan kaum muslim akan setara dengan Barat. Ketika kita sudah setara dengan Barat, bahkan melampaui barat, maka dengan mudah bisa membebaskan Palestina,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

One thought on “[Kabar] Hasbi Aswar: Normalisasi dengan Israel Bukan untuk Kepentingan Palestina”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *