[Kabar] Generasi Harapan, Dedeh Wahidah: Berkarakter Mukmin Sejati

[Kabar] Generasi Harapan, Dedeh Wahidah: Berkarakter Mukmin Sejati

Muslimah News, NASIONAL — Konsultan dan trainer keluarga sakinah Dedeh Wahidah Achmad mengungkapkan generasi harapan umat adalah yang berkarakter mukmin sejati.

“Penting sekali dilakukan orang tua untuk melahirkan anak saleh salihah berkarakter mukmin sejati sebagai generasi harapan umat,” jelasnya dalam “Mendidik Anak Menjadi Mukmin Sejati” di sebuah podcast, Senin (18/7/2022).

Terlebih, menurutnya, generasi harapan orang tua dan harapan umat Islam untuk kembali menegakkan peradaban Islam ini, justru dirusak karakternya dalam sistem yang didominasi oleh sekularisme dan kapitalisme.

“Mungkin mereka masih mengaku sebagai muslim atau beragama Islam, tetapi tidak menunjukkan karakter sebagai mukmin sejati,” ucapnya.

Karakter Mukmin Sejati

Oleh karenanya, ia membeberkan beberapa hal yang harus dilakukan orang tua. “Orang tua harus memahami dulu karakter mukmin sejati. Tidak boleh berdasarkan dugaan, tetapi harus berdasarkan nas-nas syariat. Salah satunya dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 2-3,” ujarnya.

Artinya, Dedeh berkata bahwa Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Dalam ayat ini, ujar Dedeh, Allah menjelaskan karakter seorang mukmin, yaitu pertama ketika disebut nama Allah, hati mereka bergetar. “Mengapa? Karena mereka tahu bahwa itu adalah sebuah kewajiban dan mereka takut kalau tidak bisa melaksanakan perintah Allah dan takut kalau melanggar aturan Allah. Rasa takut inilah yang membuat hati mereka bergetar,” jelasnya.

Sementara sekarang, lanjutnya, jangankan dibacakan ayat-ayat Allah, mereka langsung taat. “Malah ada yang berani melecehkan ayat Allah, menistakan Rasulullah, menyerang ajaran Islam. Padahal mereka muslim dan berasal dari keluarga yang orang tuanya muslim, yang seharusnya saat disampaikan ayat-ayat Allah, mereka mengatakan sami’na wa ato’na,” ungkapnya.

Kedua, ia menyatakan, ketika dibacakan ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah maupun kauniyah, mereka akan bertambah keimanannya dan makin mendekatkan dirinya kepada Allah.

“Namun, fenomena sekarang, ketika dibacakan atau membaca ayat-ayat Allah, tidak bertambah keimanannya. Mengapa bisa terjadi? Pertama, karena keimanannya masih lemah, tidak mendudukkan Al-Qur’an sebagai petunjuk, melainkan sebatas dibaca. Kedua, karena tidak paham. Padahal, tidak mungkin kita terdorong melakukan sesuatu atau mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah, jika tidak memahaminya. Inilah PR kita, bagaimana memahamkan ayat-ayat Allah tersebut,” terangnya.

Ketiga, ucap Dedeh, mukmin sejati itu bertawakal kepada Allah. “Ia tidak takut kepada apa pun sehingga ia akan menghadapi kehidupan dunia ini dengan penuh keyakinan, ia tidak akan mundur di dalam ketaatan sekalipun akan banyak resiko dan konsekuensi dari ketaatan itu. Ia akan tetap berani untuk menyampaikan kebenaran Islam, sekalipun mungkin di dalam ancaman. Kenapa? Karena ia menyerahkan urusan hidup dan matinya itu kepada Allah,” cetusnya.

Tentu saja, sambungnya, kalau kita memiliki karakter seperti ini—baik sebagai orang tua maupun anak-anak—, maka kita tidak akan gagap dalam menghadapi kehidupan yang makin menunjukkan kerusakan akibat sekularisme kapitalisme.

“Justru kita akan membangkitkan semangat dan optimisme agar berupaya mengubah kehidupan yang rusak ini dengan penerapan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin,” tegasnya.

Keempat, katanya, mukmin sejati adalah yang menunjukkan amal ibadah yang baik dan khusyuk. “Saat mengerjakan salat, tentu saja harus paham. Bukan hanya sekedar melaksanakan gerakan-gerakannya, tidak ada kekhusyuan, dan tidak paham terhadap bacaan yang dilafadzkan. Tentu tidak demikian,” tukasnya.  

Jadi, Dedeh mengutarakan, perlu diajarkan amal-amal ibadah itu kepada anak kita, seperti tentang membaca Al-Qur’an itu dengan tartil, salat dengan khusyuk, berdoa bukan hanya sekedar mengangkat tangan, melainkan menghadirkan hati dan keyakinan kita, dan lainnya.

Kelima, paparnya, mukmin sejati itu berinfak terhadap rezeki yang dilimpahkan oleh Allah. “Hal ini membutuhkan pembiasaan dan contoh dari orang tua. Ketika sudah menjadi kebiasaan, maka tidak akan berat untuk melakukannya, bahkan mungkin akan merasa tidak enak ketika meninggalkannya,” tuturnya.

Dedeh lantas melanjutkan bahwa setelah orang tua memahami karakter ini, maka harus dijelaskan kepada anak kita. “Anak-anak juga harus paham,” ujarnya.

Metode Pendidikan

Oleh karena itu, ia menekankan, PR terbesar bagi orang tua adalah menguasai metode pendidikan terhadap anak-anaknya.

“Pendidikan itu tidak boleh dogma, pendidikan adalah transfer pemikiran bukan teori-teori sehingga anak menjadi paham dan mengamalkannya. Juga memberikan apresiasi terhadap amal saleh yang dilakukan yang akan menjadi dorongan untuk konsisten di dalam karakter mukmin sejati tersebut,” pesannya.

Sebaliknya, ia menerangkan, ketika ada pelanggaran hukum syarak sekecil apa pun maka tidak boleh kita biarkan. “Kita harus memberikan sanksi. Bukan berarti harus kekerasan ya, melainkan peringatan dari mulai yang paling lembut, nasihat, diajak dialog, kemudian kalau memang dibutuhkan ada sanksi fisik tentu itu harus sesuai dengan fase tumbuh kembang anak,” jabarnya.

Berikutnya, ia mengutarakan, harus menyerahkan urusan itu kepada Allah. “Kita minta kepada Allah supaya dikaruniai anak-anak berkarakter mukmin sejati,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan kembali hal yang merusak generasi ini adalah sistem kapitalisme sekuler.

“Ini PR bagi kita agar sistem yang rusak tersebut segera diganti dengan sistem yang akan memudahkan kita sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak kita, sistem yang kondusif untuk melahirkan generasi khairu ummah, generasi mukmin sejati, yakni ketika Islam ditegakkan secara kafah oleh negara,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia menandaskan, orang tua yang peduli terhadap anaknya, akan berkontribusi di dalam dakwah memperjuangkan penerapan Islam secara kafah. [MNews/Ruh]

#IslamSelamatkanGenerasi

#WaspadaPembajakanPotensi

#KapitalisasiGenerasi

Foto sampul: iStock

Share

One thought on “[Kabar] Generasi Harapan, Dedeh Wahidah: Berkarakter Mukmin Sejati”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *