Marwan bin Al-Hakam, Sepuluh Bulan Menjadi Khalifah

Marwan bin Al-Hakam, Sepuluh Bulan Menjadi Khalifah

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Setelah Muawiyah II memutuskan untuk tidak mengangkat seorang pun dari Bani Umayah sebagai khalifah dan ia sendiri menyatakan ketidakmampuannya menjalankan tugas kekhalifahan, maka ia menyerahkan urusan tersebut kepada musyawarah dan kesepakatan umat Islam.

Bani Umayah mengadakan konferensi Al-Jabiyah dan membaiat Marwan bin Al-Hakam sebagai khalifah. Dengan dilaksanakannya konferensi Al-Jabiyah ini, kekhalifahan berpindah dari tangan keluarga besar Abu Sufyan kepada keluarga besar Marwan.

Setelah Marwan menduduki kursi kekhalifahan, di hadapannya terbentang banyak kesulitan. Suku Qais di negeri Syam telah membaiat Abdullah bin Az-Zubair, sedangkan orang-orang Yaman terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok dipimpin Hasan bin Malik bin Bahdal al-Kalabi dan Malik bin Hubairah as-Sakuni yang cenderung membaiat Khalid bin Yazid bin Muawiyah.

Sedangkan kelompok kedua dipimpin Rauh bin Zinbagh al-Judzami dan Al-Husain bin Numair as-Sakuni serta didukung Ubaidillah bin Ziyad yang cenderung membaiat Marwan.

Pertempuran Marj Rahith

Konferensi Al-Jabiyah memang dapat menyelesaikan masalah kekhalifahan di antara Bani Umayah serta merupakan langkah penting yang menentukan. Namun, penerapan resolusi konferensi Al-Jabiyah bukanlah perkara mudah karena masih banyak hambatan dan kesulitan besar.

Adh-Dhahak bin Qais (kepala suku Qais yang mendukung Abdullah bin Az Zubair) telah berangkat ke Marj Rahith serta bergabung dengan An Nu’man bin Basyir al-Anshari wali kota Homs dan Zufr bin Al-Harits al-Kilabi wali kota Qinnasrin. Mereka bersiap-siap untuk menghadapi Bani Umayah.

Marwan harus membuktikan bahwa dirinya memang pantas mengemban wewenang dan tugas kekhalifahan. Para pendukung Marwan berhasil meraih kemenangan pertama dengan menguasai Damaskus dan mengusir para pejabat Adh-Dhahhak dari sana.

Tanpa membuang-buang waktu, Marwan segera bergerak ke Marj Rahith bersama para pendukungnya yang terdiri dari suku-suku Yaman di negeri Syam. Di sanalah terjadi pertempuran yang sangat menentukan eksistensi Bani Umayah di Negeri Syam.

Hasilnya, kemenangan bagi pasukan Marwan atas suku Qais. Pertempuran ini berlangsung selama dua puluh hari pada penghujung 64 H.

Menguasai Mesir

Kemenangan pasukan Marwan bin Al-Hakam dalam pertempuran Marj Rahith mampu memperkokoh pemerintahan mereka di negeri Syam sehingga ia membentangkan kekuasaannya atas wilayah itu. Langkah berikutnya adalah bergerak ke Mesir dan merebutnya kembali dari tangan para loyalis Abdullah bin Az-Zubair.

Langkah ini diambil oleh Marwan karena Mesir memiliki kedudukan strategis dan merupakan daerah terpenting untuk dikuasai guna memperkuat posisinya dalam menghadapi Abdullah bin Az-Zubair.

Penguasaan wilayah Mesir tidaklah sulit karena sebagian besar warganya cenderung pada Bani Umayah. Baiat yang mereka lakukan kepada Abdullah bin Az-Zubair bukanlah baiat yang tulus, melainkan karena terpaksa saja.

Al-Kindi berkata, “Abdurrahman bin Jahdam (wali Mesir yang diangkat Abdullah bin Az-Zubair) tiba di Mesir bersama kaum Khawarij. Masyarakat Mesir pun membaiatnya dengan terpaksa. Kemudian para pendukung Bani Umayah diam-diam mengundang Marwan untuk menyerbu Mesir.”

Marwan bin Al-Hakam memobilisasi pasukannya menuju Mesir. Terjadilah pertempuran sengit anatara pasukan Marwan dan pasukan Abdurrahman bin Jahdam yang akhirnya dimenangkan Marwan.

Abdullah bin Jahdam melarikan diri. Namun, ia kemudian menemui Marwan bin Al-Hakam untuk meminta pengampunan. Marwan pun mengampuninya dengan syarat ia harus pergi ke Makkah.

Keberhasilan Marwan bin Al-Hakam merebut kembali Mesir terjadi pada Jumadilakhir 65 H. Ia pun menetap di Mesir selama dua bulan guna memulihkan keadaan dan memastikan keamanannya.

Kemudian Marwan bin Al-Hakam kembali ke negeri Syam untuk menghadapi ancaman Abdullah bin Az-Zubair. Namun, ajal lebih dulu menjemputnya pada 3 Ramadan 65 H.

Marwan bin Al-Hakam juga sempat mengadakan kesepakatan dengan tokoh-tokoh utama negeri Syam, khususnya dengan Hasan bin Malik (pendukung utama Khalid bin Yazid). Marwan berhasil meyakinkan mereka bahwa Khalid bin Yazid tidak kompeten untuk menghadapi Abdullah bin Az-Zubair.

Prestasi Marwan bin Al-Hakam antara lain berhasil mendirikan kembali negara Bani Umayyah dalam waktu kurang dari satu tahun. Ia juga berhasil merebut kembali negeri Syam dan Mesir. Marwan juga mewariskan tugas kepada Abdul Malik bin Marwan untuk menyatukan kembali Negara Islam. Wallahualam. [MNews/Has]

Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar.

Foto ilustrasi: Istimewa

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *