[Editorial] Mewaspadai Pembajakan Peran Strategis Kaum Ibu

[Editorial] Mewaspadai Pembajakan Peran Strategis Kaum Ibu

Muslimah News, EDITORIAL – Hari ini, “mengubah nasib” dan “mandiri finansial” seakan jadi magnet untuk menarik kaum ibu terjun ke dunia usaha. Terlebih, kondisi ekonomi memang sedang serba susah, sedangkan penghasilan para bapak tidak lagi bisa menutup kebutuhan hidup yang serba mahal.

Narasi inilah yang digunakan pemerintah guna menyukseskan proyek-proyek pemberdayaan ekonomi perempuan di level masyarakat bawah. Salah satunya dilakukan oleh Kementerian Sosial dengan menggelar acara Sosialisasi Penguatan Perekonomian Subsisten sebagai Upaya Perekonomian Masyarakat di Pendopo Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (25/06/2022).

Pada acara tersebut, Menteri Risma mengajak sekitar 1.500 ibu yang hadir dari keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) untuk terjun berwirausaha. Ia mengatakan bahwa para ibu harus bangkit mengubah nasib mereka.

Bumper Ekonomi Keluarga

Selama beberapa dekade terakhir, kaum perempuan memang sering kali digadang-gadang menjadi pahlawan ekonomi keluarga. Terlebih pada situasi krisis seperti sekarang ini, peran dan keterlibatan perempuan dalam fungsi ekonomi keluarga selalu dinarasikan akan berdampak pada kesejahteraan dan pemenuhan kesehatan keluarga yang kondisinya terus menurun.

Hanya saja, realitasnya, problem kesejahteraan keluarga, terutama kaum perempuan, masih jadi isu utama persoalan bangsa dari masa ke masa. Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) bahkan memproyeksikan bahwa berdasarkan data BPS per September 2021, tingkat kemiskinan pada 2022 berpotensi melonjak dari 9,71% (26,50 juta jiwa) menjadi 10,81% (29,3 juta jiwa).

Atas dasar itulah, pemberdayaan ekonomi perempuan terus diaruskan. Pemerintah melalui Kemensos dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menjadikan proyek ini sebagai proyek unggulan atas nama peningkatan harkat dan martabat perempuan dalam masyarakat, peningkatan produktivitas ekonomi demi membangun kemandirian perempuan, sekaligus pelibatan perempuan dalam mengentaskan kemiskinan.

Sejauh ini, keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi sesungguhnya sudah cukup besar. Setidaknya ada lebih dari 52% pelaku usaha mikro, 56% pelaku usaha kecil, dan 34% pelaku usaha menengah adalah perempuan. Namun, angka ini rupanya masih dianggap belum cukup menunjukkan keberhasilan target pemberdayaan ekonomi perempuan dalam rangka menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.

Proyek Global

Ndilalahnya, proyek-proyek pemberdayaan perempuan tidak bisa lepas dari agenda internasional. PBB sebagai perpanjangan kepentingan negara kapitalis global telah lama berhasil mengikat seluruh negara anggota untuk meraih target capaian bersama terkait isu-isu perempuan dan kemiskinan. Misal, melalui program MDGs yang dicanangkan pada 2000, dilanjut dengan program SDGs pada 2015.

Isu keperempuanan ini selalu masuk dalam perbincangan pada forum-forum di level internasional. Selain ada wadah UN Women, pada 2015, berdiri pula kelompok kerja W20 yang merupakan engagement group untuk mewakili suara perempuan pada KTT G20. Targetnya adalah mendorong komitmen negara G20 untuk mengurangi kesenjangan gender dalam partisipasi angkatan kerja hingga 25% pada 2025.

Khusus untuk KTT G20 yang akan datang, Indonesia di bawah koordinasi W20 direncanakan akan membawa isu penting mengenai peran perempuan, khususnya saat masa krisis pandemi, ekonomi, dan perubahan iklim. Juga soal strategi jitu untuk menghapus diskriminasi dan kesenjangan di antara laki-laki dan perempuan.

Terkait pemberdayaan ekonomi, misalnya, pemerintah tampak berupaya keras menggenjot pelibatan lebih banyak lagi kaum perempuan dalam UMKM. Antara lain dengan cara memberi berbagai bantuan mulai dari permodalan, pelatihan, dan pendampingan. Juga pada saat bersamaan, berupaya meningkatkan kapasitas mereka melalui pemanfaatan platform digital.

Namun, ironisnya, semua ikhtiar ini masif dilakukan di tengah multikrisis yang mau tidak mau berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk kaum perempuan. Semua ikhtiar yang sejak lama dicanangkan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan, alih-alih menjadi solusi atas permasalahan, dari masa ke masa, problem kemiskinan, diskriminasi, subordinasi, kekerasan, pelecehan, tetap saja membelenggu kehidupan mereka. Bahkan, proyek pemberdayaan ekonomi perempuan justru berdampak menambah beban di pundak perempuan, terutama pada posisinya sebagai ibu yang peran strategisnya tak bisa diabaikan.

Potensi Pembajakan

Bisa bayangkan betapa berat beban para ibu tatkala mereka diberi tanggung jawab menyelesaikan masalah kemiskinan keluarga? Terlebih masalah ini lahir secara struktural dari ketakmampuan sistem hidup sekuler liberal kapitalistik dalam menjamin kesejahteraan.

Dalam sistem destruktif dan eksploitatif ini, kaum ibu sama sekali tidak mendapat support untuk memaksimalkan perannya sebagai tiang negara dan arsitek generasi cemerlang. Krisis ekonomi yang berulang membuat mereka tidak pernah memperoleh jaminan finansial. Kemiskinan sistemis bahkan memaksa mereka harus menanggalkan peran keibuan yang tidak jarang berdampak pada stres massal dan krisis sosial.

Tidak heran jika anak-anak mereka tampak kehilangan kasih sayang yang dibutuhkan. Keluarga-keluarga mereka pun kian kehilangan harmoni dan kehangatan. Hak dan kewajiban dalam keluarga berjalan makin timpang, bahkan abnormal. Hingga dampaknya, dekadensi moral generasi dan kriminalitas makin mewabah, dan struktur keluarga pun kian goyah. Semua ini tentu kian menambah kesulitan bagi kaum ibu untuk memerankan tugas pentingnya secara optimal.

Itulah sebab ancaman lost generation pun ada di hadapan mata. Angka perceraian yang memperpuruk keadaan dari hari ke hari terus meningkat tajam. Laporan Statistik Indonesia menyebutkan, jumlah kasus perceraian pada 2021 mencapai 447.743 kasus, meningkat 53,50% dibandingkan 2020 yang mencapai 291.677 kasus.

Menilik ini semua, patutlah kita bertanya, apa yang sebenarnya diinginkan proyek pemberdayaan ekonomi perempuan yang diaruskan secara global? Sedangkan akar kemiskinan tidak pernah tersentuh untuk diselesaikan, yakni adanya penerapan sistem sekuler kapitalisme neoliberal yang meniscayakan perampokan SDA milik umat alias penjajahan berjalan secara legal.

Terlebih lagi, bukankah negeri ini dianugerahi Allah dengan berbagai kekayaan? Jika bukan karena salah sistem pengelolaan, apa lagi yang membuat kesejahteraan begitu sulit diwujudkan hingga kaum perempuan harus menanggalkan peran strategis dan politisnya sebagai arsitek generasi cemerlang?

Jika bukan demi melanggengkan penjajahan, untuk apa pelemahan peran strategis kaum perempuan terus saja digaungkan?

Butuh Sistem Islam

Kaum ibu sejatinya butuh kehadiran sistem Islam. Sistem ini lahir dari asas keimanan dan aturannya berfungsi sebagai solusi atas seluruh masalah kehidupan sehingga manusia dan seluruh alam bisa merasakan rahmat Allah Yang Mahaadil dan Mahasempurna.

Islam memiliki seperangkat aturan yang mendukung peran keibuan. Dalam pandangan Islam, peran ini berkedudukan penting bagi eksistensi peradaban Islam cemerlang. Dari merekalah lahir generasi umat yang mengemban amanah penciptaan manusia, yakni sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi yang Dia ciptakan.

Support itu tidak lain berupa hukum-hukum yang menetapkan jaminan finansial, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan semua hal yang dibutuhkan sehingga mereka bisa menjalankan peran strategisnya dengan optimal.

Hal itu melibatkan semua pihak, mulai dari suami atau wali melalui hukum nafkah dan perwalian, lalu masyarakat dengan fungsi amar makruf dan nahi mungkarnya, serta negara sebagai pengurus dan penjaga rakyatnya.

Peran negara dalam Islam benar-benar sangat dominan. Melalui negara yang tegak di atas asas imanlah penerapan seluruh aturan Islam yang menjamin kesejahteraan bisa diwujudkan.

Aturan-aturan tersebut meliputi politik ekonomi Islam, termasuk APBN dan moneter, sistem pemerintahan, sistem sosial, sistem pendidikan, pertahanan dan keamanan, sistem media massa, serta sistem hukum dan sanksi. Jika semua aturan Islam ini diterapkan kafah, benar-benar dijamin akan membawa kebahagiaan dan keberkahan.

Tidak heran jika sepanjang sejarah peradaban Islam, lahir generasi hebat tanpa tandingan. Peradaban Islam bahkan mampu menjadi mercusuar dan trendsetter bagi peradaban bangsa-bangsa lainnya di dunia. Diakui atau tidak, seluruh bangsa-bangsa di dunia telah berutang pada umat Islam.

Benarlah yang dikatakan Will Durant, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah, dan seni mengalami kejayaan luar biasa.” (Will Durant – The Story of Civilization). [MNews/SNA]

Share

One thought on “[Editorial] Mewaspadai Pembajakan Peran Strategis Kaum Ibu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *