Muslimah News, INTERNASIONAL — Pada Hari Internasional untuk Perlindungan Anak (The International Day for Protection of Children) 1 Juni 2022, PBB mengatakan hampir dua per tiga anak-anak di Ukraina mengungsi, rata-rata lebih dari dua anak tewas, dan lebih dari empat terluka setiap hari di Ukraina. Sekitar 3 juta anak di Ukraina dan lebih dari 2,2 juta anak di negara-negara penerima pengungsi, sekarang membutuhkan bantuan kemanusiaan sejak Rusia melancarkan perangnya.
Menanggapi hal tersebut, pengamat masalah perempuan, keluarga dan generasi dr. Arum Harjanti menyayangkan perlindungan anak hanya seremoni global. “Ini merupakan bentuk kegagalan kapitalisme melindungi anak. Sungguh, kapitalisme hanya pandai membuat narasi kosong kepada dunia,” ungkapnya kepada MNews, Ahad (5/6/2022).
Ia pun menyoroti penetapan dua hari pada bulan Juni oleh PBB untuk mendorong terwujudnya perlindungan anak di dunia, juga Hari Anak sedunia (Children’s Day) pada 20 Nopember.
“Faktanya jauh panggang dari api. Nasib anak makin sengsara, baik karena peperangan maupun kelaparan, dan kekurangan gizi,” ungkapnya.
Menurut Arum, terjadinya perang antara Ukraina dan Rusia menunjukkan hal itu. “Dunia tidak mampu mencegah perang yang sejatinya merupakan perang antarnegara besar untuk memenuhi ambisi dan arogansinya,” sesalnya.
Ia melanjutkan, belum lagi berbagai konflik di banyak negara tetap terus terjadi, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. “Konflik Palestina-Israel, perang saudara di Suriah, konflik di Yaman, dan lain-lain, seolah dipelihara agar terus membara,” jelasnya.
Terlebih, ia memandang, dengan perang, pemasaran makin kencang, laba makin besar, dan bisnis makin lancar. “Jatuhnya korban, termasuk anak-anak, tidak akan mampu melahirkan niat untuk menghentikan perang. Makin banyaknya kelaparan, bahkan kematian balita yang mengancam, tidak akan mampu menghentikan lajunya perniagaan,” kritiknya.
Tujuannya Keuntungan
Arum menilai tujuan dari peristiwa ini adalah keuntungan. “Yang kuat, yang menang. Kemudian melanggengkan kekuasaan suatu keharusan adalah jargon kapitalisme. Membagi sedikit keuntungan dirasa sudah cukup sebagai bentuk perhatian, meski sedikitpun tidak menyelesaikan persoalan. Mencukupkan diri dengan menebar narasi, slogan-slogan, juga perayaan. Apalagi, bagi pengusung kapitalisme, kehidupan hanyalah di dunia saja,” sindirnya.
Oleh karena itu, tambahnya, umat jangan terpedaya. “Berbagai perayaan tidak akan mampu menyingkirkan kesengsaraan dan membawa kesejahteraan. Sejatinya itulah tipuan yang mempedayakan, menutup wajah jahat dan bengis kapitalisme, meninabobokan umat akan jalan perjuangan,” urainya.
Berbeda dengan Islam
Arum menegaskan, sungguh berbeda dengan Islam. “Islam mewajibkan penguasa memenuhi kebutuhan rakyat dan memberikan perlindungan, terlebih kepada anak-anak yang akan menjadi generasi penerus masa depan,” tegasnya.
Menurutnya, keimanan kepada Allah dan Hari Akhir akan menghantarkannya kepada tanggung jawab sebagai pelindung umat dan pelayan urusan umat. “Al Qur’an dalam surah Al-Maidah: 32 menyatakan bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya, ” terangnya.
Dengan demikian, simpul Arum, penerapan syariat Islam secara kafah akan menjadi jalan terwujudnya perlindungan yang menyeluruh bagi setiap individu rakyat, termasuk anak-anak. “Jadi, jangan terpedaya dengan maraknya berbagai perayaan, terlebih hanya seremonial belaka tanpa makna,” pungkasnya. [Mnews/IA]
Sumber foto: iStock
