[Fikrul Islam] Makna Lâ Ilâha illallâh (Bagian 1/2)

[Fikrul Islam] Makna Lâ Ilâha illallâh (Bagian 1/2)

Penulis: Muhammad Ismail

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Secara fitri, dalam diri manusia terdapat kecenderungan untuk menyucikan sesuatu (takdis). Berdasarkan fitrahnya itulah, manusia melakukan ibadah terhadap sesuatu. Berarti, ibadah merupakan manifestasi (hasil reaksi) alami dari naluri beragama (gharizah tadayyun). Oleh karena itu, manusia akan merasakan suatu ketenteraman dan kebahagiaan tatkala melakukan ibadah sebab ketika itu ia telah memenuhi tuntutan gharizah tadayyun.

Namun demikian, masalah ibadah tidak boleh diserahkan begitu saja kepada persepsi dari dalam (wijdan) untuk menentukan apa yang seharusnya diibadahi. Hanya mengandalkan wijdan senantiasa memiliki kecenderungan terjadi kesalahan dan dapat menyeret ke jurang kesesatan.

Sebagian besar sesembahan manusia yang disembah berdasarkan dorongan wijdan saja adalah suatu hal yang sebenarnya harus dilenyapkan dan sebagian besar yang disucikan oleh manusia berdasarkan wijdan saja adalah suatu hal yang harus direndahkan. Apabila wijdan dibiarkan menentukan sendiri apa yang selayaknya disembah oleh manusia, maka hal ini dapat membawa kepada kesesatan dalam beribadah yaitu selain kepada Sang Pencipta; atau dapat menjerumuskannya pada perbuatan khurafat, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Al-Khaliq, tetapi malahan menjauhkan dari Al-Khaliq.

Hal seperti itu bisa saja terjadi, sebab wijdan adalah suatu perasaan yang terbentuk dari naluriah semata (ihsaas gharizy); atau suatu perasaan yang muncul dari dalam manusia yang tampak akibat adanya suatu kenyataan yang diindra atau dirasakan berinteraksi dengan manusia, atau bisa juga muncul dari suatu proses pemikiran yang dapat membangkitkan perasaan itu apabila manusia kembali hanya mengandalkan perasaannya untuk sampai pada kesimpulan di atas tanpa disertai proses berpikir, maka kemungkinan besar akan terjerumus dalam kesesatan atau kesalahan.

Misalnya saja pada suatu malam Anda melihat sebuah bayang-bayang hitam sehingga menyangka itu adalah musuh. Maka Anda akan digerakkan oleh naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa’) sebagai bentuk rasa takut.

Kemudian perasaan Anda mengambil reaksi terbaik yaitu dengan cara berlari. Tindakan seperti ini tentu saja merupakan suatu kesalahan, sebab Anda telah berlari karena takut terhadap sesuatu yang mungkin tidak ada. Anda pun lari dari sesuatu yang seharusnya dilawan sehingga reaksi Anda, yakni munculnya rasa takut (dengan berlari) adalah tindakan yang salah.

Akan tetapi, jika Anda menggunakan akal dan memikirkan perasaan yang mencengkeram diri Anda sehingga Anda putuskan sikap reaksi yang seharusnya, maka akan jelaslah bagi Anda, tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Barangkali akan jelas kemudian, bahwa bayangan itu hanyalah sebuah tiang listrik, pohon, atau hewan sehingga lenyaplah rasa takut dalam diri Anda, dan Anda dapat terus berlalu.

Mungkin juga akan jelas bagi Anda bahwa bayangan itu adalah seekor binatang buas sehingga tidak mungkin Anda berlari di hadapannya. Anda harus berusaha mencari perlindungan; dengan memanjat pohon misalnya, atau berlindung di dalam rumah, maka Anda pun akan selamat.

Oleh karena itu, manusia tidak diperbolehkan (begitu saja) memenuhi tuntutan gharizah, kecuali disertai dengan penggunaan akal. Dengan kata lain, tidak boleh ia melakukan suatu tindakan yang semata-mata berasal dari dorongan wijdan saja, tetapi sebaliknya harus menggabungkan akal dengan wijdan.

Berdasarkan hal ini maka takdis (mensucikan sesuatu), harus dibangun berdasarkan proses berpikir yang disertai perasaan wijdan. Sebab takdis adalah hasil manifestasi dari gharizah tadayyun. Bentuk manifestasi ini tidak boleh ada tanpa melalui proses berpikir, karena dapat menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan dan kesalahan.

Manusia wajib memenuhi gharizah tadayyun, tetapi setelah melalui proses berpikir, yaitu setelah menggunakan akalnya. Oleh karena itu, ibadah tidak boleh dikerjakan, kecuali sesuai dengan hasil penunjukan akal sehingga ibadah itu benar-benar ditujukan kepada Zat yang secara fitri patut disembah, Dialah Al-Khaliq yang mengatur segala sesuatu, yang (Zat-Nya) senantiasa dibutuhkan manusia.

Akal manusia memastikan bahwa ibadah hanya dilakukan kepada Al-Khaliq, karena Dialah yang mempunyai sifat azali (tak berawal dan berakhir) dan wajibul wujud (wajib keberadaannya). Manusia tidak boleh melakukan ibadah kepada selain Al-Khaliq.

Dialah yang telah menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan ini, serta memiliki sifat-sifat sempurna secara mutlak. Jika seseorang telah meyakini keberadaan-Nya, maka ia akan mengharuskan dirinya untuk menyembah dan melakukan ibadah kepada-Nya semata.

Adanya pengakuan bahwa Dia adalah Al-Khaliq, baik secara fitri ataupun akli, mengharuskan seseorang yang mengakuinya untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah adalah suatu bentuk manifestasi perasaannya terhadap keberadaan Al-Khaliq. Ibadah merupakan bentuk manifestasi rasa syukur tertinggi yang wajib dilakukan oleh makhluk kepada Zat yang telah memberinya nikmat penciptaan dan pengadaan.

Fitrah manusia dan akal manusia mengharuskan adanya ibadah. Sedangkan, akal memastikan bahwa yang berhak disembah, disyukuri, dan dipuji adalah Al-Khaliq, bukan selain-Nya (makhluk). Oleh karena itu, kita menyaksikan bahwa manusia yang pasrah (menyerahkan diri) hanya kepada wijdan saja sebagai bentuk manisfestasi takdisnya tanpa menggunakan akalnya, mereka terjerumus dalam kesesatan sehingga menyembah banyak sesembahan, di samping pengakuannya terhadap wujud Al-Khaliq yang wajibul wujud dan bersifat tunggal (Esa).

Akan tetapi, ketika membangkitkan manifestasi gharizah tadayyun, mereka menyucikan yang lain. Mereka melakukan ibadah kepada Al-Khaliq, tetapi juga sekaligus kepada makhluk-makhluk-Nya baik dengan anggapan sebagai Tuhan yang layak disembah atau menyangka bahwa Al-Khaliq menitis pada suatu benda ataupun menganggap Al-Khaliq akan rida apabila dilakukan takarub kepada-Nya melalui penyembahan kepada benda-benda tersebut. [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

Sumber: Al-Fikru Al-Islamiyu (Bunga Rampai Pemikiran Islam). Muhammad Ismail.

Sumber foto: Deviantart

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *