Demokrasi Melahirkan Pemimpin Abai

Demokrasi Melahirkan Pemimpin Abai

Penulis: Retno Sukmaningrum

Muslimah News, FOKUS — “Hai, Emak-emak Indonesia… Serius nanya. Kalian itu punya salah apa sih, sama orang ini ? Kok dinyinyirin terus. Antre minyak goreng, salah. Beli baju baru, salah. Padahal, antre minyak goreng tuh karena masak harus tiap hari. Beli baju juga paling setahun sekali. Itupun karena suami baru dapat THR. Mau nyenengin anak sendiri, masa gak boleh? Itu duit, duit halal milik sendiri lho. Bukan nilep dana bansos macam menteri partai anu.” 

Demikian satu respons netizen menanggapi  komentar petinggi BRIN yang akhir-akhir ini rajin menyindir rakyat. Sebagaimana diberitakan, di tengah kondisi masyarakat yang terimpit ekonomi, seorang tokoh partai berkuasa sekaligus penasihat BRIN justru tidak menampakkan sikap simpati.[i]

—

Tidak sekali dua kali rakyat disakiti ucapan para pejabat rezim Jokowi. Ketika cabai mahal, disuruh menanam sendiri. Ketika daging mahal, disuruh makan keong sawah. Ketika listrik mahal, disuruh cabut meteran. Ketika BPJS naik, disuruh jangan sakit. Terbaru adalah rakyat dikatakan bisa beli baju lebaran, tetapi masih antre beli minyak goreng.

Lahir dari Demokrasi

Pejabat publik adalah pemimpin di tengah masyarakat, baik sebagai pemimpin nasional, pemimpin daerah, para menteri, maupun pejabat setingkat, semuanya adalah pemimpin.

Seorang pemimpin masyarakat seharusnya mengedepankan bentuk pelayanan, ngemong, dan mengarahkan rakyat. Bukan malah seperti bentuk penguasa tiran—menindas, abai, dan menyakiti hati rakyatnya.

Plato sebagai pemikir dan penulis awal konsep demokrasi memprediksi bahwa penguasa tiran akan lahir dari sistem demokrasi. Ternyata, prediksinya hari ini terjadi. Jargon demokrasi ‘dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat’ justru menjebak rakyat untuk mendukung kekuasaan yang dikendalikan para tiran.

Bentuk jebakannya adalah kekuasaan ada di tangan siapa pun yang dapat mengendalikan keinginan kolektif warga negara dengan menggunakan emosi mereka dan mengubah pendapat mereka, meski tanpa disertai bukti dan fakta.

Rakyat pun tertipu dengan wajah polos, latar belakang merakyat, ditambahi janji-janji dapat berbagai “tiket sakti”: tiket kerja, tiket sehat, tiket sembako, dll. Bahkan, meski terbukti selama satu periode gagal mewujudkan janji, emosi rakyat kembali dipermainkan pada pemilu berikutnya. Rakyat seolah gampang lupa akan kesalahan yang berulang, akhirnya tertipu lagi terus-terusan.

Mereka yang kembali memimpin kemudian semena-mena membuat kebijakan atas nama rakyat. Di sisi lain, mengkritik kebijakan dinilai melawan kedaulatan rakyat. Padahal, tidak satu pun kebijakan yang dibuat yang pro rakyat.

Rakyat Butuh Sistem Pembanding

Kekuasaanlah yang seharusnya di tangan rakyat, bukan kedaulatan. Terbukti dengan mengatasnamakan kedaulatan di tangan mereka, justru menjadi bumerang bagi rakyat sendiri.

Dengan tetap bertahan dalam sistem demokrasi, harapan sejahtera dan adil tidak akan pernah mewujud. Para pemimpin yang mereka dukung dan usung akan melupakan rakyat saat telah sampai di puncak jabatan dan kekuasaan.

Ada sistem alternatif, sistem yang perlu gencar dikenalkan di tengah umat. Sistem hebat yang datang dari Zat yang Mahahebat, Allah Swt., yakni Khilafah Islamiah. Khilafah merupakan sistem bernegara warisan Rasulullah saw.. Sistem yang dipandu oleh Al-Qur’an dan Sunah. Bukan hanya menyelamatkan manusia di dunia, tetapi juga akhirat.

Khilafah menjamin terwujudnya kesejahteraan dan keadilan dalam kepemimpinan para khalifah yang amanah. Mereka adalah para pemimpin yang terdepan dalam melayani umat, bukan sebaliknya, menindas dengan kebijakan atau tajam berkata pada rakyatnya sebagaimana hari ini.

Satu gambaran nyata adalah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab. Meski kekuasaannya telah menyaingi dua adidaya saat itu, Persia dan Romawi, tetapi beliau adalah pemimpin yang turut merasakan derita rakyatnya ketika ditimpa musim paceklik.

Dikisahkan oleh Muhammad Husain Haekal tentang Amirulmukminin Umar bin Khaththab bahwa Umar yang warna kulitnya putih kemerahan sudah berubah menjadi hitam akibat kemarau panjang.

Jika dahulu beliau terbiasa menyantap susu, samin, dan daging, sejak musim paceklik, Umar hanya menyantap minyak zaitun, bahkan sering mengalami kelaparan. “Jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini, kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib kaum muslim,” kesan penduduk.

Hari ini, kita rindu pemimpin yang demikian hadir di tengah umat, sosok pemimpin yang turut merasakan derita umat. Insyaallah akan hadir kembali seiring dengan tumbangnya sistem demokrasi yang batil ini. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]


[i] https://populis.id/

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *