Penulis: Nisa Utami
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Hai, Sobat Muslimah! Sedih banget ya, awal Ramadan ini banyak berita tindak kekerasan yang dilakukan remaja. Ada remaja yang pulang sahur malah meninggal karena jadi korban klitih (kekerasan jalanan) oleh remaja di daerah Yogyakarta. Ada remaja yang ikut patroli membangunkan sahur, malah meninggal karena terjebak dalam tawuran antarremaja di Jakarta Barat.
Yang lebih miris, ada sekelompok remaja yang sengaja menggelar “Perang Sarung” sebelum sahur dan berujung dengan pengeroyokan hingga menyebabkan seorang remaja meninggal dunia di Tegal.
Kapolres Metro Tangerang, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, beserta Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Prof. Seto Mulyadi, menggelar acara “Ngobrol Pinter Isu di Tengah Masyarakat (Ngopi Item)” guna membahas maraknya tindak kekerasan oleh remaja pada Bulan Ramadan (Liputan6).
Menurut Kak Seto (LPAI), diperlukan ruang bebas berekspresi agar remaja dapat menyalurkan gejolak pencarian jati dirinya ke hal yang positif. Oleh karena itu, Kapolres Metro Kota Tangerang mendorong pemerintah daerah untuk menjadikan Kota Tangerang sebagai Kota Layak Anak.
Pertanyaannya, apakah cukup ruang ekspresi menjadi solusi tindak kekerasan oleh remaja saat ini? Untuk menemukan solusi yang hakiki, kita perlu terlebih dahulu mengetahui penyebab terjadinya kekerasan oleh remaja.
Penyebab Kekerasan oleh Remaja
Banyak banget faktor yang memengaruhi remaja sehingga melakukan tindak kekerasan. Mulai dari pengaruh lingkungan, keluarga, ekonomi, dan sosial. Namun, yang jelas, bukan semata-mata karena remaja tersebut bermasalah. Permasalahannya lebih kompleks dari itu, Sobat!
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyu Kustiningsih, mengamati bahwa ada tiga penyebab utama kekerasan oleh remaja, yaitu terbatasnya ruang publik, berkaitan dengan perpolitikan geng anak muda, dan minimnya pengawasan orang tua (tempo.co.id).
Peneliti tentang klitih (kekerasan jalanan), Yahya Dwi Kurniawan, mengungkapkan adanya faktor ekonomi yang memengaruhi tindak kekerasan itu hingga terjadi. Salah satunya adalah upah minimum di Yogyakarta yang rendah sehingga orang tua tidak mampu memberi banyak uang saku pada anak remaja. Sementara, tidak ada ruang gratis, ruang aman, untuk anak-anak muda ini untuk menunjukkan eksistensi. Remaja pun memilih melakukan klitih sebagai cara eksis tanpa modal (mojo.co.id).
Kriminolog Haniva Hasna, M. Krim., mengatakan bahwa penyebab kekerasan ini juga dipengaruhi oleh kesehatan mental (muslimahnews.net). Adanya frustasi dan konflik pada diri, ditambah pola asuh orang tua yang tidak konsisten serta lalai dalam pengawasan menjadikan pemuda frustasi hingga muncul agresi pada orang lain.
Sementara, menurut Sosiolog Puji Qomariyah, S.Sos., M.Si., karakteristik lingkungan yang kapitalistik menyebabkan terciptanya lingkungan egoistis yang membuat remaja lebih leluasa melakukan aksi tidak manusiawi (lldikti5.kemdikbud.go.id).
Kalau kita simpulkan, penyebab tindak kekerasan oleh remaja dipengaruhi tiga unsur, yaitu pola asuh keluarga, lingkungan yang memberi contoh kekerasan, dan yang paling penting adalah sistem kehidupan yang kapitalistik. Semua ini secara akumulasi menumbuhkan profiling anak yang rentan terhadap tindak kekerasan.
Karena penyebab kekerasan remaja berkaitan dengan tiga unsur tersebut, maka solusinya harus sistematis dan menyeluruh, tidak cukup dengan mendirikan Ruang Bebas Ekspresi.
Solusi Hakiki
Sobat, Islam sebagai agama yang paripurna sudah menyediakan solusi agar keluarga memiliki pola asuh yang baik dengan mengikuti pendidikan ala Rasulullah saw.. Lalu untuk mewujudkan lingkungan yang baik, erat kaitannya dengan sistem kehidupan yang berlaku di dalam masyarakat.
Nah, sistem kehidupan yang kapitalistik saat ini akan menumbuhkan sikap egosentris pada anak remaja karena mendewakan materi, kebebasan, serta memisahkan dunia dengan akhirat (sekuler). Akibatnya anak akan bertindak “semau gue” tanpa ada rasa takut akan adanya balasan di akhirat ketika melakukan kekerasan atau pelanggaran yang lain
Islam juga menaruh perhatian yang besar pada kehidupan remaja, hasilnya terlihat dari hasil pendidikan pada masa kejayaan Islam. Saat itu banyak prestasi membanggakan yang diukir oleh para pemudanya, seperti Abdurrahman an-Nashir dari Kekhalifahan Bani Umayyah yang menjadi pemimpin pada usia 22 tahun. Di bidang militer dan pemerintahan, sosok Muhammad al-Fatih, Umar bin Abdul al-Aziz, dan Salahuddin al-Ayyubi menjadi perhatian dunia karena keistimewaan mereka pada usia muda
Pendidikan berbasis sistem Islam memadukan tiga peran sentral yang berpengaruh pada proses perkembangan generasi, yaitu keluarga, masyarakat, dan yang paling penting adalah negara. Negara wajib menyediakan layanan pendidikan, mulai dari kurikulum berbasis akidah Islam hingga sarana yang memadai. Negara juga melakukan kontrol sosial dengan melakukan pengawasan atas penyelenggaraan sistem Islam secara menyeluruh.
Inilah solusi hakiki yang dinanti untuk menyelesaikan segala problematik kehidupan remaja masa kini. Kedatangannya sudah pasti melalui bisyarah (kabar baik) dari Baginda Nabi. Sekarang, tinggal kembali ke diri kita sendiri sebagai remaja muslimah. Mau menjadi ‘penonton’ semata, atau ikut serta mewujudkannya melalui dakwah Islam kafah. Para pemuda dalam sistem kehidupan Islam merupakan aset negara pengisi peradaban, bukan sampah peradaban akibat efek buruk sistem kapitalisme pada mereka. Wallahualam. [MNews/Rgl]
