Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sebagai Khalifah, Ali bin Abi Thalib ra. menghadapi masalah yang berat. Kondisi negara saat itu tidak stabil. Pasukan beliau di Irak dan daerah lainnya membangkang perintah beliau, mereka menarik diri dari pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga makin memburuk, penduduk Syam tercerai-berai.
Karena banyaknya fitnah yang merebak dan pertumpahan darah, beliau sering berkata, ”Apakah gerangan yang menahan peristiwa yang dinanti-nanti itu? Mengapa ia belum juga terbunuh?”
Rencana Pembunuhan terhadap Khalifah
Ibnu Jarir dan pakar-pakar lainnya menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij berkumpul, mereka adalah Abdurrahman bin Amru yang dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam al-Himyari al-Kindi—sekutu Bani Jabalah dari suku Kindah Al Mishri—,al-Burak bin Abdillah bin Tamimi, dan Amru bin Bakr at-Tamimi.
Mereka berpandangan Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, dan Amru bin Ash adalah para pemimpin yang sesat. Mereka sepakat untuk membunuh ketiganya sebagai bentuk balas dendam atas kematian teman-teman mereka di Nahrawan.
Ibnu Muljam berkata, “Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib.” Al Burak bin Abdillah berkata, “Aku menghabisi Muawiyah bin Abi Sufyan.” Amru bin Bakr berkata, “Aku akan menghabisi Amru bin Ash.” Mereka pun berikrar dan sepakat untuk tidak mundur dari niat semula hingga masing-masing berhasil membunuh targetnya atau terbunuh. Mereka sepakat melakukannya pada 17 Ramadan 40 H.
Kemudian ketiganya berangkat menuju tempat target masing-masing. Ibnu Muljam berangkat ke Kufah. Setibanya di sana, Ibnu Muljam menyembunyikan identitas hingga bertemu teman-temannya di kalangan Khawarij dari bani Taim ar-Rabbab. Mereka mengenang teman-teman mereka yang terbunuh pada perang Nahrawan.
Demi Balas Dendam
Ibnu Muljam bertemu dengan seorang wanita bernama Qatham binti Asy-Sijnah yang ayah dan kakaknya dibunuh oleh pasukan Ali bin Abi Thalib pada perang Nahrawan. Ia adalah wanita yang sangat cantik dan Ibnu Muljam jatuh cinta kepadanya. Ia meminang wanita itu.
Qatham mensyaratkan mahar tiga ribu dirham, seorang khadim, budak wanita, dan membunuh Ali bin Abi Thalib untuk dirinya. Ibnu Muljam berkata, ”Engkau pasti mendapatkannya, demi Allah tidaklah aku datang ke kota ini melainkan untuk membunuh Ali.”
Setelah Ibnu Muljam menikah dengannya, Qatham mulai mendorongnya melaksanakan tugas itu. Ia mengutus seorang lelaki dari kaumnya bernama Wardan, dari Taim Ar-Rabbab, untuk menyertai dan melindunginya. Lalu, Ibnu Muljam juga membawa seorang lelaki lain bernama Syabib bin Bajrah al Asyja’i al-Haruri.
Ibnu Muljam berkata, ”Aku mengintainya di masjid. Apabila ia keluar untuk mengerjakan salat subuh, kita mengepungnya dan kita membunuhnya. Apabila berhasil kita akan merasa puas dan kita telah membalas dendam.”
Lalu, mulailah ketiga orang ini bergerak, yakni Ibnu Muljam, Wardan, dan Syabib dengan menghunus pedang masing-masing. Mereka duduk di hadapan pintu keluarnya Khalifah Ali ra.
Syahidnya Ali bin Abi Thalib ra.
Ketika Khalifah keluar dan membangunkan orang-orang untuk salat sembari berkata, ”Salat…, salat,” dengan cepat Syabib menyerang dengan pedangnya dan memukulnya tepat mengenai leher beliau. Darah beliau mengalir membasahi jenggot. Kemudian, Ibnu Muljam menebasnya. Ia berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali.”
Khalifah Ali ra. berteriak, “Tangkap mereka!” Wardan melarikan diri, tetapi berhasil dikejar dan dibunuh. Sedangkan Syabib, berhasil menyelamatkan diri dan selamat dari kejaran manusia. Sementara, Ibnu Muljam berhasil ditangkap. Kemudia Ali menyuruh Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahab untuk mengimami salat Fajar.
Khalifah pun dibopong ke rumahnya, lalu digiring pula Ibnu Muljam kepada beliau dalam keadaan dibelenggu tangannya ke belakang pundak. Ali ra. bertanya kepadanya, ”Apa yang mendorongmu melakukan ini?” Ibnu muljam berkata, ”Aku telah mengasah pedang ini selama empat puluh hari. Aku memohon kepada Allah agar aku dapat membunuh dengan pedang ini makhluk-Nya yang paling buruk.” Ali berkata kepadanya, ”Menurutku, engkau harus terbunuh dengan pedang itu. Dan menurutku engkau adalah orang yang paling buruk.”
Khalifah Ali ra. lalu berpesan, “Bila aku mati, bunuhlah ia sebagai kisas untukku, tetapi bila aku masih hidup, aku sendiri yang akan memutuskannya.”
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. wafat pada malam Ahad, 19 Ramadan 40 H, dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di Kufah. Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber: Prof. Dr. Ibrahim al Quraibi. Tarikh Khulafa. Qisthi Press.
Sumber foto: iStock

Innalillahi wainna ilaihi roojiun..
Subhanalloh.. :'(