Muslimah News, RAMADAN SEDUNIA – Jika di Indonesia takjil identik dengan kolak, takjil favorit di Irak adalah jus buah. Menjelang waktu berbuka puasa, kedai jus buah mulai buka. Jus delima paling digemari karena rasanya unik dan menyehatkan. Selain itu ada jus buah lainnya, seperti anggur, lemon, dan kurma.
Setelah berbuka puasa, para pemuda biasanya bermain mheibes, sebuah permainan tradisional khas Ramadan di Irak. Sekelompok pemuda akan berebut cincin. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 21 orang. Para pemain akan bergiliran untuk menyembunyikan cincin dalam genggaman mereka. Permainan ini sangat seru dan bisa dilakukan hingga larut malam.
Selain tradisi minum jus dan mheibes, ada pula tradisi berbagi makanan di Kota Baghdad. Seperti yang dilakukan di Masjid Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Di masjid ini terdapat tradisi yang sudah berumur 480 tahun, yaitu memberi makan untuk berbuka puasa bagi 400 orang miskin setiap harinya. Karpet merah akan digelar di atas lantai marmer. Lalu menu berbuka puasa yaitu nasi, daging, roti, sup ayam kental, yoghurt dan buah akan disajikan. Selain mendapatkan makanan untuk berbuka, orang-orang tersebut akan memperoleh bantuan keuangan.
Masjid ini awalnya adalah sebuah sekolah yang didirikan pada tahun 1146 oleh Syekh Al Makhrami. Pada tahun 1165, setelah wafatnya Syekh al-Makhrami, sekolah ini diserahkan pada muridnya, yaitu Syekh al-Jailani. Nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani tentu tak asing bagi umat Islam Indonesia. Namun, mungkin tidak banyak yang tahu tentang sosok sang ulama dan masjid beliau di Baghdad.
Syekh Abdul Qadir dilahirkan di Desa Nif atau Naif, termasuk pada distrik Jailan, Kurdistan Selatan (150 kilometer sebelah timur laut Kota Baghdad). Syekh al-Jailani merupakan ulama besar dan disebut sebagai mujtahid abad ke-14. Beliau wafat pada tahun 1166 dan dimakamkan di kompleks masjid tersebut.
Selain mewariskan ilmu Islam, Syekh al-Jailani juga mewariskan peninggalan berharga berupa Perpustakaan al-Qadiriyah yang terletak di kompleks Masjid Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Perpustakaan ini didirikan oleh Abu Said al-Mubarak al-Makhrami, seorang qadi terkemuka di Baghdad pada masa itu. Perpustakaan ini merupakan salah satu perpustakaan terpenting dan tertua yang masih bertahan di Baghdad.
Setelah Al-Makhrami wafat, perpustakaan ini diserahkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Di perpustakaan ini terdapat lebih dari 68 ribu kitab berbagai disiplin ilmu. Sebanyak 1.700 di antaranya masih berbentuk manuskrip yang berasal dari masa Khilafah Abbasiyah. Mayoritas merupakan karya-karya yang berhasil selamat dan tercecer di Sungai Tigris dari serangan pasukan Hulagu Khan, saat membumihanguskan Baghdad pada 1258 M.
Ketika Agresi AS atas Irak pada 2003, banyak manuskrip dan kitab langka yang dicuri dan dibakar. Syukurlah, sebagian besar selamat karena diletakkan di ruang penyimpanan yang aman.
Manuskrip kuno dari era Abbasiyah ini menjadi bukti kejayaan Khilafah Islam. Terbukti bahwa pada masa Islam, kaum muslim memiliki ketinggian ilmu dan tsaqafah Islam. Namun sirnanya Khilafah dan datangnya penjajah telah membuat umat kehilangan kemajuannya dan kini berada dalam nestapa. [MNews/Rgl]
Sumber foto: wikipedia
