[Nafsiyah] Mental Pembebas

[Nafsiyah] Mental Pembebas

Penulis: Fika Komara

Muslimah News, NAFSIYAH — Sosok pembebas adalah sosok yang selalu melakukan perbaikan di tengah masyarakatnya, tidak bisa diam melihat kerusakan, dan tidak berpangku tangan menyaksikan kemungkaran.

Kualifikasi inilah yang disebut “muslih” (مُصْلِح) oleh Imam al-Ghazali, setingkat lebih baik dari “saleh” (صَالِح) hanya berada di level individu, sementara muslih melakukan perbaikan di level umat.

Oleh karenanya, menjadi muslih lebih berisiko menerima penolakan dari para penyuka kegelapan dan kerusakan. Wajar bila ada pepatah berkata, “Bila ingin dipuji, jadilah orang saleh, jangan jadi muslih.”

Hal ini senada dengan ucapan Arab, “الصالح تحبه الناس و المصلح تعاديه الناس (Orang baik (saleh) dicintai manusia, sedangkan penyeru kebaikan (muslih) dimusuhi manusia.”

Meski berisiko, menjadi pembebas yang muslih adalah konsekuensi iman kita pada Allah dan Rasul-Nya. Sebab itulah, Allah Swt. memuji orang-orang yang melakukan perbaikan serta menjamin bahwa kehidupan mereka tidak akan diliputi dengan kekhawatiran dan kesedihan.

“Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al-An’am [6]: 48)

Allah juga memberi mereka pahala dan manfaat yang sangat banyak karenanya. “Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al-A’raf [7]: 170)

Demikian sekelumit catatan untuk dipatri dalam dada para pengemban dakwah, para pembebas umat, yakni para pelaku perbaikan peradaban. [MNews/Gz]

Sumber artikel: Akun Facebook Fika Komara

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *