Muslimah News, NASIONAL — Merespons pengukuhan Duta Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat 2022 kepada 960 pelajar SMA, SMK, MA, SLB, dan mahasiswa, pengamat pendidikan dan isu generasi Yusriana menyatakan ini jelas berbahaya. Setidaknya ada empat bahaya yang ia sampaikan dalam sebuah podcast, Ahad (10/4/2022) .
Pertama, sebutnya, akan mencetak generasi sekuler yang inklusif dan sangat toleran. “Mereka akan menolak pemberlakuan syariat Islam secara total dan akan membiarkan penyimpangan akidah maupun syariat islam,” jelasnya.
Kedua, imbuhnya, akan menyesatkan generasi muda karena HAM dianggap bagian dari ajaran Islam. “Padahal hakikatnya, HAM adalah ajaran Barat yang digunakan sebagai senjata untuk memelihara kepentingan Barat,” ujarnya
Ketiga, katanya, akan mencetak generasi muda muslim yang berkarakter Barat pemuja kebebasan.
Keempat, lanjutnya, akan menjadikan para pemuda Muslim yang seharusnya menjadi pejuang dan pembela Islam akhirnya terjerumus menjadi pembela dan pejuang pemikiran-pemikiran kufur produk Barat. “Melalui tangan para pemuda Muslim inilah, Barat mencoba menghadang kebangkitan Islam,” ungkapnya prihatin.
Sehingga, ia menilai, ketika para pelajar dilantik sebagai Duta hukum dan HAM maka bisa dikatakan ini merupakan pembajakan potensi pelajar. “Menjadi agen Barat dalam menyebarkan ide-ide buruk mereka,” cetusnya.
HAM Menjadi Standar
Kemudian ia membedah apa yang dimaksud HAM di sini adalah HAM dalam perspektif Barat. “Hak Asasi Manusia atau HAM merupakan ide yang sangat populer saat ini. Menjadi standar manusia untuk menilai baik dan buruk, seakan menjadi agama baru yang menjadi pedoman hidup manusia saat ini,” kupasnya.
Jadi, sambungnya, sesuatu yang melanggar HAM itu dianggap buruk dan yang sesuai dengan HAM itu dianggap baik.
“Padahal, HAM yang selama ini digembar-gemborkan kalangan sekuler sesungguhnya bagian dari ide demokrasi yang dipropagandakan Barat sekaligus dijajakan di negeri-negeri Islam,” kritiknya.
Demokrasi sendiri, lanjutnya, didasarkan paham kebebasan. “Yaitu, kebebasan terkait dengan kebebasan beragama, berpendapat, berperilaku, dan berekonomi. Jadi, ide HAM ini tentu saja merupakan ide berbahaya bagi kaum muslim,” cetusnya.
Ia mencontohkan, dengan alasan kebebasan berperilaku sebagai ekspresi dari kebebasan individu, HAM melegalkan praktek yang menyimpang dari Islam, seperti seks bebas, homoseksual, lesbian, pornografi dan pornoaksi sehingga kemaksiatan pun meluas di tengah masyarakat.
“HAM sesungguhnya hanyalah salah satu instrumen Barat dalam menyebarkan ideologi kapitalismenya. Paham ini lahir dari sekularisme Barat yang memisahkan agama dalam urusan kehidupan yang sarat dengan ide kebebasan atau liberalisme,” urainya.
Kepentingan Barat
Selanjutnya, ia menegaskan, berkembangnya ide HAM di tengah-tengah masyarakat jelas merupakan kepentingan Barat. “Baratlah yang selama ini paling getol mengampanyekan HAM.Dengan HAM, Barat terus berupaya menyerang dan memojokkan kaum muslim dan ajaran Islam. Kita lihat bagaimana aturan-aturan Islam yang agung sering digerogoti dengan isu-isu HAM. Syariat Islam pun sering diserang dengan nama HAM,” tukasnya.
Bahkan, ucap Yusriana, pornografi dan pornoaksi yang jelas-jelas merusak tatanan keluarga dan sosial masyarakat justru bisa berjalan mulus dengan alasan HAM.
“Walhasil, HAM merupakan propaganda yang berbahaya bila diadopsi oleh masyarakat dan individu yang ada di dalam masyarakat,” jelasnya.
Waspada
Oleh karena itu, Yusriana menekankan kepada para orang tua, guru, dan para tokoh umat Islam yang peduli pada nasib generasi seharusnya waspada terhadap semua narasi Barat ini dan tentu harus berupaya menghilangkannya dari benak generasi.
“Generasi muda adalah harta berharga bagi umat ini. Generasi muda adalah energi mesin penggerak kebangkitan umat. Sebagaimana dulu di masa Rasulullah saw., para pejuang dan pembela Islam banyak dari kalangan pemuda,” paparnya.
Ia mengingatkan kejayaan islam banyak digerakkan oleh barisan kaum muda. “Para ulama salafus saleh mendidik kaum tunas muda agar kelak muncul generasi penerus umat. Mereka paham menyia-nyiakan pembinaan kaum muda sama artinya dengan merencanakan kehancuran suatu bangsa,” katanya.
Maka, ia menggarisbawahi, kita harus berusaha menjauhkan generasi muda dari bahaya HAM ini. “Jangan biarkan potensi generasi muda kita dibajak atas nama program manis yang berbalut racun,” pungkasnya. [MNews/Ruh]
Sumber foto: kumparan


Menyianyiakan gemeradi sama dengan merencanakan kehancuran.. Subhanalloh