[Fikrul Islam] Faktor-Faktor Penunjang Perubahan

[Fikrul Islam] Faktor-Faktor Penunjang Perubahan

Penulis: Ahmad ‘Athiyat

Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Adanya perbedaan dalam al-ihsas al-fikriy menjadi perkara yang alami di antara manusia karena berbedanya kualitas berpikir mereka. Apa yang dianggap rusak oleh sebagian orang karena adanya pemikiran awal, bisa jadi tidak dipandang begitu oleh sebagian yang lain, yang tidak memiliki pemikiran awal tentang hal itu.

Ketika sebagian orang bisa mengindra sebuah kezaliman dengan mudah, kita dapati sebagian yang lain tidak bisa mengindranya atau mereka mengalami kesulitan untuk menghindari kezaliman itu. Dengan demikian, berdasarkan perbedaan tingkat pemikiran, maka manusia akan berbeda-beda pula kemampuannya untuk melakukan pengindraan yang berlandaskan pada pemikiran.

Ditinjau dari segi al-ihsas al-fikriy, pengindraan yang berlandaskan pemikiran, maka manusia dapat dikategorikan dalam tiga golongan. Pertama, mereka mengindranya tajam (murhif al-ihsas), yakni mereka yang bisa menghindari kerusakan dan apa pun yang menyerupainya dengan cepat. Kedua, mereka yang mengindranya normal atau biasa-biasa saja di al-ihsas sehingga mereka perlu sedikit kerja keras agar bisa mengindranya. Dan ketiga, mereka yang mengindranya lemah dan lamban (balid al ihsas), yakni mereka yang harus mengerahkan segenap daya upaya agar bisa mengindra dengan pengindraan jenis ini.

Berdasarkan hal itu, kesadaran (al-wa’yu) dan pemikiran awal (al-fikr as-sabiq) menjadi sebuah keharusan untuk mewujudkan pengindraan yang berlandaskan pada pemikiran. Selanjutnya sampai pada proses berpikir melakukan perubahan, kemudian barulah melakukan aktivitas perubahan. Bertolak dari hal itu, apabila pengindraan atas sebuah kerusakan atau sebuah realitas yang rusak tersebut kuat, maka aktivitas untuk mengadakan perubahan pun menjadi lebih kuat.

Adanya sebuah kesadaran dan pemahaman atas kerusakan atau realitas yang rusak saja tidaklah cukup untuk melakukan aktivitas mengubah realitas tersebut. Hal itu mesti dibarengi dengan pemahaman atas sebuah realitas alternatif yang bisa menjadi pengganti realitas yang rusak tersebut. Hal ini menjadi bagian kedua dalam masalah pemahaman dan kesadaran.

Bagian pertama adalah kesadaran akan realitas yang rusak, yang selanjutnya diiringi oleh pengindraan terhadap kerusakan itu; dan bagian kedua adalah kesadaran keberadaan sebuah realitas yang akan menggantikan realitas yang rusak tersebut. Kedua hal ini harus ada agar aktivitas perubahan menjadi tujuan, dan bisa berjalan searah dengan maksud yang telah ditentukan sehingga tidak menjadi sebuah aktivitas yang sia-sia, yang tidak memiliki arah pasti dan tujuan yang jelas.

Kesadaran intelektual (al waki’ al fikri) dengan kedua unsur yaitu kesadaran akan realitas yang dijalani dan kesadaran akan realitas pengganti menjadi asas suatu perubahan dan faktor yang berpengaruh penting dalam sebuah proses berpikir (amalia at-tafkir). Apabila kesadaran intelektual itu meningkat, maka meningkat pula pengindraan terhadap perkara-perkara yang berkaitan dengan pemikiran, al fikriy.

Pengindraannya meningkatkan taraf pengindraan yang cepat. Untuk memperjelas apa yang kami paparkan tadi, maka kami berikan perumpamaan sebagai berikut.

Apabila kita mendatangi dua orang, salah satu dari keduanya disusui dengan susu kemuliaan dan kehormatan serta mendapat pendidikan dalam suasana penuh penghargaan dan penghormatan. Sementara itu, orang yang kedua disusui oleh susu kehinaan dan kerendahan dan memperoleh didikan dalam kubangan penghinaan dan pelecehan. Lalu kita mengisyaratkan penghinaan pada kedua orang tersebut:

Apakah penolakan keduanya sama ataukah berbeda? Apakah orang pertama akan menerima sebuah penghinaan seperti yang kedua? Apakah sama tingkat kemarahan kedua orang tersebut terhadap penghinaan tadi?

Jawabannya tentu sangat jelas, sebabnya adalah bahwa yang pertama merupakan hasil dari kesadaran awal dan keterbiasaannya dengan penghormatan dan penghargaan sehingga dia tidak mau menerima penghinaan. Adapun yang kedua tidak meresponsnya, ini karena dia telah terbiasa dengan kehinaan kerendahan dan pelecehan, sejak dia berada dalam kehinaan, dan dia belum pernah memahami bahwa penghinaan merupakan sesuatu yang menafikan kehormatan manusia dan kemanusiaannya.

Dia bagaikan seekor keledai yang menduga bahwa kehinaan dan kerendahan ataupun pelecehan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Dia tidak mampu membayangkan kehidupan tanpa kehinaan.

Begitu pula halnya seseorang yang dilahirkan dan hanya bergerak, tumbuh, dan mencapai usia setengah baya di antara dua dinding penjara yang gelap gulita. Dia tidak percaya, bahkan sulit baginya menggambarkan kemungkinan adanya sebuah tempat lain selain penjara.

Sebuah tempat yang menyenangkan dengan kondisi lebih baik daripada keadaan penjaranya, atau bahkan ia akan menolak jika penjaranya itu disebut penjara karena dia tidak bisa membedakan antara penjara dengan yang lainnya dan beranggapan bahwa tempat yang kini ditinggalinya merupakan tempat alami dalam hidupnya.

Lain lagi dengan orang merdeka yang pertama, sebuah penghinaan merupakan sesuatu yang memastikan darahnya menjadi bergolak. Karena dia bisa merasakan dan mengindra makna setiap kata di dalamnya, dan memahami bahwa menurut asalnya ia sebagai manusia tidak boleh dihina. Ia harus dihormati, dihargai, dan dimuliakan.

Pendek kata, merupakan sebuah kepastian bahwa setiap orang menginginkan adanya perubahan walaupun keinginan itu memiliki taraf yang berbeda-beda dan berbeda pula motivasi pendorong dan maksudnya. Kuat tidaknya aktivitas untuk melakukan perubahan itu akan berbeda pula. Pangkal semua itu adalah kesadaran intelektual (al wa’yu al fikriy) akan realitas yang rusak.

Karena itu, setiap ilmuwan yang pengindraannya tajam harus memahami sepenuhnya faktor-faktor tadi. Hendaknya mereka giat beraktivitas untuk mewujudkan pengindraan intelektual di antara manusia agar bisa membawa dan mendorong mereka untuk mau beraktivitas melakukan perubahan. Hal itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan menjelaskan kerusakan realitas yang saat ini sedang mengungkungnya, sekaligus menjelaskan realitas lain yang akan menggantikan realitas yang rusak dan memaparkan semua itu dengan paparan yang jelas dan gamblang.

Tanpa semua ini, sebuah keberhasilan dan kemenangan tidak akan pernah bisa diraih oleh gerakan perubahan mana pun. Seperti yang sudah dinyatakan bahwa kezaliman itu menjadi sebab dan motif pendorong adanya pergolakan atau revolusi. Akan tetapi pengindraan atas kezaliman itulah yang menjadi pendorong terjadinya pergolakan dan revolusi itu.

Paparan tadi menjelaskan faktor-faktor dasar yang menjadi penopang suatu perubahan, dan menjelaskan bahwa pemikiran untuk mengadakan perubahan atau keinginan akan perubahan itu tidak mungkin tercapai sempurna kecuali dengan adanya kesadaran intelektual atas realitas yang rusak. Semua itu harus diperoleh dengan pertimbangan yang seksama. [MNews/Rgl]

Sumber: Ahmad ‘Athiyat, Jalan Baru Islam

Sumber foto: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *