Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Alhamdulillah wa syukru lillaah, biidznillah saat ini kita telah memasuki Ramadan, bulan mulia penuh keberkahan, limpahan pahala, dan ampunan. Rasulullah saw. bersabda, “Telah datang Ramadan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat, dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.” (HR Ahmad)
Dalam hadis lainnya, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 lipat. Allah Taala berfirman, “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis-hadis ini menjelaskan bahwa Ramadan adalah kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk memperbanyak amal kebaikan karena bernilai pahala. Rasulullah dan para sahabat tidak hanya memperbanyak ibadah mahdhah, tetapi juga melaksanakan semua amal kebaikan, seperti menuntut ilmu, bersedekah, melakukan dakwah di tengah umat, dan sebagainya. Bahkan, Rasulullah dan para sahabat berjihad saat Ramadan, di antaranya Perang Badar al-Kubra dan Penaklukan Makkah dalam keadaan berpuasa! Masyaallah.
Waspada dari Puasa yang Sia-Sia
Demikian istimewa dan pentingnya Ramadan, begitu banyak pahala yang Allah limpahkan untuk kita semua saat bulan mulia ini. Banyak pula aktivitas kebaikan yang bisa kita lakukan. Tentu saja, berarti kita harus mempersiapkan dengan baik sehingga bisa menjalaninya sesuai tuntunan syarak dan tidak terjebak ke dalam puasa yang sia-sia.
Rasulullah telah memperingatkan melalui sabdanya, “Berapa banyak orang berpuasa, hasil yang diperoleh dari puasanya hanyalah lapar dan hausnya, dan banyak orang yang melakukan salat malam (Tarawih), tetapi sebenarnya hanya begadang saja.” (HR Ath Thabrani)
Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda,
وَالْعَطْش الْجُوْع إِلَّا صِيَامِهِ مِنْ لَهُ لَيْسَ صَائِمٍ مِنْ كَمْ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR An-Nasa’i)
Para ulama menjelaskan tentang hadis-hadis ini bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan pahala kecuali dari menahan lapar dan dahaga semata.
Peringatan Rasulullah ini seharusnya menyadarkan kita agar tidak terjebak ke dalam rutinitas, tren tahunan sekadar menahan lapar dan haus, dengan aksesori-aksesori yang hampa makna. Tentu saja kita harus memahami perbuatan apa yang harus kita jauhi saat Ramadan dan yang harus kita tingkatkan.
Perbuatan yang Harus Dihindari
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt. berfirman, “Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. Puasa itu adalah perisai. Jika datang hari puasa, janganlah seseorang di antara kalian berkata rafats dan jangan memaki. Jika ada orang yang mencacinya atau sehingga memancingnya berkelahi, hendaklah ia berkata, ‘Aku sedang berpuasa’. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada wangi misk. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: jika ia berbuka ia berbahagia; jika bertemu Tuhannya, ia berbahagia karena puasanya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad)
—
Hadis qudsi tersebut mengingatkan agar menjaga puasa kita dari hal-hal yang bisa membawa kepada puasa yang sia-sia, di antaranya sebagai berikut:
1. Berkata dusta (az-zuur).
Inilah perbuatan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia dan merasakan lapar dan dahaga semata. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan az-zuur (perkataan dusta) dan malah mengamalkannya, Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang ia tahan.” (HR Bukhari)
Apa yang dimaksud dengan az-zuur? As-Suyuthi mengatakan bahwa az-zuur adalah berkata dusta dan memfitnah (buhtan), sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji—yang merupakan konsekuensinya—yang telah Allah larang. (Syarah Sunan Ibnu Majah, Maktabah Syamilah)
—
2. Berkata laghwu (sia-sia) dan rafats (kata-kata porno).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Puasa bukanlah menahan makan dan minum saja, tetapi puasa adalah menahan diri dari perkataan laghwu dan rafats. Apabila ada seseorang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa.'” (HR Ibnu Majah dan Hakim)
Dalam Fathul Bari dijelaskan makna laghwu dan rafats. Tentang laghwu, Al-Akhfasy mengatakan, “Laghwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”
Prof. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyebut “aI-aaghwi” dari kata “laghaa” artinya perbuatan atau kata-kata yang tidak ada faedahnya, tidak ada gunanya, tidak ada nilainya, misalnya senda-gurau atau main-main yang tidak ada ujung pangkalnya.
Sedangkan rafats, Ibnu Hajar mengatakan, “Istilah rafats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji (melontarkan kata-kata porno atau jorok).”
—
3. Gibah.
Dalam HR ‘Ubaid ra., Rasulullah saw. dikisahkan pernah memerintahkan orang-orang berpuasa selama sehari. Mereka pun berpuasa. Ada dua perempuan yang tampak sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Lantas, keduanya mengutus seseorang menghadap Rasulullah saw.. Mereka ingin diizinkan berbuka puasa.
Rasulullah kemudian memberikan sebuah mangkuk kepada utusan itu untuk diberikan kepada kedua perempuan tadi. Beliau memerintahkan agar kedua perempuan itu memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk tersebut.
Keduanya pun memuntahkan darah dan daging segar ke dalam mangkuk tersebut. Orang-orang takjub menyaksikannya. Rasulullah bersabda, “Kedua perempuan ini berpuasa terhadap makanan yang Allah halalkan, tetapi mereka melakukan perbuatan yang Allah haramkan. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang lain. Itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.”
Hadis lainnya, Rasulullah saw. bersabda (HR Ad-Dailami),
الكاذِبةُ واليمِينُ بِالشّهوةِ،والنّظرُ والكذِبُ، النّمِيمةُ،و الغِيبةُ، : الصّائِم يُفطِرن خمسٌ
“Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.”
—
4. Banyak bermaksiat.
Berpuasa bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi hendaknya juga menjauhi perbuatan haram (maksiat). Sebuah atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah menjelaskan, “Berkata Jabir bin ‘Abdillah, ‘Seandainya kamu berpuasa, hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram, serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah pada hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latha’if al Ma’arif, Asy-Syamilah)
Ibnu Rajab al-Hambali menyampaikan nasihatnya, “Ketahuilah, amalan takarub (mendekatkan diri) pada Allah Taala dengan meninggalkan berbagai syahwat—yang sebenarnya mubah ketika di luar waktu puasa, seperti makan atau berhubungan badan dengan istri—tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang, yaitu dusta, perbuatan zalim; serta permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta, dan kehormatan.”
Apakah Sah Puasanya?
Sebagian ulama menyebut puasa yang sia-sia sebagai sejelek-jeleknya puasa, yaitu berpuasa, tetapi hanya menahan lapar dan dahaga, sedangkan perbuatan maksiat masih terus dilakukannya.
Terkait sah atau tidaknya, tidak satu pun ulama menyatakan puasanya batal. Di antara mereka menyatakan bahwa seseorang yang gemar bermaksiat saat Ramadan, seperti berkata dusta, memfitnah, ataupun bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, puasanya tetap sah, tetapi ia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah Taala.
Syekh ‘Ali al-Qari dalam Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih berkata, “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang berhaji, yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi ia tidak memperoleh kesempurnaan pahala. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa akibat maksiat yang ia lakukan.”
Sedangkan Ibnu Rajab mengatakan, “Tingkatan puasa yang paling rendah adalah meninggalkan minum dan makan saja.”
Selanjutnya ia mengatakan, “Mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barang siapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu ia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan) saat Ramadan, maka puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur ulama. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus; dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.” (Latha’if al-Ma’arif, 1/168, Asy-Syamilah)
Ibnu Hajar dalam Al-Fath juga mengatakan mengenai hadis tentang perkataan az-zuur (dusta) dan mengamalkannya, “Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum, dan jimak (berhubungan suami istri).”
Khatimah
Telah kita pahami bersama, Ramadan adalah bulan berlimpahnya pahala. Setiap amal kebaikan bernilai pahala, bahkan memberi seteguk minuman kepada orang berpuasa, pahalanya sama seperti orang berpuasa.
Oleh karenanya, ini merupakan kesempatan kita untuk memperbanyak amal kebaikan. Semoga Allah memberi kelapangan sehingga kita bisa menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Amin.
Saudaraku, mari kita berupaya keras agar tidak terjebak pada puasa yang sia-sia, yakni sekadar mendapatkan lapar dan dahaga. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa.
Sungguh, sangat merugi orang yang melewatkan pahala yang begitu melimpah ruah saat Ramadan. Mari kita maksimalkan amal kebaikan pada bulan mulia ini, tingkatkan intensitas ibadah, perbanyak menuntut ilmu, tingkatkan kepedulian, berdakwah kepada Islam, serta terus gelorakan spirit perjuangan menegakkan syariat Islam, terutama saat dan selepas Ramadan nanti. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Semoga puasa kita berkualitas