Muslimah News, INTERNASIONAL—Aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti menyoroti solusi para anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menghadapi beragam serangan terhadap Islam dengan menginisiasi upaya memerangi islamofobia. Organisasi yang terdiri dari kurang lebih 57 negara anggota ini meminta pada PBB untuk mengadopsi revolusi-revolusi yang dapat memerangi islamofobia tersebut.
Ratu Erma mengatakan tujuan mereka sudah benar, yaitu berupaya agar kondisi umat Islam yang selama ini dicurigai dan mendapatkan intimidasi dapat segera diakhiri. Namun, menurutnya, alih-alih melindungi muslim, solusi yang ditawarkan malah menyalahkan Islam sebagai ajaran yang menginspirasi munculnya kebencian umat lain terhadap Islam.
“Apa yang kemudian terjadi dan dipahami oleh para penguasa negeri muslim ini berlawanan dengan pesan perlawanan terhadap islamofobia. Alih-alih melindungi muslim, malah menyalahkan Islam sebagai ajaran yang menginspirasi munculnya kebencian umat lain terhadap Islam. Ini mindset yang salah,” tegasnya dalam sebuah podcast, Selasa, (22/03/2022).
Ia pun mengingatkan beberapa peristiwa terakhir yang menyakiti umat Islam. “Apa yang terjadi dengan muslimah di India ketika siswanya dilarang menggunakan jilbab ke sekolah. Kemudian juga tragedi pembakaran masjid, pembunuhan muslim, dan banyaknya peristiwa buruk terhadap umat baik di belahan dunia barat maupun timur,” ujarnya.
Stop Diskriminasi
Seharusnya, menurut Ratu Erma, memerangi islamofobia adalah menuntut kepada nonmuslim agar stop melakukan diskriminasi terhadap Islam, “Semestinya mereka diserukan menghormati Islam, bukan malah menyalahkan Islamnya dan menuntut agar muslim itu berperilaku yang menunjukkan Islam damai, ramah, toleran, dan menghormati ajaran agama lain,” tegasnya.
Apalagi, ia menjelaskan, diskriminasi terhadap Islam ini bisa terjadi ketika umat Islam tidak memiliki power dan kendali dalam kehidupan bernegara, maka seperti inilah kondisinya. “Setiap ajaran Islam, yang merupakan perintah dari Allah Swt., justru diciptakan agar seolah ditakuti. Islam digambarkan sebagai radikal, ekstrem, dan keras,” ungkapnya miris.
Gagasan Liberal
Ratu Erma menyayangkan seruan yang digaungkan OKI sejatinya lahir dari pemikiran liberal, “Meminta agar umat Islam mengalah, sama saja dengan menjadikan umat Islam sebagai pecundang. Pandangan ini lahir dari tokoh-tokoh agama yang memiliki gagasan liberal,” tandasnya.
Ia mengkritisi upaya para tokoh liberal tersebut yang telah menandatangani dokumen persaudaraan manusia antara Al-azhar dengan Paus dari Vatikan, “Upaya ini sangat menyakitkan bagi kaum muslim. Mengapa harus selalu umat Islam yang diminta untuk tidak melaksanakan ajaran agamanya sendiri karena dianggap mengganggu?” kritiknya.
Seperti halnya yang terjadi di negeri ini, ujarnya, terkait surat edaran tentang pengaturan pengeras suara masjid oleh Kementerian Agama. Mereka menganggap Islam dapat mengganggu ketenangan agama lain, “Miris, menjelang Ramadan diatur bahwa bacaan Al-Qur’an hanya dibolehkan menggunakan speaker di dalam masjid,” imbuhnya.
Akibatnya, ia menekankan, gagasan liberal ini otomatis akan mengubah suasana yang sebenarnya dirindukan umat Islam, “Umat tak lagi dapat mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan suara bacaan salat dari masjid. Sangat jelas, penguasa muslim dan pemuka agama hari ini memiliki basis pemikiran sekuler dan liberal,” tegasnya.
Ketakutan Kaum Liberal
Ratu Erma menggambarkan kaum liberal ini telah mengeklaim hukum-hukum dan ajaran Islam dengan sebutan negatif, “Islam dianggap memiliki ajaran yang keras. Contohnya, jihad, amar makruf nahi mungkar, gagasan mendirikan negara Islam, dan penerapan syariat Islam untuk mengatur semua kepentingan umat manusia,” sebutnya.
Padahal, ia mengungkapkan sesungguhnya yang ditakuti oleh mereka ialah Islam berjaya dengan penerapan syariatnya karena hal itu menandakan lenyapnya peradaban kapitalisme liberalisme. “Inilah alasan sebenarnya dari upaya menegatifkan ajaran Islam tersebut, ” ucapnya.
Ratu Erma menambahkan, kaum liberal dan peradaban kapitalisme ini akan terganggu hegemoni dan kesenangannya dalam menguasai dunia dengan segala isinya, “Inilah yang sesungguhnya ada di balik ketakutan mereka sehingga memunculkan apa yang disebut dengan islamofobia,” tutupnya. [MNews/Nvt]
Sumber foto: suaraislam


Solusi yg tidak menyolusi