MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Seorang muslim yang telah menyatakan komitmennya dalam bentuk syahadatain, Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah, akan senantiasa menjadikan akidah Islam sebagai qa’idah fikriyah (landasan berpikir) sekaligus qiyadah fikriyah (pimpinan berpikir) dalam kehidupannya. Hal itu karena Islam memiliki jalan yang khas dalam hidup dan meraih kebahagiaan.
Seorang muslim, dengan demikian, memiliki pandangan dan jalan hidup yang khas, keduanya mengendalikan segala pola tingkah lakunya.
Tatkala Islam menjadi pandangan dan jalan hidup yang khas pada diri seorang muslim, itu berarti akidah Islam menjadi mabda (ideologi) dalam dirinya.
Akidah Islam menjadi fondasi, akar yang menghasilkan cabang-cabang mafahim (pemahaman), yang kemudian digunakan sebagai maqayis (standar) dalam menilai baik dan buruk segala sesuatu.
Seorang muslim, pada titik itu, telah menghindarkan dirinya dari sikap hewan yang mengandalkan insting karena ia menjadikan akalnya (bukan insting) sebagai kemudi perilaku.
Akal membangun keyakinan terhadap Allah Swt., meyakini khabar shadiq (informasi yang benar) dari Al-Qur’an, dan menerima taklif syarak dari Al-Qur’an berupa perintah dan larangan.
Dengan demikian, hidup seorang muslim akan senantiasa berjalan di atas aturan Allah dan ia makin mantap dengan keyakinan bahwa jalan yang ia tempuh adalah shiratal mustaqim dan tidak akan menyimpang darinya.
Hal itu karena dalam dirinya merasuk “ruh” (spirit), kesadaran akan hubungan dirinya dengan Allah. “Ruh” ini lahir dari akidah Islam yang khas yang menghubungkan kehidupan ini dengan sebelum kehidupan dan sesudah kehidupan.
Sesungguhnya, sebelum adanya kehidupan ini, ada Allah Swt. Sang Pencipta dan setelah kehidupan dunia ini ada Hari Akhir. Inilah prinsip mendasar dalam akidah seorang muslim.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menulis dalam kitab Nizhamul Islam, “Berdasarkan penjelasan ini, maka kita wajib beriman kepada apa yang ada sebelum kehidupan dunia, yaitu Allah Swt., dan kepada kehidupan setelah dunia, yaitu Hari Akhirat.”
Bila sudah diketahui bahwa penciptaan dan perintah-perintah Allah merupakan pokok pangkal adanya kehidupan dunia, sedangkan perhitungan amal perbuatan manusia atas yang ia kerjakan di dunia merupakan mata rantai dengan kehidupan setelah dunia, maka kehidupan dunia ini harus dihubungkan dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.
Manusia harus terikat dengan hubungan tersebut. Oleh karena itu, manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah dan wajib meyakini bahwa ia akan dihisab di hari kiamat nanti atas seluruh perbuatan yang dilakukannya di dunia.
Dua hal inilah yang akan menjadi pengawal hidup seorang muslim.
Pertama, kesadaran bahwa sebelum adanya kehidupan dunia dirinya diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah; Kedua, kesadaran bahwa setelah berakhirnya kehidupan dunia, dirinya akan dihisab di Hari Akhir kelak.
Kesadaran dan keyakinan terhadap Allah Swt. akan memotivasi dirinya beramal saleh dan beribadah sesuai tujuan penciptaan. Sedangkan kesadaran dan keyakinan akan Hari Akhir, akan membuatnya takut untuk bermaksiat karena harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di Hari Akhir.
Oleh karenanya, banyak hadis yang berkaitan dengan dua hal ini. Bahkan, pada amal-amal kecil pun harus dihubungkan dengan dua kesadaran tersebut, misalnya memuliakan tamu, memuliakan tetangga, dan berkata baik.
Perhatikan hadis-hadis berikut,
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari – Muslim)
“Barang siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau (kalau tidak bisa) diamlah.” (HR Bukhari)
Beruntunglah hidup seorang muslim. Kedua pengawal hidupnya tersebut akan mengiringinya dalam setiap tingkah lakunya, hingga akhir hayatnya. Di akhirat kelak, sang muslim akan berterima kasih kepada “kedua pengawal”-nya itu karena telah mengantarkannya ke janah yang penuh kenikmatan. [MNews]
Sumber: Madrasah Nabhani

