[Nafsiyah] Jangan Lewatkan Bulan Syakban

[Nafsiyah] Jangan Lewatkan Bulan Syakban

Penulis: Arief B. Iskandar*

#GembiraSambutRamadan

Muslimah News, NAFSIYAH — Tidak diragukan lagi, Ramadan memang bulan mulia. Namun demikian, Syakban sebagai bulan sebelum Ramadan juga tidak boleh dianggap sepele. Oleh karena itu, tidak selayaknya seorang muslim mengabaikannya.

Rasulullah saw. bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Syakban—bulan antara Rajab dan Ramadan—adalah bulan pada saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan).

Oleh karena itu, generasi salaf saleh banyak mengisi Bulan Syakban dengan banyak membaca Al-Qur’an. Pada bulan ini, mereka juga mengeluarkan zakat, termasuk banyak berinfak dan bersedekah. Tujuannya agar orang-orang fakir/miskin bisa punya bekal untuk menjalankan ibadah puasa pada Bulan Ramadan. tidak terlalu repot untuk mendapatkan makanan untuk sahur dan berbuka. (Lihat: Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 13/311).

Keistimewaan Syakban juga ada pada pertengahannya, yakni Nishfu Sya’ban. Diriwayatkan,

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Sungguh Allah memperhatikan hamba-Nya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Dia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antarsesama umat Islam).”

(HR Thabrani fi Al-Kabir no. 16639, Daruquthni fi Al-Nuzul 68, Ibnu Majah no. 1380, Ibnu Hibban no. 5757, Ibnu Abi Syaibah no. 150, Al-Baihaqi fi Syu’ab al-Iman no. 6352, dan Al-Bazzar fi Al-Musnad 2389).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadis yang menjelaskan ada beberapa keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendaifkan hadis-hadis tersebut. Ibnu Hibban menyahihkan sebagian hadis tersebut dan beliau masukkan dalam kitab Sahihnya.” (Ibnu Rajab, Lathaif al-Ma’arif, hlm. 245).

Oleh karena itulah, sebagian ulama mengisi Nishfu Sya’ban dengan ragam amal saleh.

Amalan Malam Nishfu Sya’ban

Amaliah malam Nishfu Sya’ban dilakukan pertama kali oleh para tabiin (generasi setelah sahabat Nabi) di Syam, Suriah, seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin ‘Amir, dan lainnya. Mereka mengagungkannya dan beribadah pada malam tersebut.

Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengambil keutamaan Nishfu Sya’ban. (Syekh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah II/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif, hlm. 151).

Alhasil, yuk kita isi Syakban, termasuk Nishfu Sya’ban, dengan ragam amal saleh. Antara lain dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengeluarkan zakat, memperbanyak infak dan sedekah untuk fakir/miskin, dll. Wa maa tawfiiqii illaa billaah ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib. [MNews/Gz]

*Khadim Ma’had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah

Sumber artikel: Channel Arief B. Iskandar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *