Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Kaum muslim di Portugal tergolong kelompok minoritas. Pada 2021, jumlahnya diketahui hanya 0,5% saja. Oleh karenanya, keberadaan muslim di sana sama sekali tidak berpengaruh. Bahkan, keberadaan mereka seperti ada dan tiada.
Namun, siapa nyana, pada masa lalu, kekuasaan politik Islam pernah lama berkuasa di Portugal. Hal ini sejalan dengan munculnya era kebangkitan Andalusia sebagai salah satu pusat peradaban Islam di wilayah Barat.

Al-Garb Al-Andalus
Sekira abad ke-8, tepatnya sejak 711 M, Islam memang sudah menjejak Andalusia. Wilayah ini terletak di Semenanjung Iberia yang meliputi kawasan Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar, dan sekitarnya.
Saat itu, Musa Bin Nushair, Gubernur Afrika Utara, mengutus pasukan Thariq bin Ziyad untuk membuka dakwah di sana. Musa sendiri adalah wali bagi Kekhalifahan Bani Umayyah pada era kekuasaan Walid bin Abdul Mulk pada 640—716 M.
Usaha dakwah Islam itu berjalan nyaris tanpa perlawanan dari bangsa Andalusia, termasuk bangsa Portugis, sebutan kebangsaan Portugal. Perlawanan sengit hanya datang dari penguasa Visighot (Gothic) yang sudah lama menjajah Iberia dengan zalim.
Bangsa Portugis sendiri—sebagaimana bangsa-bangsa di wilayah Andalusia lainnya—justru turut membantu pasukan muslim mengusir bangsa Visighot. Maka, sejak itu, masuklah wilayah Portugal ke dalam kekuasaan Islam bersamaan dengan wilayah Andalusia lainnya.
Penerapan Islam oleh penguasa muslim serta hadirnya bangsa Arab dan Moor menjadi wasilah dakwah yang sangat efektif. Pelan tetapi pasti, penduduk setempat pun menerima ajaran Islam sebagai agama mereka sendiri.
Pada 756 M, saat kekhalifahan beralih ke tangan Bani Abbasiyah, wilayah Andalusia menjadi satu-satunya pusat kekuatan Dinasti Umayyah yang berbentuk keamiran. Gubernurnya bernama Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik alias Abdurrahman ad-Dakhil yang melarikan diri dari Damaskus (pusat Khilafah saat itu).
Meski banyak tantangan, Abdurrahman Ad-Dakhil ini berhasil mengukuhkan kekuasaan politik di Andalusia. Sampai-sampai, beberapa kota di Andalusia, seperti Cordoba di Spanyol dan Silves di Portugal menjadi pusat peradaban Islam yang setara dengan pusat Khilafah yang saat itu sudah berpindah ke Baghdad.
Saat kekuasaan Khilafah di Baghdad runtuh dengan terbunuhnya khalifahal-Muqtadir pada tahun 929 M, Gubernur Andalusia Abdurrahman III mengisi kekosongan kepemimpinan itu dengan mengubah Emirat Andalusia menjadi pusat kekhalifahan umat Islam. Sejak saat itu, Andalusia berubah menjadi Kekhalifahan Bani Umayyah periode kedua (929—1031 M).
Pada masa itulah, wilayah Portugis mulai dikenal dengan nama khas, yakni Al-Garb Al-Andalus. Disebut demikian karena posisi Portugis ada di sebelah barat Andalusia. Nama ini kemudian menjadi nama salah satu kota di Portugal, yakni Kota Algarve.
Pengaruh Islam
Pengakuan tentang pengaruh Islam di Portugal diakui oleh para sejarawan Portugis sendiri. Saat peradaban Islam di Andalusia mengalami perkembangan pesat, termasuk ekonomi, ilmu pengetahuan dan budaya, bangsa Portugis pun merasakan dampak positifnya.
Semua ini tampak dalam berbagai bidang kehidupan, seperti bahasa, arsitektur, navigasi, dan sebagainya. Banyak bahasa Arab yang diserap menjadi bahasa Portugis. Revolusi pertanian juga terjadi karena perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Islam.
Begitu pun petualangan Vasco da Gama (1469—1524 M) yang terkenal pada era prakolonialisme, dipandang bisa berhasil karena ilmu navigasi yang dikembangkan oleh umat Islam.
Sedangkan bidang arsitektur tampak dari bangunan-bangunan masjid yang indah, serta benteng yang kokoh yang dihancurkan atau dialihfungsikan menjadi gereja setelah keberhasilan agenda Christian Reconquista of Iberia.
Salah satu peninggalan yang tersisa adalah bangunan gereja Katolik yang dulunya merupakan sebuah masjid yang beralih fungsi pasca-Era Reconquista. Bangunan ini terletak di Kota Mértola, Alentejo. Sisa menara masjid dan mihrabnya masih terpelihara.

Juga ada Masjid Loule dan Tavira Algarve yang beralih fungsi menjadi Gereja St. Clemente (bahasa Portugis: Igreja Matriz de São Clemente) dan Gereja Santa Maria do Castelo. Keduanya adalah gereja tertua dan terpenting di Loulé dan Tavira. Di seberang Gereja St. Clemente terdapat Jardim dos Amuados yang merupakan pemakaman muslim Arab tua.

Penghapusan Jejak
Reconquista ‘upaya merebut kembali’ menjadi proyek kolosal Kristen Eropa untuk menghapus jejak Islam di Andalusia. Proyek ini datang dari para penguasa zalim yang kehilangan pengaruh atas bangsa Andalusia, termasuk bangsa Portugis.
Proyek Reconquista ini berlangsung sangat lama. Ditandai dengan Pertempuran Covadonga pada 718 atau 722 M yang berakhir dengan kemenangan pasukan militer Kristen atas pasukan muslim.
Berikutnya, pertempuran demi pertempuran pun terjadi. Lalu, sedikit demi sedikit kawasan Andalusia berhasil direbut pasukan Kristen, termasuk kota penting Islam di Portugal.
Tepatnya pada 1142 M, Raja Alfonso Henriques bertempur melawan pasukan Islam. Ia dan pasukannya berhasil merebut benteng pertahanan yang dibangun penguasa muslim di Kota Lisbon, Portugal, lalu sejak itu menjadikannya sebagai kastel kerajaan yang dinamai St George Castle.

Pada akhir abad ke-11, proyek Reconquista ini mendapat legitimasi gereja dan spirit religiositas. Sampai-sampai atas nama agama, bangsa-bangsa Kristen di Iberia merasa harus bekerja sama melawan kekuasaan Islam dan menghapus jejak kepemimpinan mereka yang sangat gemilang.
Konon, Perang Salib yang berlangsung selama dua abad pun sangat terkait dengan proyek Reconquista ini. Meski satu sama lain kerap bertempur, tetapi bangsa-bangsa Kristen, seperti Prancis, Navara, Kastila, Portugal, dan Aragon menjadikan kepemimpinan Islam di Andalusia sebagai musuh bersama. Hingga di penghujung abad 15 benteng terakhir Islam di Granada Andalusia benar-benar runtuh.
Sejak saat itulah pembersihan jejak Islam berjalan masif di seluruh wilayah Iberia. Melalui lembaga inkuisisi, orang-orang Kristen dan Yahudi yang menjadi muslim disiksa dengan kejam. Orang Arab dan Moor diusir kecuali mau murtad menjadi Kristen. Di Portugal, lembaga inkuisisi pertama yang bernama Inquisição Portuguesa ini berdiri pada 1536 atas permintaan rajanya, John III.
Melalui kurikulum pendidikan, jejak sejarahnya pun dihapuskan. Kepemimpinan Islam disebut penjajahan, Reconquista disebut pembebasan. Sebagian masjid juga dihancurkan, sebagiannya lagi dialihfungsikan.
Kembali ke Fitrah
Hari ini, banyak sejarawan Barat yang berusaha mengungkap kebenaran. Dalam pandangan mereka, kekuasaan sebelum Islam sejatinya juga merupakan penaklukan. Bahkan, di bawah kekuasaan sebelum Islam, bangsa Andalusia hidup penuh tekanan dan penderitaan.
Mereka justru melihat kedatangan Islam membawa kebaikan. Nyaris lima abad kepemimpinan Islam telah membawa wilayah Andalusia, termasuk Portugal, dalam kegemilangan, serta menjadikannya sebagai pusat peradaban global.
Faktanya memang berbeda ketika mereka kembali dikuasai oleh kepemimpinan Kristen. Dunia justru jatuh dalam era kolonialisme yang menebar kesengsaraan. Bahkan kala itu, negara Spanyol dan Portugal justru mulai tampil sebagai negara penjajah, yang jejaknya ada di seluruh dunia, termasuk di nusantara.
Hingga hari ini, hanya sedikit jejak Islam di Portugal. Namun ternyata, penguasanya tidak mampu mencegah penerimaan masyarakat terhadap Islam. Bahkan, mereka pun akhirnya terbuka menerima kedatangan Islam, sekalipun memegang sekularisme sebagai asas kekuasaan.
Terbukti dari waktu ke waktu, jumlah muslim di Portugal terus bertambah. Pada 1991, Instituto Nacional de Estatística merilis data bahwa jumlah populasi muslim hanya 9.134 orang atau sekitar 0,1% dari total penduduk.
Akan tetapi, pada 2011, Komunitas Islam Lisbon merilis data jumlah muslim ada sekitar 40.000. Tidak heran jika Pew Forum On Religion and Public Life yang dilansir oleh The Guardian memperkirakan jumlah populasi muslim di Portugal berpotensi meningkat 25% pada dekade-dekade mendatang. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan muslim di Eropa, bahkan dunia yang kian hari kian meningkat.

Ini membuktikan bahwa Islam adalah agama fitrah. Bagaimanapun kuatnya usaha untuk menghalangi cahayanya, pasti akan berujung kegagalan. Pelan tetapi pasti, Islam akan kembali menaungi kehidupan umat manusia yang kini ada dalam kegelapan sistem kapitalisme global. [MNews/Gz]
