Meluruskan Makna Hadis ‘Taat kepada Pemimpin Zalim’

Meluruskan Makna Hadis ‘Taat kepada Pemimpin Zalim’

Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna

Muslimah News, SYARAH HADIS – Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ، قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟، قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ (رواه مسلم)

Artinya:

“Akan ada sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dan sunahku. Akan muncul pula orang yang hatinya adalah hati setan dalam wujud manusia.” Aku (Hudzaifah) bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?” Beliau menjawab, “(Hendaknya) kalian dengar dan taat kepada Amir, meskipun ia memukul punggung dan merampas hartamu, tetaplah dengar dan taat.”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan hadis ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadis ini dikeluarkan dalam Shahih Muslim no. 1849. Imam al-Daruquthni mengatakan, “Hadis ini mursal,” alasannya, “Abu Salam tidak mendengar dari Hudzaifah.” Namun, hadis ini diterima, karena ada jalur lain yang muttashil. Jalur tersebut menunjukkan riwayat mursal ini sahih dan boleh dijadikan hujah. Jalur yang dimaksud ialah riwayat sebelumnya dalam Shahih Muslim no. 1848, melalui Busr bin ‘Ubaidillaah al-Hadhrami dari Abu Idris al-Khaulani dari Hudzaifah radhiyyallahu ‘anhu.

Penjelasan Hadis

Kata “aimah” jamak dari “imam”. Dalam mu’jam al-ma’ani salah satu makna imam ialah Khalifah (الخليفة). Adapun “amir” ada dua: amir ‘am dan amir khas. Amir ‘am (الأمير العام) yakni kepala negara  (رئيس الدولة). Adapun amir khas (الأمير الخاص) meliputi pemimpin safar (الأمير السفر), pemimpin partai (الأمير الحزب), dan lain-lain.

Sedangkan amir ‘am sendiri bisa jadi Khalifah, atau kepala negara selain Khalifah, semisal raja (ملكا), presiden (رئيس جمهورية), atau pemimpin majelis revolusi (رئيس مجلس الثورة) yang menerapkan sistem selain Islam, dan lain-lain.

Apakah ungkapan (تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ) berlaku untuk kepala negara apa saja? Jawabnya tidak, karena:

(a) Jika berlaku untuk semua kepala negara, maka itu bentuk rida atas kepemimpinan dengan sistem selain Islam, dan ini melanggar nas qath’i yang mengharuskan akidah Islam sebagai dasar negara dan Islam sebagai sistem;

(b) Umara yang didengar dan ditaati adalah yang diangkat umat berdasarkan Kitab Allah (الذين يقودون الأمة بكتاب الله), ketetapan ini berdasarkan hadis: (إن أمر عليكم عبد مجدع اسود يقودكم بكتاب الله ، فاسمعوا له و اطيعوا) “Sekalipun yang memegang kekuasaan budak hitam, tapi ia memerintah dengan kitabullah, maka dengar dan patuhilah dia.” (HR Muslim).

Ada juga hadis semakna, yakni riwayat Imam Ahmad dan Imam al-Nasa’i;

(c) Bagi pemimpin yang tidak memerintah dengan kitabullah berlaku: (فلا نسمع له ولا نطيع – فيما أمر – فقط مما خالف فيه شرع الله) “Tidak didengar dan taat terhadap perkara yang menyelisihi syariat Allah.” Bila perselisihan menyentuh dasar dan sistem, maka wajib tidak rida dan mengubah keadaan dengan metode dakwah Nabi tanpa kekerasan, hingga dasar dan sistem yang diterapkan kembali berdasarkan Islam.

Ungkapan (يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ) sebagai isyarat akan ada (الإمام) yang zalim. Keadaan zalim itu ada beberapa kondisi:

(a) Sengketa (khusumat) antara (الإمام) dengan anggota masyarakat, semisal diambil harta tanpa alasan syar’i, dan lain-lain;

(b) Keputusan (الإمام) atas khusumat antar anggota masyarakat, misal ada indikasi ketidakadilan, dan lain-lain;

(c) Mengeluarkan perintah yang menurut (الإمام) sudah benar sementara menurut pihak yang diperintah adalah zalim. Atas indikasi ini harus dikembalikan kepada Mahkamah al-Mazhalim (محكمة المظلم) untuk diselesaikan dengan jalan syar’i.

Adapun ungkapan, (وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ) adalah perintah ini untuk “objek” yang berfaedah (للإستسلام) “berserah diri”: tunduk (الإنقياد) dan (ترك الخروج) tidak keluar dari jemaah kaum muslimin (الإمامة العظمى). Islam menetapkan ketaatan kepada pemimpin dalam sistem Islam sebagai perkara yang agung (امرا عظيما).

Penutup

Demikianlah penjelasan terhadap hadis di atas agar dipahami secara benar dan tidak disimpangkan maksudnya untuk melegitimasi kebijakan zalim pemerintah. Kalimat yang hak (muhasabah) kepada penguasa yang zalim adalah di antara jihad yang paling agung. Wallahualam. [MNews/Rgl]

Share

4 thoughts on “Meluruskan Makna Hadis ‘Taat kepada Pemimpin Zalim’”

  1. Benar sekali pesan Rasulullah, sekalipun zalim harus tetap dengar dan taat pada Amir (Khil4f4h)…karena apa yg terjadi sekarang, dipimpin sistem Kapitalis…ummat dipukul dimana2….

  2. Dilain sisi harus taat pada pemimpin yg zalim..sisi lain harus melawan kemungkaran dan kezaliman..bertolak belakang..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *