Syaima binti al-Harits, Saudara Sepersusuan Rasulullah ﷺ

Syaima binti al-Harits, Saudara Sepersusuan Rasulullah ﷺ

Syaima binti al-Harits merupakan saudara sepersusuan Rasulullah saw.. Kisah beliau memberikan pesan penting bahwa seorang anak membutuhkan sosok dan lingkungan yang tepat agar ia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, seperti Rasulullah dengan ibu susunya dan saudara sepersusuannya.


Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Semasa kecil Rasulullah ﷺ  memiliki banyak ibu susu. Di antara wanita beruntung yang menjadi ibu susunya ialah Halimah as-Sa’diyah. Halimah berasal dari Bani Sa’ad. Ia merupakan istri dari al-Harits bin Abdil Uzza yang dijuluki Abu Kabsyah.

Rasulullah kecil tinggal bersama keluarga Halimah, termasuk dengan anak-anak Halimah.  Salah satu anak Halimah yang memberikan perhatian besar pada Rasul bernama Syaima binti al-Harits. Bersama ibunya, Syaima juga ikut merawat dan mengasuh Rasulullah saat kecil.

Hari demi hari berlalu, ketika berusia lima tahun, Rasulullah memutuskan untuk meninggalkan rumah Halimah dan hidup bersama ibu kandungnya, Aminah. Berhentinya Halimah menjadi ibu susu Rasulullah membuat Syaima pun tidak lagi berjumpa dengan beliau.

Setelah puluhan tahun berlalu, Rasulullah akhirnya dipertemukan kembali dengan Syaima dalam sebuah peristiwa. Dikisahkan saat itu, pada tahun ke-8 Hijriah tepatnya sebulan setelah terjadinya Fathul Makkah, pasukan muslimin berhadapan dengan kaum Hawazin dalam pertempuran Hunain.

Pada pertempuran itu kaum muslimin yang Rasul pimpin  hampir mengalami kekalahan lantaran banyaknya pasukan yang melarikan diri karena dahsyatnya serangan maut dari kaum Hawazin dan Tsaqif.

Akan tetapi, teriakan Abbas yang menggema hingga ke dinding lembah terdengar oleh kaum muslim yang sedang terpojok karena gemuruh musuh. Mereka kemudian teringat pada Rasulullah tentang jihad mereka, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa kekalahan pertempuran ini akan membawa akibat kehancuran bagi kaum muslim. Akhirnya mereka kembali bergabung dalam pasukan, dan atas pertolongan Allah, perlahan demi perlahan pasukan Rasulullah mampu merangsek ke tengah medan.

Peperangan terasa makin memanas hingga membuat kaum Hawazin dan Tsaqif merasa yakin bahwa mereka berada di tengah-tengah kebinasaan maka tanpa membuang waktu, kaum Hawazin dan Tsaqif melarikan diri dalam keadaan kalah dengan meninggalkan harta benda yang kemudian menjadi harta rampasan perang (ganimah) kaum muslim. Selain itu, para wanita kaum Hawazin pun menjadi tawanan pasukan muslimin. Salah satu wanita yang jatuh sebagai tawanan pasukan muslimin, yakni Syaima, yang juga merupakan saudara sepersusuan Rasulullah.

Nasib tidak beruntung menimpa para wanita yang menjadi tawanan, mereka diperlakukan dengan keras dan kasar oleh para pasukan muslimin. Tidak terkecuali Syaima, saudara sepersusuan Rasulullah ini ikut merasakan hal yang sama ketika diarak menuju ke hadapan Rasulullah. Merasa diperlakukan dengan tidak manusiawi, Syaima kemudian memprotes dan mengatakan bahwa dirinya adalah saudara sepersusuan Nabi Muhammad ﷺ

“Aku ini saudara perempuan teman kalian (Rasulullah),” ucap Syaima.

Mendengar hal itu, para pasukan yang mendengar pernyataan Syaima pun tidak  percaya begitu saja. Mereka menganggap perkataan Syaima adalah siasat agar perempuan itu dapat diperlakukan dengan baik.

Setibanya di hadapan Rasulullah, Syaima kembali mengaku bahwa dirinya merupakan saudara sepersusuannya. Rasulullah pun tidak langsung mempercayai apa yang Syaima katakan. Beliau meminta bukti dari perkataan Syaima itu. Hal ini terjadi lantaran sudah lebih dari 50 tahun Rasulullah tidak bertemu dengan saudarinya, hingga ia tidak mengenalinya.

Syaima pun mulai meyakinkan Rasulullah dengan mencoba menggugah ingatan Nabi ﷺ dengan kenangan masa kecil mereka. “Ingatkah kau, Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu, kita bermain di dekat tenda, tenda keluarga kita Bani Sa’ad. Ketika kau naik ke punggungku dan menggigitku dengan gigitan kasih sayang?” ungkap Syaima.

Mendengar hal tersebut, seketika itu Rasulullah kembali mengingat masa kecilnya ketika ia hidup bersama keluarga Halimah. Rasulullah memang selalu mengingat segala perlakuan baik dan kenangan indah bersama Halimah dan keluarganya, termasuk dengan Syaima karena saat kacil Syaima  juga turut mengasuh Rasulullah.

Banyak hal yang pernah Syaima lakukan ketika mengasuh Rasulullah. Bahkan Syaima pernah melantunkan sebuah syair:

“Duhai Rabb kami, tetapkanlah Muhammad bersama kami hingga kulihat dia sebagai pemuda yang tumbuh dewasa lalu kulihat dia menjadi pemimpin yang begitu mulia. Kalahkanlah musuh-musuh dan orang yang dengki kepadanya serta limpahkan kemuliaan yang kekal selamanya.”

Ketika mengasuh Rasulullah, Syaima sering menggendongnya. Hingga suatu hari, Muhammad kecil menggigit punggung Syaima  hingga meninggalkan bekas.

Melihat bekas gigitan yang ada di punggung Syaima serta datangnya kepingan kenangan masa kecil bersama Syaima dalam ingatannya, membuat keraguan yang tadi menghinggapi hati Rasulullah perlahan-lahan menghilang. Hingga akhirnya beliau percaya bahwa sosok tawanan yang ada di hadapannya itu adalah saudara sepersusuannya dari Halimah.

Rasa haru sekaligus bahagia menyelami hati Rasulullah. Puluhan tahun telah berpisah akhirnya beliau kembali dipertemukan dengan saudarinya, tetapi dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Merasa menyakiti karena lupa pada Syaima, Rasulullah menyambut dan memperlakukan Syaima dengan penuh hormat. Beliau pun langsung membentangkan sorban yang dipakainya dan mempersilakan Syaima duduk di atasnya.

Dengan suara bergetar karena diliputi rasa haru, Rasulullah berkata kepadanya, “Kalau kamu ingin pulang ke kaummu, aku akan mengantarmu. Atau dengan penuh hormat, silakan kamu menetap di sini,” ucap Rasulullah.

Syaima  pun menjawab pertanyaan Rasulullah, “Tidak, saya ingin pulang ke kaumku.”

Rasulullah tidak menuntut banyak, ia pun menyetujui keputusan Syaima untuk kembali kepada kaumnya, namun sebelum itu, Syaima memutuskan untuk masuk ke dalam agama Islam.

Sebelum melepas saudarinya pulang, Rasulullah memberikan hadiah seekor unta dan empat orang budak untuk melayani Syaima.

Kisah Syaima memang jarang diketahui sebagian kaum muslimin. Semoga kisah saudari Rasulullah ini makin menambah kecintaan kita kepada Nabi ﷺdan  keluarganya, serta memberikan pesan penting bahwa seorang anak membutuhkan sosok dan lingkungan yang tepat agar ia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, seperti Rasulullah dengan ibu susunya dan saudara sepersusuannya. [MNews/Chs]

Sumber: muslimahdaily.com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *