[Nafsiyah] Meraih Keberkahan Ilmu

[Nafsiyah] Meraih Keberkahan Ilmu

Selayaknya seorang penuntut ilmu meniatkannya untuk mencari rida Allah Swt., mencari kehidupan akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan orang-orang bodoh, menghidupkan agama, dan melanggengkan Islam.


Muslimah News, NAFSIYAH — Sebelum kita mengulas bagaimana cara meraih keberkahan ilmu, penulis awali dengan memaknai kata ‘berkah’. Berkah menurut Imam al-Ghazali adalah ziyadah al-khair yakni bertambahnya nilai kebaikan. Salah satu tanda dari berkahnya ilmu ialah ilmu tersebut diamalkan dan bermanfaat untuk dirinya, juga orang lain, serta mendatangkan kebaikan.

Nasihat Imam al-Ghazali kepada para penuntut ilmu, “Meskipun engkau menuntut ilmu 100 tahun dan mengumpulkan (menghafalkan) 1.000 kitab, engkau tidak akan bersiap sedia mendapatkan rahmat Allah kecuali dengan mengamalkannya.” (Ayyuha al-Walad)

Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan diajarkan pula dalam lembaran-lembaran kitab suci itu bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya dan usahanya yang baik atau buruk tidak akan dihilangkan.” (QS Al-Najm: 39)

Firman Allah Swt., “Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-Furqan: 70)

Lalu, bagaimana cara meraih keberkahan ilmu? Keberkahan ilmu dimulai dengan niat yang lurus dan benar karena Allah Swt.. Imam Az-Zarnuji menyampaikan dalam kitab Ta’lim al-Mutallim Thariq al-Ta’allum, “Selayaknya seorang penuntut ilmu meniatkannya untuk mencari keridaan Allah Swt., mencari kehidupan akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan orang-orang bodoh, menghidupkan agama, dan melanggengkan Islam. Sebab, kelanggengan Islam itu harus dengan ilmu dan tidak sah dengan kezuhudan dan ketakwaan yang didasari atas kebodohan.”

Selain dimulai dengan niat, sikap penuntut ilmu dan orang tuanya terhadap ilmu dan orang yang mengajarkan ilmu tersebut, yakni guru. Az-Zarnuji berkata, “Ketahuilah, seorang murid tidak akan meraih ilmu dan tidak akan mendapatkan ilmu tang bermanfaat, kecuali ia mau mengagungkan ilmu, ahli ilmu, dan menghormati keagungan guru.”

Takzim atau hormat terhadap ustaz atau guru menjadi kunci kejayaan Islam. Pada kegemilangan peradaban Islam, para orang tua sangat antusias menyekolahkan anak-anak mereka kepada para guru (ulama).

Dalam kitab Fatih al-Qasthinthiniyah, Ash-Shalabi menjelaskan, suatu ketika guru Sultan Muhammad al-Fatih, yakni Syekh Aq Syamsuddin, masuk ke istana. Saat itu, al-Fatih sedang bermusyawarah dengan para pembesarnya.

Melihat kedatangan gurunya, ia bangun dan menyambut gurunya dengan penuh hormat. Kemudian ia berkata kepada salah seorang pejabatnya, “Perasaan hormatku kepada Syekh Aq Syamsuddin sangat mendalam. Apabila orang-orang lain berada di sisiku, tangan mereka akan bergetar. Sebaliknya, apabila aku melihatnya (Syek Aq Syamsuddin), tanganku yang bergetar.”

Kemudian, apa penyebab tidak berkahnya ilmu? Pertama, niatnya tidak ikhlas saat menuntut ilmu. Ia menuntut ilmu ingin mendapatkan pujian manusia dan menyombongkan ilmunya.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Tidaklah aku berusaha untuk memgobati sesuatu yang lebih berat yaitu meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak-balik.” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam, hlm. 18, Darul Aqidah, Kairo).

Kedua, menuntut ilmu hanya sebagai wawasan. Nasihat Abu Qilabah kepada Ayyub As Sakhtiyani, “Apabila kamu mendapatkan ilmu, maka munculkanlah keinginan ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 2/45, Muhammad Al-Maqdisy, Syamilah).

Ketiga, kurang beradab dalam menuntut ilmu. Misal, bercanda atau ribut dalam majelis ilmu, Terlambat datang ke majelis ilmu lalu duduk sambil menyandar tanpa uzur, dan lainnya. Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, ia pernah mengatakan, “Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah atau meruncingkan pena, dan tidak ada yang tersenyum.” (Siyaru A’lamin Nubala’, 17/161, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah).

Keempat, Jarang atau tidak pernah menghadiri majelis ilmu. Karena hendaknya ilmu itu didatangi, bukan mendatangi kita. Begitu yang disampaikan oleh ulama.

Kelima, tidak menuntut ilmu secara bertahap dan tidak istikamah.

Semestinya kita mengikuti nasihat Syekh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Janganlah mempelajari buku sedikit-sedikit, atau setiap cabang ilmu sepotong-sepotong kemudian meninggalkannya, karena ini membahayakan bagi penuntut ilmu dan menghabiskan waktunya tanpa faedah, maka ia tidak memperoleh kaidah-kaidah dan dasar-dasar.” (Kitabul ‘ilmi syekh ‘Utsaimin, hlm. 39, Darul Itqaan, Iskandariyah).

Terkhusus pula bagi pengemban dakwah, semestinya menambah ilmu untuk memudahkannya berinteraksi di tengah umat. Apalagi sebagai seorang muslim memiliki kewajiban menuntut ilmu agar ia memahami segala perintah Allah Swt. dan larangan-Nya, serta mengikuti dan mengamalkan sunah Rasulullah saw.. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *