[Nafsiyah] Murid Laksana Timba, Ilmu Seperti Sumur

[Nafsiyah] Murid Laksana Timba, Ilmu Seperti Sumur

Muslimah News, NAFSIYAH — Salah satu hal yang tidak ternilai dan paling nikmat saat menuntut ilmu ialah bisa bertatap muka langsung dengan guru (muwajaha). Sebagaimana dikatakan oleh para ulama, “Ilmu agama itu didatangi bukan ilmu yang mendatangi.”

Di kondisi pandemi, menghadiri majelis ilmu makin mudah via daring. Namun, jika tidak berhalangan dan berkesempatan mendatangi majelis ilmu, hal ini jauh lebih baik dan utama. Imam Malik merupakan salah satu yang mengamalkan kalimat, “Ilmu itu didatangi bukan mendatangi.”

Para khalifah pada masa Umayyah dan Abbasiyah mengutus anak-anak mereka untuk belajar dan mendatangi Imam Malik sebab Imam Malik menolak mendatangi istana. Aktivitas mendatangi para Khalifah hanya untuk menasihati agar berbuat baik dan menghindari perbuatan zalim.

Imam Malik pun mengatakan, “Murid itu laksana timba dan ilmu itu seperti sumur. Jadi timbalah yang harus mendatangi sumur.” Beliau pun berkata, “Setiap muslim yang diberikan ilmu dan fikih oleh Allah berhak untuk menemui orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintahkannya berbuat baik, melarangnya berbuat mungkar, dan menasihatinya.”

Kita semestinya sadar bahwa kita membutuhkan ilmu-ilmu yang ada pada para guru dan ulama. Hanya saja, ketika mereka telah memberikan waktunya untuk menghadiri majelis ilmu, kita justru tidak menghadirinya dengan berbagai alasan. Tidak jarang penulis temukan majelis-majelis ilmu sepi dari orang-orang yang menghadiri.

Sudah kurang pedulikah sebagian umat Islam atas ilmu agama? Atau terlalu banyak waktu yang harus diberikan untuk mencari dunia? Tidak sedikit mereka yang bekerja sejak pagi hingga bertemu pagi lagi untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya. Sementara ketika mendapatkan ujian kehidupan, ia menjadi manusia yang rapuh karena tidak memiliki ilmu agama guna menyelesaikannya.

Seharusnya menjadi perhatian kita bersama untuk menambah ilmu agama. Bagaimana mungkin hendak menuju surga tapi tidak tahu beramal seperti penduduk surga? Bagaimana mungkin bisa dikatakan bertakwa tapi tidak tahu syariat-Nya? Menuntut ilmu pun memiliki adab.

Berikut beberapa hal yang tidak boleh kita lakukan:

Pertama, terlambat datang dan tidak minta izin dahulu, tetapi kalau gurunya terlambat langsung dihubungi atau menanyakan via WA, “Ustaz, kajiannya jadi tidak?” Hal seperti ini yang dikatakan kurang adab pada guru.

Kedua, tidak mengabarkan pada guru atau meminta izin jika tidak bisa mendatangi majelis ilmu.

Ketiga, duduk selalu pada posisi di belakang dan sambil menyandar (tanpa uzur).

Keempat, ketika kajian berlangsung, sering membuka HP dan gawai tanpa ada keperluan.

Kelima, banyak bercanda, tertawa yang menyebabkan kebisingan dalam majelis ilmu.

Keenam, mencari ilmu hanya untuk mendapatkan kedudukan tinggi di masyarakat tanpa memperhatikan dan mencontoh adab dan akhlak gurunya. Ahmad bin Sinan pernah menjelaskan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, ia berkata, “Tidak ada seorang pun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorang pun yang berdiri, tidak ada seorang pun yang mengasah/meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.” (Siyaru A’lamin Nubala’, 17/116).

Bahkan, Imam Syafi’i perlahan-lahan membuka halaman kertas kitabnya agar tidak terdengar suaranya karena khawatir akan mengganggu gurunya yang sedang mengajarkan ilmu. Imam Syafi’i mengatakan, “Aku membuka halaman kertas di depan Imam Malik dengan sangat berhati-hati sehingga beliau tidak mendengar jatuhnya kertas itu.” (Al-Jami’ ash-Shagir bi asy-Syarh al-Munawi, 3/253).

Sepatutnya kita melakukan hal yang dicontohkan para ulama dalam adab menuntut ilmu. Mendatangi guru, mendatangi sumber ilmu. Jika guru bersedia mendatangi kita dalam majelis ilmu, berilah hormat pada mereka selama majelis berlangsung dengan melakukan adab yang baik.

Semoga kita mendapatkan keberkahan ilmu dari pengajaran guru-guru kita dengan senantiasa menjaga adab-adab kita pada mereka. Amin. [MNews/Rindy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *