BBM dan Gas Ganti Harga, Apakah Rakyat Bahagia?

BBM dan Gas Ganti Harga, Apakah Rakyat Bahagia?

Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq

Muslimah News, OPINI — Bahan bakar minyak (BBM) dan gas (LPG) naik, siapa yang tidak panik? Dua komoditas ini selalu menjadi momok jika mengalami pergantian harga. Alih-alih mengalami penurunan, justru lebih sering bertambah mahal.

Meskipun Pertamax Turbo (RON 98), Pertamina Dex (CN 53), Dexlite (CN 51), dan gas nonsubsidi yang naik, kabar ini tetap membuat dilema di masyarakat. Mengapa masalah seperti ini tidak kunjung berhenti dan bagaimana pandangan Islam?

Di Balik Kenaikan BBM

Sejatinya, kenaikan harga BBM dan gas tidak luput dari pengaruh dunia internasional. Sesuai peraturan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM 62/K/12/MEM/2020, harga jenis bahan bakar umum (JBU) akan terus mengalami penyesuaian mengikuti tren pasar internasional. Jika harga minyak dunia naik, minyak di dalam negeri pun ikut-ikutan (Tempo, 11/06/2022).

Meski demikian, hal yang cukup aneh telah terjadi. Harga minyak dunia dalam tiga bulan terakhir ini justru mengalami penurunan. Pertama kalinya harga minyak dunia berada di bawah US$100 per barel. Nilainya turun hingga US$99,49 per barel pada 11 April lalu (CNN Indonesia, 13/06/2022). Kenyataan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM dan gas tidak hanya terpengaruh oleh harga minyak dunia.

Bisa jadi, kebijakan kenaikan BBM dan gas ini adalah langkah awal sebelum ada pengurangan subsidi, bahkan pertanda lampu kuning penghapusan subsidi. Sebagaimana terjadi di Pakistan yang berangsur-angsur mengurangi subsidi bensin untuk menghidupkan kembali pinjaman US$6 miliar dari IMF pada Mei 2022. (IDNTimes, 15/05/2022).

Satu Naik, Semua Panik

Jumlah konsumen BBM dan gas nonsubsidi memang masih kecil. Konsumsi BBM nonsubsidi sekitar 5% dan gas nonsubsidi juga berkisar 6%. Meski begitu, mustahil menyatakan kenaikan ini tidak memengaruhi rakyat pada umumnya.

Harga BBM atau gas yang cenderung naik ini akan mendorong masyarakat yang biasa memakainya beralih ke produk paling murah. Semua itu akan dilakukan untuk menghemat pengeluaran. Apalagi saat ini seluruh kebutuhan pokok ganti harga juga.

Di sisi lain, fakta di lapangan menunjukkan adanya pembatasan konsumsi BBM subsidi, baik secara jumlah maupun cara pembelian. Hingga akhirnya, jika kehabisan, masyarakat akan diarahkan membeli BBM nonsubsidi. Masalah seperti ini tentu membuat orang menjadi susah dan makin panik.

Belum lagi jika muncul masalah turunan, seperti bahan bakar oplosan yang membahayakan, kemungkinan terjadinya penimbunan, hingga berujung naiknya BBM dan gas subsidi. Semua itu tentu akan menambah ruwet masalah rakyat saja.

Dalam Dekapan Kapitalisme

Kenaikan harga yang mengikuti tren dunia ini tidak lepas dari perjanjian yang dilakukan Indonesia. Dengan mengikuti pasar global, mau tidak mau negeri ini harus menuruti situasi yang sudah ditentukan. Jadi, jika harga komoditas naik di dunia internasional, Indonesia juga harus menaikkan.

Kenaikan harga minyak sendiri tidak lepas dari permainan perdagangan negara yang masuk pada Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Mereka bisa saja menurunkan harga minyak dengan menambah pasokan, tetapi itu tidak dilakukan karena salah satu negara yang berpengaruh (Rusia) tidak menginginkannya. Semua karena masalah keuntungan.

Namun, pada akhirnya, OPEC pun harus bertekuk lutut kepada AS, negara adidaya pengemban kapitalisme. Saat ini setiap transaksi di dunia internasional harus memakai dolar AS. Mau tidak mau, negara yang memiliki mata uang berbeda harus menukar uangnya dengan dolar terlebih dahulu. Ini mengakibatkan dolar menguat dan penguatan ini pun menyebabkan harga minyak dunia turun.

Melihat hal ini, Indonesia—salah satu negara pengimpor bahan baku minyak—tidak bisa berbuat apa-apa. Negara ini tampak hanya sebagai peran pembantu tanpa mampu menjadi pemain utama. Perjanjian-perjanjian yang menguntungkan setan kapitalis tidak bisa ditangkal. Apalagi jika sudah bicara masalah keuangan yang telanjur masuk jerat riba, tidak bisa berkutik barang setitik.

Minyak dan Gas dalam Islam

Minyak dan gas merupakan kebutuhan pokok rakyat. Islam tidak akan membiarkan kedua komoditas itu “mencekik” masyarakat. Pemimpin ibarat pelayan rakyat, maka Islam mewajibkan mereka mengurusi seluruh kebutuhan rakyatnya, bukan malah mencari untung demi kepentingan penguasa dan pengusaha.

Islam juga melarang pemimpin melakukan kesepakatan dengan negara kafir (yang jelas memusuhi Islam) atau kesepakatan yang justru menjerumuskannya pada kezaliman kepada rakyat. Itulah sebabnya, Islam tidak akan membenarkan perjanjian pasar global seperti saat ini.

BBM dan gas adalah milik rakyat yang termaktub dalam hadis, “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Oleh karenanya, negara tidak boleh semata mengambil keuntungan atas pengelolaannya. Rakyat cukup mengganti biaya produksi komoditas tersebut untuk memperolehnya sehingga harganya akan tetap murah. Kalaupun mengambil sedikit untung, akan dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat juga.

Khatimah

Selama negeri ini masih berkiblat pada kapitalisme dan mengambil segala kebijakan Barat sebagai keputusannya, masyarakat tidak akan pernah bahagia. Rakyat akan terus tertindas dan tersakiti karena dasar penentuan kebijakan adalah keuntungan saja. Jadi, jika ingin rakyat bahagia, hanya Islam yang dapat menjaminnya. Wallahualam. [MNews/Has]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *